Wajah Baru Museum Radya Pustaka

Museum Radya Pustaka

Museum Radya Pustaka Solo

Status Radya Pustaka sebagai museum tertua di Indonesia tak banyak diketahui orang. Nama museum ini justru moncer dengan cara kontroversial. Kasus pencurian dan pemalsuan arca milik Radya Pustaka pada tahun 2007 membuat masyarakat terhenyak. Kini, Museum Radya Pustaka mulai berbenah dan mengisyaratkan ingin mengikis ingatan suram yang mengiringi sejarah mereka.

Suasana museum Radya Pustaka siang itu lumayan lengang. Museum mungkin bukan tempat favorit di masa-masa libur Lebaran. Tak apalah, saya malah jadi lebih leluasa mengeksplor koleksi-koleksi museum tanpa harus berebut ruang dengan pengunjung lainnya. Ini adalah kunjungan pertama saya setelah Radya Pustaka rampung direnovasi pada pertengahan April lalu.

Di pintu masuk museum, saya dan Mbak Retno, berjumpa Ketua Komite Museum Radya Pustaka, Purnomo Subagyo alias Pak Pur. Sudah lama kami tak bersua, namun beliau tak banyak berubah. Sebelum menjadi ketua komite museum, Pak Pur yang merupakan pensiunan PNS ini pernah menjabat sebagai Kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Solo. Kami bertukar salam sejenak, lalu saya dan mbak Retno masuk ke museum. Seperti biasa, saya minta didampingi guide. Untunglah salah satu guide Radyapustaka, Mas Fajar, bersedia menemani meski sebenarnya dia sedang libur.

Melewati pintu masuk kami langsung disambut sebuah patung setengah badan. Itu adalah patung Kanjeng Adipati Sosrodiningrat IV, Pepatih Dalem pada masa pemerintahan Paku Buwono IX dan Paku Buwono X. Ide mendirikan Radyapustaka muncul dari Paku Buwono IX dan Sosrodiningrat IV. Mereka ingin mendirikan lembaga riset ilmu pengetahuan dan kebudayaan, yang sekaligus berfungsi sebagai ruang pajang koleksi masterpiece dari berbagai pelosok Nusantara. Kemudian didirikanlah Paheman Radya Pustaka di rumah patih Sosrodininggrat IV di Ndalem Kepatihan pada 28 Oktober 1890.

Patung Sosrodinigrat IV

Patung Sosrodinigrat IV

“Dulu sebelum rumah beliau diubah jadi tempat memajang koleksi, tak ada yang berani masuk ke sana. Jangankan masuk, lewat di depan rumah beliau saja tidak berani,” urai Mas Fajar mengawali tur singkat museum siang itu.

Lembaga riset tersebut berkembang pesat dan memiliki ribuan koleksi penting, mulai wayang, keris, arca kuno, hingga naskah kuno. Paheman Radya Pustaka tak mampu lagi menampung koleksi tersebut. Pada era Paku Buwono X, tepatnya 1 Januari 1913, Paheman Radya Pustaka dipindah ke Loji Kadipala Sriwedari, yang dibeli Paku Buwono X dari bangsawan Belanda, Johanes Busselaar. Bangunan tersebut adalah lokasi Museum Radya Pustaka yang bertahan hingga sekarang, di Jl. Slamet Riyadi Solo.

Mas Fajar kemudian mengajak kami mengamati satu persatu koleksi museum. Yang pertama adalah koleksi topeng yang mayoritas usianya belum terlalu tua. Topeng-topeng tersebut visualnya menggambarkan karakter masing-masing tokoh. Kemudian kami juga ditunjukkan koleksi enam buah wayang Nang dari Kamboja yang bercerita tentang kisah Ramayana dan Mahabharata. Wayang-wayang tersebut merupakan suvenir dari negeri Kamboja untuk keraton.

Patung dengan berbagai karakter

Patung dengan berbagai karakter

wayang nang

Wayang Nang dari Kamboja

Beranjak ke koleksi pedang. Banyak pedang yang dipajang, namun Mas Fajar membawa kami ke sebuah pedang yang dianggap istimewa. Pedang Amangkurat. Pedang itu dipajang terbuka, alias dilepas dari sarungnya. Mas Fajar menceritakan dahulu pedang tersebut selalu tersimpan dalam sarungnya. Setahun lalu saat dibuka untuk perawatan, pedang itu ternyata sangat bersih, malah ada airnya. “Ada cerita juga pedang ini pernah direbut penjajah. Kemudian berhasil direbut lagi oleh seorang abdi dalem yang sangat setia. Konon abdi dalem itu sampai sekarang masih ’menjaga’ pedang ini. Ada anak-anak indigo yang pernah berkunjung ke museum ini bisa melihatnya. Padahal saat itu saya belum cerita apa-apa.” Saya pun langsung merinding.

Mas Fajar menceritakan kisah Pedang Amangkurat

Mas Fajar menceritakan kisah Pedang Amangkurat

Mas Fajar juga memperlihatkan piala porselen hadiah dari Napoleon Bonaparte untuk Susuhunan Paku Buwono IV. Setiap pelancong biasanya memberi upeti untuk keraton, sebagai tanda kerja sama dan tentunya sebagai kenang-kenangan. Hal itu jadi tradisi di Indonesia sampai sekarang, meskipun dengan cara yang sedikit berbeda. Koleksi menarik lainnya adalah tombak pancasola, yang konon pernah ditawar kolektor dan akan dibarter dengan satu unit Honda Jazz. Permintaan itu tentu saja ditolak. Tombak sejenis itu sekarang sangat sulit ditemukan.

Nah, highlight dari koleksi Radya Pustaka adalah ruangan pamer arca perunggu dari zaman Hindu dan Buddha. Ruangan yang dulu menjadi salah satu sumber kehebohan tujuh tahun silam. Banyak koleksi di ruangan ini ditempeli tulisan replika, tanda barang yang dipajang tak asli. Salah satunya Arca Avalokiteswara, yang konon hanya ada dua di dunia, sekarang yang di Solo hanya tinggal replikanya. Yang asli entah hilang kemana. Mas Fajar menceritakan ruangan arca perunggu dulu tertutup untuk umum. Namun sejak skandal pada 2007, ruangan itu kini dibuka seluas-luasnya. “Untuk arca yang tidak ditempeli tulisan replika, saya tidak bisa memastikan apakah itu asli atau bukan. Perlu penelitian yang mendalam. Tapi yang sudah ditempeli tulisan replika, sudah pasti bukan asli,” kisah Mas Fajar.

Menurut Mas Fajar, peristiwa pada 2007 benar-benar mengubah wajah Radya Pustaka. Banyak orang akhirnya kerap memandang sebelah mata terhadap koleksi-koleksi Radya Pustaka. Kebanyakan meragukan keasliannya. Sikap yang tidak bisa disalahkan. Bagi pengelola museum, pandangan skeptis itu adalah tantangan besar yang harus ditaklukkan.

Arca Perunggu Avalokiteswara

Arca Perunggu Avalokiteswara

Arca perunggu

Arca perunggu

arca perunggu 3Cerita tujuh tahun silam sangat pahit. Museum Radya Pustaka populer akibat kasus pencurian dan pemalsuan benda-benda koleksi museum. Dari pengumpulan data diketahui ada 11 koleksi museum yang dipalsukan, meliputi delapan arca peninggalan sekitar Abad IV-X Masehi, nampan besar dari keramik, genta atau lampu gantung dari perunggu, dan tatakan buah dari kristal hadiah Napoleon Bonaparte kepada Paku Buwono IV. Sejumlah arca curian ditemukan di kediaman pengusaha Hashim Djojohadikusumo yang juga kolektor benda antik, yang mengaku membeli barang itu dari pihak lain.

Kasus terungkap dan para pelakunya adalah orang dalam, antara lain Kepala Museum Radyapustaka Mbah Hadi, petugas satpam museum, hingga kolektor benda kuno. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala atau BP3 Jawa Tengah langsung turun tangan. Berdasarkan hasil inventarisasi banyak sekali koleksi museum yang dipalsukan. Koleksi yang diketahui palsu antara lain arca batu, keramik, dan arca perunggu. Data BP3 Jawa tengah saat itu menyatakan total koleksi museum sebanyak lebih dari 13.000 benda.

Saya memandang masygul koleksi-koleksi yang sebagian diduga palsu tersebut. Para pelaku pencurian dan pemalsuan mungkin tak menyadari perbuatan mereka telah menghilangkan kepingan-kepingan sejarah penting Kota Solo, bahkan bangsa Indonesia. Seperti orang yang tega menggadaikan identitas dan harga dirinya demi nafsu sesaat. Entah bagaimana caranya mendapatkan kembali koleksi-koleksi tak ternilai tersebut.

Kami melanjutkan ekplorasi ke ruangan lainnya. Sedangkan Mbak Retno sudah menghilang masuk ke perpustakaan untuk melihat koleksi naskah-naskah kuno. Mas Fajar menunjukkan seperangkat gamelan yang dibuat pada 1845, yang biasa dipergunakan untuk pertunjukan wayang kulit. Ada juga koleksi wayang berbagai jenis yang rata-rata usianya di atas 200 tahun. Tapi ada juga beberapa wayang yang usianya masih muda. Barang menarik lainnya adalah Al Quran tafsir Jawa dan mesin ketik tulisan Jawa milik Panembahan Hadiwijaya. Radya Pustaka juga punya yang tafsir berbahasa Belanda, namun tidak dipajang.

Gamelan buatan 1845

Gamelan buatan 1845

koleksi wayang kulit

koleksi wayang kulit

Mesin ketik beraksara Jawa

Mesin ketik beraksara Jawa

Keramik koleksi museum

Keramik koleksi museum

Raja mala

Raja mala

Koleksi keris

Koleksi keris

Perpustakaan yang menyimpan banyak naskah kuno

Perpustakaan yang menyimpan naskah kuno

Arca batu ditata seadanya

Arca batu ditata seadanya

Tur singkat museum ditutup dengan menengok koleksi arca-arca batu diletakkan di bagian timur ruang pamer utama. Mas Fajar mengatakan arca-arca tersebut terpaksa disimpan di sana karena belum ada tempat untuk memajang. Sangat jauh dari ideal. Sebelum keluar saya menyempatkan masuk sebentar ke ruang perpustakaan. Mbak Retno rupanya sedang asyik membaca primbon bersama penjaga museum. Perpustakaan ini memiliki sekitar 360-an naskah kuno, berupa naskah Jawa carik. Sedangkan naskah yang cap jumlahnya ratusan. Koleksi naskah kuno disimpan di seperangkat lemari buatan tahun 1829 yang dulu dibeli dengan harga miliaran.

Nah, bagaimana kesan saya terhadap wajah baru Museum Radyapustaka pasca renovasi? Jujur masih jauh dari memuaskan. Belum ideal untuk ukuran museum yang sangat bersejarah dan berstatus tertua di Indonesia. Suasana ruangan memang tak sesuram dulu. Lampu-lampu yang dipasang di berbagai sudut mengikis kesan mistik yang dulu sangat kuat. Tapi kesan mistisnya masih terasa lho. Rak kaca tempat memajang koleksi museum juga lebih baik, tapi lagi-lagi belum ideal. Penataan pun tanpa konsep yang kuat. Apalagi hampir sebagian besar koleksi yang dipajang belum dipasangi data, sehingga akan menyulitkan para pengunjung. Tanpa guide, Anda mungkin hanya akan mendapatkan pemandangan tombak, pedang, wayang, dan koleksi-koleksi lainnya, tanpa makna.

”Data yang kami miliki belum lengkap, masih terus dilakukan upaya pencarian. Baru sebagian koleksi yang ada datanya. Petugas yang mencari data hanya enam orang, padahal kami juga bertugas mendampingi pengunjung,” ungkap Mas Fajar mengenai kendala yang mereka hadapi.

Pak Pur juga mengeluarkan uneg-uneg. Dana renovasi senilai Rp3 miliar dari pemerintah pusat belum cukup untuk mewujudkan penataan museum seperti harapan mereka. Belum adanya tempat penyimpanan yang besar jadi kendala. Pengelola museum terpaksa harus memajang sebanyak-banyaknya benda di rak kaca untuk mencegah kerusakan. Padahal konsep awalnya tidak seperti itu. Menurut Pak Pur awalnya pengelola hanya akan memajang benda-benda tertentu, dengan tema yang lebih fokus, tidak berdesakan seperti sekarang ini. Kemudian masing-masing benda koleksi diberi keterangan yang rinci. Bentuk etalase yang baru juga tak sesuai harapan, dinilai kurang arstistik dan spesifikasinya tak pas untuk koleksi museum. Semua proses pengadaan etalase, mulai dari perencanaan, desain, hingga pelaksanaan serta sumber dana berasal dari pemerintah pusat. Pak Pur mengakui banyak hal yang perlu dibenahi untuk menjadi museum ideal, elegan, seperti museum-museum hebat di berbagai belahan dunia.

Ada banyak alasan untuk mengeluarkan komentar nyinyir tentang wajah baru Museum Radya Pustaka. Tapi daripada menghabiskan energi untuk melakukan hal itu, saya memilih untuk berbagi cerita dan memberi masukan sebisa saya, entah didengar atau tidak. Dan yang terpenting sebisa mungkin mengajak teman, saudara atau siapa pun untuk berkunjung. Yang terakhir, semoga pemerintah pusat maupun Pemkot Solo juga segera terketuk untuk kembali menata museum sehingga bisa bisa menjadi ideal seperti harapan banyak orang. Bukankah membanggakan jika suatu saat nanti Museum Radya Pustaka bisa menjadi ikon wisata Indonesia?

Solo, 1 Agustus 2014

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

25 Responses to Wajah Baru Museum Radya Pustaka

  1. winnymarch says:

    Kak aku harus ke SOlo, wajin hehehhe biar ktmu Kak Yusmei

  2. Alid Abdul says:

    wah baru denger ada museum ini, jadi ini museum koleksinya nano-nano? tidak mengkhususkan sebagai museum apa gitu? dulu ke solo malah ngebet ke Sangiran dan begitu kecewa. Arca yang ditata seadanya itu sebanding dengan museum di trowulan😦

    • yusmei says:

      Koleksinya benda2 bersejarah dan banyak, jumlahnya ribuan. Tapi ada naskah-naskah kuno juga. Wah kapan ke Sangiran? Sekarang keren banget lho, kan sangiran koleksi tentang manusia purbanya paling lengkap se-Indonesia, jadi rujukan peneliti2 dunia🙂

  3. dee nicole says:

    Terakhir kesana pas SD. Serem. Sempet bau amis. Mistis. Hahaha.
    Malah baru tau Napoleon sempat ngasih hadiah ke Kanjeng Sunan. Baru kemaren maen ke Elba, rumah pengasingannya.
    Tiketnya brp skrg mbak?

    • yusmei says:

      Sekarang juga masih agak mistik kok mas…apalagi kalo sepii..haha. waah endi mas ceritane yg rumah pengasingannya, tulis di blog dong mas :)). Tiketnya 5 ribu mas

  4. Halim Santoso says:

    Kapan ya tiket masuk Radya Pustaka diberlakukan gratis seperti Museum Kambang Putih Tuban ya? Museum kebanggaan Solo yang semakin sepi peminat, eh kamera masih ditarik biaya pula. Ahh semoga kepala museum yang baru juga terketuk hatinya *mlipir bikin surat terbuka ke museum* hehehe

    • yusmei says:

      Sebenernya bayar pun gak masalah, kayak di ulen sentalu, asal pengelolaannya maksimal. Banyak banget PR yg harus diselesaikan, dan perlu menggencarkan promosi…dan memang butuh dana besar sih buat renovasi yang maksimal. Eh mosok kamera ditarik? Kok pas itu aku nggak disuruh bayar buat kamera ya lim, padahal ditemeni penjaganya

      • Halim Santoso says:

        Bawa kamera nambah 5ribu lagi hiks. Nambah sithik entuk Danar Hadi kan? Entah punya alasan apa kok kamera dibebankan lagi…

      • yusmei says:

        Woalaaah, padahal aku ke sana pas tanggal 1 agustus itu gak disuruh bayar kamera. Brarti balik kayak mbiyen meneh ya, 4 ntar kapan2 kita usulin supaya kebijakan itu ditinjau ulang yuk, soalnya pasti banyak pengunjung yg mengeluh…tapi pernah nemuin yg lebih parah di museum buku di kiev, bawa kamera juga disuruh bayar, larang sisan, aku nganti milih ra motret…wkwk

  5. ezaa says:

    Wisata ngga cuman seneng-seneng aja, wisata juga perlu tips dan persiapan yg matang, cek disini nih banyak infonya visit here

  6. chris13jkt says:

    Sayang ya kalau koleksi museum pada hilang dan akhirnya cuma diganti replikanya. Auranya beda gitu kalau menurut aku sih.
    Trus, itu yang sudah ketemu lagi akhirnya dibalikin apa gak ke museum?

    • yusmei says:

      Sangat disayangkan sekali pak, apalagi koleksinya baguus-bagus dan sangat berharga. Tapi memang pemalsuan dan pencuriannya sistematis pak. Sudah tidak balik pak yang hilang, karena tidak diketahui dijual ke mana. Walaupun koleksi yang asli masih ribuan, tapi yang hilang itu eman-eman banget😦

  7. noerazhka says:

    Aku belom jadi kesiniii ..
    Anteriiinnn ..😄

  8. Dede Ruslan says:

    wah arca2nya di kasih tanda pengenal😀 semoga ga sampai hilang kayak di museum gajah di jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: