Seperti Deja Vu

Malam yang kacau di Kuala Lumpur demi Menara Kembar Petronas

Malam yang kacau di Kuala Lumpur demi Menara Kembar Petronas

Saya selalu hilang akal setiap disodori pertanyaan ini. “Kalau ke Kuala Lumpur, tempat yang recommended dikunjungi apa saja ya Mei?” Biasanya jawaban saya dua macam, antara senyum-senyum tanpa dosa atau seolah berpikir sebentar, lalu bilang tidak tahu. Bukannya emoh menjawab, tapi memang bener-bener enggak tahu.

Jadi begini ceritanya. Saya memang baru dua kali ke Kuala Lumpur, itu pun cuma transit semalam. Saking mepetnya, tak ada kesempatan menikmati siraman cahaya matahari siang di kota utama Malaysia itu. Kuala Lumpur selalu jadi persinggahan terakhir dari perjalanan cukup panjang. Bisa dibayangkan bagaimana kondisinya saat di Kuala Lumpur kan? Uang saku sudah menipis, energi tinggal ampasnya, dan kulit sudah kusam menyedihkan. Kesan saya terhadap Kuala Lumpur bisa dirangkum singkat dalam tiga kata. Petronas, KL Central dan untel-untelan di hotel!

Saya kali pertama menyambangi KL pada April 2012. Kuala Lumpur menjadi destinasi terakhir setelah saya dan empat teman (Mbak Astrid, Mbak Antin, Liz dan Bulu) traveling overland Thailand dari Hat Yai sampai Chiang Rai, trus balik lagi ke Bangkok. Dari Bangkok kami pulang melalui LCCT Malaysia (yang sekarang sudah almarhum), sebelum berpisah pulang ke kota masing-masing. Bulu dan Liz lanjut ke Jakarta, sedangkan saya, Mbak Astrid, dan Mbak Antin balik ke Solo. Tahu sendiri di ujung perjalanan seperti itu semangat sudah mengendor dan amunisi pun menipis. Uang saku tinggal seadanya, gara-gara kalap belanja di Thailand. Hehe.

Kami tiba di LCCT sudah agak sore, jam berapa saya lupa. Semua barang bawaan, kecuali barang-barang penting dan selembar baju ganti, kami titipkan di loker bandara. Kami bergegas mencari bus tujuan KL Central agar tak kemalaman tiba di KL. Misi kami sebenarnya cuma satu: foto di menara kembar Petronas. Mainstream banget kan? Maklum saya, Liz dan Bulu belum pernah sekali pun foto di landmark Malaysia itu.

Sesampai di KL Central kami langsung menuju stasiun monorail. Langit Kuala Lumpur sudah gelap, malam telah menjelang. Sekitar pukul 20.00 waktu setempat kami turun di stasiun monorail Bukit Nanas, kemudian bergegas berjalan kaki menuju kawasan menara Petronas. Kami memang tak ingin berlama-lama di sana. Saat itu masih bingung apakah akan menginap di Kuala Lumpur atau di bandara, mengingat kami harus mengejar penerbangan pagi keesokan harinya. Kalau kesiangan kan bisa berabe.

Wajah kami malam itu sulit dilukiskan dengan kata-kata. Perpaduan kucel dan kusam. Mandi? Mana sempat. Tapi tetap saja kami excited foto-foto dengan latar Menara Petronas yang bersinar benderang. Lapar pun kami abaikan. Sekitar 1,5 jam kemudian, kami memutuskan balik, kembali naik monorail dari Bukit Nanas. Tiba di stasiun dekat KL Central kami kembali galau, mau menginap atau langsung ke bandara. Dengan berbagai pertimbangan, terutama badan yang menagih istirahat, kami memutuskan mencari penginapan di dekat KL Central. Tentu saja supaya besok pagi tak perlu repot mencari bus ke Bandara LCCT. Yang jadi masalah, amunisi ringgit Malaysia kami sudah menipis. Mau tukar juga malas malam-malam begini. Solusinya harus cari hotel yang murah.

Setelah celingak-celinguk, pandangan kami tertumbuk pada sebuah hotel sederhana yang sepertinya masih baru, namanya lupa. Mungkin hotel ini cocok. Seorang pria muda tampak duduk tenang di belakang meja resepsionis saat kami masuk ke lobi. Tanpa basa-basi kami mengutarakan niat: mencari kamar kosong, murah, dan bisa dipakai berlima!. Ngapain harus buka dua kamar kalau besok pagi jam 05.30 kami sudah cabut?

Mas resepsionis sepertinya syok dengan permintaan kami. Dia bilang ada kamar kosong, tapi tidak boleh dipakai berlima. Itu melanggar peraturan hotel. Duh, bagaimana ini. Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu saya dan mas resepsionis malah membahas laga el clasico antara Real Madrid kontra Barcelona yang akan berlangsung pada malam itu. Obrolan pun melebar kemana-mana. Saya kemudian mengajukan sebuah pertanyaan. ”Tahu Bambang Pamungkas kan mas (iya saya bilang mas)? Pemain bola Indonesia yang pernah main di Selangor FC.” Taraaa. Ternyata nama Bambang Pamungkas alias Bepe mengubah peruntungan kami malam itu.

Mas resepsionis tersebut kenal Bepe! Dia pernah merumput di Selangor FC bersama Bepe. Wah kebetulan banget. Kami pun bercerita ngalor-ngidul tentang kiprah Bepe selama bermain di Liga Malaysia. Bisa ditebak, diplomasi sepak bola itu membuat urusan menjadi lancar. Kami mendapat kamar dengan harga miring, boleh dipakai berlima, dan mendapat extra bed, dengan membayar sedikit tambahan.

Tiba di kamar kami langsung tertawa lepas, menertawakan kebodohan dan kesialan kami malam itu. Tidur untel-untelan di kamar asyik juga. Tak sampai lima jam kemudian, kami sudah meninggalkan hotel, mencari bus menuju bandara. Ngenes, tapi seru.

Kuala Lumpur. Kunjungan pertama. Foto minus Mbak Antin

Kuala Lumpur. Kunjungan pertama. Foto minus Mbak Antin

Menunggu monorail

Menunggu monorail

IMG_0502

Di monorail

Enam bulan kemudian, saya seperti mengalami deja vu. Untuk kali kedua mampir lagi ke Kuala Lumpur, tapi dengan pasukan berbeda. Ada saya, Krisna, Aning, Akbar dan ayah Aning. Kuala Lumpur menjadi penutup trip setelah mengeksplor Malaka dan dua kota di Vietnam Tengah, Da Nang dan Hoi An. Petronas harus kembali disambangi karena Krisna, Akbar, dan ayah Aning belum pernah ke sana. Baiklah, kali ini pun dengan estimasi waktu yang sempit seperti trip April lalu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 19.30 ketika bus yang kami tumpangi bergerak meninggalkan Bandara LCCT.

Rute kami adalah Bandara LCCT, bus menuju KL Central dan naik monorail. Tapi bukannya turun di stasiun Bukit Nanas, kami malah turun di stasiun Bukit Bintang! Kebayang kan jauhnya jalan kaki dari Bukit Bintang menuju Menara Petronas. Belum lagi beratnya beban di punggung karena kami tak menitipkan tas ransel di bandara. Eh, seolah belum cukup sial, hujan pun mulai turun ketika kami sampai di depan Menara Kembar Petronas. Kami terpaksa berfoto-foto sekadarnya. Yang penting ada latar Menara Kembar Petronas di belakangnya.

Nah, perjalanan kacau malam itu masih berlanjut. Kami kembali jalan kaki menuju Bukit Bintang. Niatnya antara mencari penginapan atau makan. Tapi karena perut sudah menjerit pilu, restoran cepat saji jadi pilihan. Badan rasanya sudah tak karuan, capai, lapar plus mulai ngantuk. Selesai mengisi perut, kami memutuskan naik taksi menuju KL Central. Mau cari-cari penginapan yang di dekat sana saja demi memudahkan mengejar bus super pagi menuju bandara LCCT. Saya mengincar penginapan yang dulu, yang menoleransi kamar diisi lima orang.

Sayang sungguh sayang, kamar dengan harga yang kami inginkan habis. Tinggal tersisa kamar dengan tarif yang tak pas di kantong. Sebenarnya mas resepsionisnya masih sama dengan yang dulu, mantan pemain Selangor FC yang kenal Bambang Pamungkas. Tapi sepertinya dia sudah melupakan saya (ya iyalah). Berhubung kamar bertarif miring sudah habis, saya tak berminat berbasa-basi lagi. Terpaksa harus cari penginapan lain.

Saya, Krisna, dan Akbar akhirnya muter-muter di seputaran kawasan itu untuk cari hotel. Setelah mencoba ke beberapa hotel, ketemu juga apa yang kami cari. Harga miring dan boleh diisi lima orang, dengan jaminan pagi-pagi benar sudah cabut. Hotel Joy Inn namanya. Kamar-kamar berada di lantai atas, sedangkan lantai dasar difungsikan sebagai minimarket. Tapi, kali ini kami tak dapat kasur ekstra.

Mau tak mau kami harus tidur untel-untelan lagi. Persis kejadian enam bulan sebelumnya, hanya beda formasi. Bedanya kali ini kami harus menggelar selimut di lantai untuk berbaring. Tak mungkin kan tidur berlima di satu kasur besar? Hehe. Lagi-lagi kami cuma bisa menertawakan petualangan malam itu. Saking rempongnya, saya sampai tak banyak memotret selama di Kuala Lumpur. Kamera nangkring manis di tas. Tapi itulah serunya perjalanan. Kejadian konyol pun bisa jadi cerita yang akan selalu dikenang. Apalagi jika kekonyolan itu dialami bersama sahabat-sahabat tercinta.

 

Kuala Lumpur, April dan Oktober 2012

 

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

32 Responses to Seperti Deja Vu

  1. chris13jkt says:

    Apapaun kondisinya, kalau jalan bareng teman yang cocok pasti asyik aja ya Yus 🙂

  2. Fascha says:

    Hihihi mw coba peruntungan lg dgn nama Bepe … Ati2 dimintain royalti tuh 😁

  3. Hahaha… ini toh yang diceritain soal rame-rame ngamar di KL.. Seru banget! kebayang paginya gedubrakan lagi mau pulang…

  4. Wkwkkk,.. lucuu mba yus, tapi seruu bangett😀
    saya dasarnya suka traveling atau mbolang gitu, tapi apa daya,.. suami nggak terlalu suka

  5. nyonyasepatu says:

    kalo pergi rame2 gini yang penting kumpul2nya yaaaa kan

  6. kalo transit singapur kabar2in mbak , ikutan mbolang xixiixixixi

  7. Hahaha. Nanti kalau ditanya lagi tempat recommended di KL, bilang aja KL Tower, Dataran Merdeka, Lake Gardens (Taman Tasik Perdana), sama Batu Caves😀

  8. Dian Rustya says:

    Ah! KL …
    #membukamemorilama

    • yusmei says:

      Ihiiiir, memori apa tuh mbak?

      • Dian Rustya says:

        memori aku sama temen2ku menggila bermasa di pasar seni mbak.
        Badan sudah pegel2 karena seharian kluyuran, trus malam itu kami masih sempat ke Pasar seni sblm capcus ke bandara.
        Pas lagi ada hiburan tarian, kami rame2 gabung di tengah jalan, ikut nari (padahal penonton lain ga ada yg ikutan, tapi akhirnya banyak yg ikut nari juga)

      • yusmei says:

        Seeruu mbak, tapi memang harus gitu ya, namanya liburan, harus total hihi. Ayo kapan kita jalan bareng trus gila2-an🙂

  9. Alid Abdul says:

    Eh buset bisa dapat miring gara2 Bepe hahahaha…. ah klo saya mending ngemper di bandara aja sih klo cuma bbeberapa jam😀

  10. Mike says:

    hahaha yang penting kan asik mbak😀

  11. db-tip says:

    enak ya jalan2 terus, mau.
    BW db-tip.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: