Kejutan dari My Son

Candi di kompleks My Son yang bentuknya masih lumayan utuh

Candi di kompleks My Son yang bentuknya masih lumayan utuh

Semburat kuning kemerahan mulai mewarnai ujung cakrawala. Sang surya pelan namun tegas beranjak dari peraduannya, kemudian mengintip malu-malu dari balik reruntuhan candi-candi di My Son. Indah kan?

Tapi lupakan..semua itu sekadar imajinasi liar saya. Keinginan menikmati sunrise di kompleks My Son sudah layu semenjak kami berangkat dari Hoi An. Bagaimana mungkin bisa melihat sunrise jika berangkatnya kesiangan? Ah itulah hidup *mulai drama.

My Son nangkring dalam itenerary saya dan sahabat-sahabat bukan tanpa sebab. Berbagai referensi menyebut tempat ini berstatus wajib kunjung saat traveling ke Vietnam Tengah. Nah, kebetulan penginapan kami menyediakan paket ke sana. Setelah menimbang-nimbang, kami memilih paket sunrise di My Son, dengan banderol sekitar US$7, plus sarapan pagi berupa roti isi yang asinnya minta ampun dan secangkir kopi pahit yang langsung membuat perut saya melintir perih.

Jalanan menuju kompleks candi My Son

Jalanan menuju kompleks candi My Son

Namun, rencana tinggal rencana. Mobil yang mengangkut rombongan kami berangkat molor dari jadwal, sehingga kami terpaksa melupakan kemungkinan menikmati momen sunrise di My Son. Sunrise muncul di tengah-tengah perjalanan selama kurang lebih 1,5 jam dari Hoi An menuju kompleks suci My Son. Ah sudahlah, saya memang sering tak berjodoh dengan matahari terbit. Mungkin ini hukuman karena saya selalu malas bangun pagi.

Sampai di kompleks My Son, matahari sudah bersinar cukup terik. Kompleks suci My Son ini berlokasi di dalam lembah seluas dua kilometer persegi di provinsi Quang Nam, bagian selatan Vietnam dan berjarak sekitar 69 km barat daya kota Da Nang. Sunrise langsung terlupakan begitu saya memandang jalan masuk ke kompleks My Son. Tempat suci tersebut ternyata terletak di lembah yang dikelilingi hutan dan perbukitan. Hijau, sejuk, dan udaranya segar karena memang hari belum terlalu siang. Kami harus jalan kaki untuk mencapai kompleks percandian. Tak terlalu jauh, tapi cukup untuk memancing bulir-bulir keringat bermunculan di sekujur tubuh. Ah..pagi yang cukup menyenangkan untuk orang yang jarang berolahraga seperti saya.

Pemandu rombongan kami, Vinh, terus bercerita sepanjang perjalanan. Tapi konsentrasi saya tersedot ke pemandangan di sekitar yang menyejukkan. Pepohononan mengapit di kanan kiri jalan setapak yang kami lewati. Setelah 20 menit, akhirnya kami tiba di kompleks candi-candi My Son. Taraaaa..

Formasi lengkap, berfoto dengan gaya absurd

Formasi lengkap, berfoto dengan gaya absurd

Beruntung kami memilih paket tur pagi. Pengunjung tak terlalu ramai saat itu. Menurut berbagai referensi yang kami baca, My Son ini menjadi salah satu atraksi utama wisata di Vietnam tengah, sehingga wisatawan terus mengalir. Kompleks candi My Son ternyata tak semegah seperti dalam bayangan saya. Bukan tipe gagah dan agung seperti Borobudur, maupun candi-candi di kompleks Angkor Wat Kamboja, dan Ayutthaya di Thailand. Mayoritas bangunan candi tak lagi utuh, bahkan sebagian konon sudah hancur lebur karena dibom oleh Amerika Serikat pada masa perang Vietnam. Dari sekitar 70-an struktur bangunan, kini hanya tersisa 25-30 candi. Patung-patung pun sebagian hilang kepalanya. Artefak-artefak yang tersisa sebagian disimpan di Museum Cham di Kota Da Nang supaya aman. Begitulah kejamnya perang. Tapi candi tetaplah candi, saya tetap mencanduinya. Selalu ada misteri di setiap bangunan candi yang menarik untuk dileselami dan dikulik. Tak terkecuali di My Son ini.

My Son dulunya adalah pusat spiritual dan peribadatan Kerajaan Champa yang berkuasa di sana pada Abad IV-XVII, sehingga menyimpan kekayaan budaya Cham, mulai seni arsitektur hingga keindahan pahatan-pahatannya. Para bangsawan Champa membangun tempat suci tersebut dengan pengaruh budaya dan agama Hindu dari India. Pengaruh Hindu dikuatkan dengan keberadaan patung Dewa Siwa di salah satu candi. Bangunan candinya terbuat dari batu-bata, yang mengingatkan saya dengan candi-candi di Ayutthaya Thailand dan di Jawa Timur. Karena dianggap punya arti penting dalam sejarah dan budaya dunia, serta merupakan candi Hindu terkemuka khususnya di Asia Tenggara, My Son Holy Land ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO pada 1999.

Sesaji

Sesaji

Sayangnya kondisi candi-candi di My Son kurang terawat. Relief-relief indah di dinding candi sebagian tertutup lumut. Rerumputan liar juga tumbuh di antara reruntuhan candi. Hebatnya, dengan kondisi yang kurang ideal tersebut, My Son mampu menarik turus asing datang berbondong-bondong. Untuk urusan ini, Vietnam memang pantas diacungi jempol.

Setelah puas memotret bagian-bagian candi, saya kembali ke rombongan dan mendengarkan cerita Vinh. Nah, tiba-tiba saja dia mengajak kami untuk melihat sesuatu yang menurutnya sangat menarik. Entah apa itu. Kami manut dan mengikuti langkahnya, hingga sampai di depan sebuah pohon. ”Perkenalkan, ini pohon starfruit!!,” kata Vinh dengan muka semringah dan senyum lebar. Hahaha. Saya sebenarnya ingin langsung tertawa ngakak, tapi kok tidak sopan. Bagaimana bisa menahan tawa jika kami dipameri pohon belimbing! Eh, belimbing yang dipamerkan ini buahnya masih kecil-kecil, kalah ranum dengan pohon belimbing Demak di halaman rumah tetangga saya. Mungkin dia berpikir kami akan terpesona, karena anggota rombongan kami lainnya yang sebagian besar adalah turis Eropa memang tertarik dengan pohon belimbing itu. Lalu dengan senyum-senyum kecil, saya bilang ke Vinh bahwa di Indonesia pohon belimbing bisa dijumpai di mana-mana dan buahnya lebih besar. ”Ah saya baru tahu kalau di Indonesia juga ada belimbing,” kata dia.

My Son

Rupanya pengetahuan Vinh tentang Indonesia memang kurang yahud. Saat saya bertanya apakah dia pernah mendengar candi Borobudur, dia mengaku tidak tahu. “Tolong tuliskan nama candinya supaya saya bisa mencari tahu di Internet,” begitu respons dia setelah mengaku tak mengenal Borobudur. Sebagai warga negara Indonesia yang berbudi luhur, saya pun menyanggupi permintaan Vinh. Saya tuliskan nama candi Borobudur dan Prambanan di selembar kertas. Cukup dua candi itu saja dulu. Tak lupa saya berpesan supaya dia benar-benar menepati janjinya untuk mencari informasi di Internet. Karena saya sudah mengunjungi My Son, semoga Vinh suatu saat nanti gantian berkunjung ke Indonesia untuk menyambangi Borobudur, Prambanan maupun candi-candi indah lainnya di Tanah Air. Cukup adil kan?

Kunjungan kami ke My Son memang benar-benar bertabur kejutan. Dimulai dari sunrise yang gagal, candi yang tak semegah bayangan, promosi buah belimbing hingga ketidaktahuan Vinh tentang Borobudur. Lengkap bak gado-gado yang kadang saya rindukan saat berada jauh dari Indonesia.

Hoi An, Vietnam, Oktober 2012

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

38 Responses to Kejutan dari My Son

  1. buzzerbeezz says:

    Toss mbak! Kita kompak ya traveling-nya kapan nulis blog-nya kapan *lirik blog sendiri*

  2. Dian Rustya says:

    Catatan perjalanan tahun 2012 tapi masih bisa diingat detailnya. *takjub*

    Sampai sekarang, aku masih belum bisa move on dari “Mencemburui Hoi An”-mu lho mba #curcol

    • yusmei says:

      Sebagian catatannya masih ada mbak, plus mengingat-ingat lewat foto😀
      Hoi An bikin kangeeen…aku juga masih suka melow mbak kalau inget Hoi An, pengin ke sana lagi

  3. winnymarch says:

    kak yusmei dimana tu candi kak,, kok mirip candi sukuh yta ahhaha

  4. Feº A says:

    My Son nya bagus, belimbingnya itu lhooo..kecil2 aja dibanggain ya..hahaha….didepan jendela kamarku ada pohon belimbing yang buahnya gede2 dan manisnya edan..kalo daunnya sudah kelewat rimbun si mbak ambil ondo trus babat sendiri daun2nya,.sekarang pohonnya masih ada tapi sudah tua kali, buahnya jarang..lha kok jadi bahas blimbing ya..

    • yusmei says:

      Hahaha makanya mbak, dikirain di Indonesia gak ada belimbing. Wah brarti pohon belimbingnya perlu diganti yang baru itu mbak. *tetep bahas belimbing

  5. chris13jkt says:

    Sempet gak bisa nahan ketawa juga Yus waktu baca kalau Vinh bangga banget sama pohon belimbingnya itu. Tapi memang bener sih kalau orang-orang Vietnam masih banyak yang gak tahu tentang negara kita

  6. Waktu kemaren ke Vietnam ga sempet ke sini ;((
    padahal keren banget Candi My Son

    Cheers
    http://www.travellingaddict.com

  7. Tur nya cuma seharga US$ 7 aja? Murah banget! Noted dulu kalo besok ke Vietnam hehe
    Rada ngikik lihat sesajinya berupa pinang, ternyata nggak cuma Indonesia Timur aja yang demen pinang😀

    • yusmei says:

      Tur di Vietnam memang murah2 bingiiits lim, maklum mata uangnya kan di bawah kita *sombong dikit😀
      hahaha iya, berasa di Indonesia ada pinang juga

  8. omnduut says:

    Vietnam selalu saja nampak ‘seksi’ dimataku🙂

  9. Pas belum baca kirain kejutan dari anaknya..ternyata nama tempat🙂

  10. Tina Latief says:

    aku pikir perjalanan masih baru mba, ternyata sudah beberapa tahun yang lalu..
    mba punya ingatan yang menakjubkan kalau begitu hehe

  11. Sugih says:

    Wah kejebak saya. Kirain My Son itu anaknya Mbak. Hehehe…

  12. Mbaaaaaakkkk…. akhirnya kemarin saya menginjak ke My Son, Hoi An, Hue and Da Nang…. makasiiii yaaa… ternyata My Son itu jauuuh juga yaa dari Hoi An… sangkain deket lho. Belom sempet nulis di blog tetapi langsung komen dulu disini udah ngomporin hahaha…

    • yusmei says:

      Halooooo mbak. Maaf baru balas komennya, blog udah lama gak disentuh nih sampai berdebu. Postingan terakhir ternyata sudah bulan lalu. hahaha.
      Seeneeeeng akhirnya bisa nyampe sono juga…iya mayan jauh mbak…bisa sambil tidur pulas pas perjalanan. Akhirnya udah ditulis kan mbak? Udah lama gak blogwalking nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: