Dawet Telasih Pasar Gede…Maknyus

Suasana di warung dawet telasih Bu Dermi

Suasana di warung dawet telasih Bu Dermi

Kuliner Kota Solo sangat khas. Amati saja sejumlah tempat kuliner yang jadi ikon Kota Bengawan. Sebagian penjualnya tak menempatkan kenyaman pengunjung sebagai prioritas. Pembeli kadang harus makan sambil berdiri atau antre berdesak-desakan untuk menikmati kuliner incaran mereka. Yang menarik, kuliner-kuliner tersebut nyaris tak pernah sepi dari pengunjung. Mungkin antre dan desak-desakan itu sensasinya.

Salah satu contohnya adalah penjual dawet telasih di Pasar Gede, Solo. Minuman ini jadi favorit saya jika cuaca Solo sedang panas menyengat. Apalagi di sekitar penjual dawet itu juga bertebaran jajanan pasar yang menggugah selera. Siapa yang tak tergoda coba? Penjual dawet telasih di pasar berarsitektur indah yang dibangun pada 1930 itu ada beberapa orang. Tapi yang paling legendaris adalah warung milik Bu Dermi. Dawet selasih Bu Dermi sudah berumur tiga generasi. Tak heran, dawetnya yang paling diincar, terutama oleh wisatawan dari luar Solo.

Apa yang membedakan dawet telasih dengan dawet lainnya? Tentu saja rasanya dan isinya yang lebih kaya dibanding dawet-dawet lain. Dawet telasih disajikan di mangkuk kecil yang isinya mungkin langsung habis disantap hanya dalam tempo lima menit. Isinya terdiri atas bubur sumsum, bubur ketan hitam, tape ketan, cendol dan biji telasih, kadang ditambah nangka.

Dawet Bu Dermi

Dawet Bu Dermi

Penjual di warung Bu Dermi

Penjual di warung Bu Dermi

Bahan dawet

Bahan dawet

Dawet Bu Dermi sejak dulu bertahan tidak menggunakan bahan pengawet. Semua bahan alamiah, alias sangat sehat. Warna hijau cendol menggunakan pewarna alami, berupa perasan daun suji. Sedangkan gula cairnya juga asli, bukan pemanis, plus santan yang gurih. Penampakan dawet selasih berbeda dengan dawet-dawet lain. Warnanya dominan putih. Rasanya? Hmm…sedap juara. Segar dan gurih. Tape ketan membuat cita rasa dawet ada rasa asam-manis. Bubur sumsumnya gurih dan lembut di lidah. Sedangkan rasa manisnya sangat alami, karena gula cairnya asli. Telasihnya juga nikmat di lidah.

Namun, jangan berharap bisa menikmati dawet Bu Darmi dengan nyaman. Tempat berjualan Bu Darmi jauh dari standar kenyamanan. Sangat kecil dan sempit. Hanya disediakan dua bangku panjang di sisi depan dan samping meja. Itu pun paling hanya bisa menampung enam orang. Pembeli lainnya mau tak mau harus menyantap dawet sambil berdiri di lorong pasang yang sempit. Tapi sepertinya mereka tidak keberatan. Mungkin itulah “bumbu penyedapnya”.

Seperti yang dialami seorang pembeli yang mengaku berasal dari Jakarta. Dia mengaku sudah berkali-kali datang ke Solo, tapi baru sekali itu berkesempatan mencicipi dawet telasih Pasar Gede. ”Pernah lihat dawet ini di acara kuliner televisi. Jadi penasaran. Sudah berkali-kali ke Solo, tapi baru kali ini mampir,” kisah pria yang datang bersama lima temannya itu. Nasib pria asal Jakarta itu kurang mujur siang itu. Dia tak kebagian tempat duduk, jadi harus menikmati dawet sambil berdiri.

Dawet telasih bu siswo Pasar Gede

Dawet telasih bu siswo Pasar Gede

Bu Siswo

Bu Siswo

Penasaran mencicipi dawet ini? Silakan datang ke Pasar Gede. Jam buka para penjual dawet ini dari pagi hingga sore sekitar pukul 15.00 WIB. Dawet telasih Bu Dermi saat ini dibanderol Rp7.000 per mangkok. Agak mahal untuk ukuran di Solo. Tapi worth it kok. Ada juga penjual dawet telasih yang lain, salah satunya Bu Siswo. Di sana semangkuk dawet dibanderol lebih murah, hanya Rp5.000. Selamat mencoba.

 

Solo, 16 Mei 2014

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

12 Responses to Dawet Telasih Pasar Gede…Maknyus

  1. Halim Santoso says:

    Rasa dawet Bu Dermi dari dulu nggak berubah sama sekali, salut ama generasi penerusnya. Deket dari rumah, beli tinggal nyebrang, meski udah naik harga berkali-kali tapi tetep ngangeni hehehe

  2. chris13jkt says:

    Wah dawet Bu Dermi ini makin terkenal saja ya Yus. Syukurlah kalau sampai sekarang masih bertahan dengan tetap mempergunakan pewarna alami seperti jaman dahulu.

  3. Ah, udah berkali-kali bolak-balik Solo tapi belum icip kuliner ini. Maklum urusan bisnis hihihi.

    Padahal dawet minuman khas Indonesia yang gue suka banget tuh❤

  4. Ari Azhari says:

    Dawet dengan isi segitu mah kalau di Medan udah murah banget. Coba tolong dikirim ya :p

  5. Ceritaeka says:

    Aaaaaa jadi kangen makann es dawet ini. Dulu sama Halim San perginyaaa

  6. dee nicole says:

    ameh poso moco iki… -.-‘ marai pengen mulih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: