Bersantai di Bukittinggi

Pemandangan Kota Bukittinggi dari Jembatan Limpapeh

Pemandangan Kota Bukittinggi dari Jembatan Limpapeh

Saya mulai bersungut-sungut. Mobil yang akan mengangkut kami ke Bukittinggi belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berangkat. Padahal sudah 30 menit lebih saya bengong di area parkir Bandara Internasional Minangkabau yang panasnya minta ampun. Pak sopir masih betah bener menunggu penumpang lain. Dia tak peduli kami sudah hampir berubah menjadi daging asap!

Setelah hampir sejam ngetem, pak sopir mengakhiri penderitaan kami. Mobil perlahan meluncur menuju Kota Bukittinggi. Huuft. Perjalanan memakan waktu sekitar 2,5 jam. Tak lama sebenarnya. Tapi perjalanan panjang dari Solo membuat badan mulai menagih jatah istirahat. Pikiran mulai melantur kemana-mana. Pokoknya pingin segera gegoleran di kasur. Faktor U memang susah dibohongi.

Saya dan Krisna sengaja tak menyusun itinerary detail untuk perjalanan ke Sumatra Barat ini. Kami sedang malas repot. Go show saja. Tanpa membooking penginapan, plus tak ada target destinasi. Pokoknya incaran utama saya hanya rumah kelahiran Bung Hatta. Yang lainnya sekadar bonus. Bisa didatangi syukur, enggak bukan masalah.

Kami tiba di Bukittinggi sudah sore. Sopir menurunkan kami di kawasan seputar jam gadang. Nah, saat itulah kami baru sadar tak punya informasi apapun seputar penginapan yang nyaman di sekitar sana. Ya sudah, pakai cara konvensional saja. Kami datangi satu persatu penginapan di kawasan tersebut, mencari yang bersih dan cukup nyaman. Sebenarnya ada satu guest house yang menarik, tapi sudah penuh. Akhirnya kami memilih hotel, yang kamarnya tak ber-AC. Buat apa pakai AC, toh Bukittinggi sudah dingin.

Apa agenda pertama kami setelah di hotel? Yaapp…tidur. Baru setelah agak malam, kami memutuskan mengisi perut sambil menikmati keriuhan di kawasan jam gadang. Masyarakat dan wisatawan tumplek blek jadi satu. Sangat sulit menemukan tempat ideal untuk menikmati pesona jam gadang atau sekadar berfoto. Saya dan Krisna akhirnya melangkah menuju lapak penjual sate padang. Tampilan sate padangnya sih menggoda. Tapi lidah Jawa kami yang fanatik dengan makanan manis ternyata gagal berdamai dengan cita rasa sate padang. Hanya separuh porsi yang berpindah ke perut. Untuk memuaskan perut yang masih menagih makanan tambahan, perburuan kuliner malam itu akhirnya berlanjut ke kaefci. Duuh..

Keesokan harinya kami berniat bangun pagi-pagi benar karena sorenya langsung cabut ke Payakumbuh. Alarm pun telah dipasang untuk memastikan rencana mulia kami tak meleset. Tapi apa mau dikata, alam punya rencana berbeda. Saat alarm bertalu-talu membangunkan kami dari mimpi indah, eh di luar hujan turun deras. Lalu, apa yang bisa kami lakukan selain kembali melanjutkan tidur? Hahaha. Baru sekitar 1,5 jam kemudian kami dengan setengah enggan bangkit dari kasur yang posesif, kemudian mandi, dan siap melahap keindahan Bukittinggi.

Jembatan Limpapeh

Jembatan Limpapeh

Untuk urusan bersantai-santai, saya suka suasana Bukittinggi. Kota kecil sarat sejarah ini cocok untuk leyeh-leyeh. Udaranya sejuk, jalanannya tak terlalu riuh, makanannya cukup enak, dan kemana-mana tinggal jalan kaki. Destinasi wisatanya juga saling berdekatan. Kalaupun jaraknya agak jauh, tinggal naik delman atau angkot yang mudah dijumpai dimana-mana.

Tujuan pertama kami lagi-lagi Jam Gadang. Eh siang dan malam sama saja, Jam Gadang tetap super ramai. Berikutnya kami menjajal peruntungan masuk ke Istana Bung Hatta yang ada di seberang Jam Gadang. Siapa tahu diizinkan masuk, kan lumayan. Tapi harapan memang tak selalu seindah kenyataan. Impian saya masuk ke Bukittinggi pupus di tangan penjaga istana yang galak. Belum sempat bertanya macam-macam, kami diminta meninggalkan kompleks istana yang memang tak dibuka untuk umum itu. Perasaan saya langsung mengharu biru (mulai drama), campur aduk antara bête, sedih dan kecewa. “Pokoknya nanti kita harus berkunjung ke rumah Bung Hatta Kris,” kata saya sembari melangkah meninggalkan kompleks istana.

Rumah Bung Hatta

Rumah Bung Hatta

Seharian itu kami menikmati bersantai ala Bukittingi. Berjalan kaki menyaksikan keindahan Ngarai Sianok dari Taman Panorama, uji nyali di Lubang Jepang ( Ceritanya di sini ), dan lanjut memanjakan perut di warung Itiak Lado Mudo yang enaknya nagih (walaupun kebagiannya cuma ayam lado mudo karena itiaknya habis)!. Kami juga berhasil menemukan dan ngubek-ubek rumah kelahiran Bung Hatta ( Kisahnya di sini ), menikmati landscape Bukittingi dari jembatan Limpapeh dan foto narsis di Rumah Adat Baanjuang yang berada di area kebun binatang. Jika lelah berjalan, tinggal nyegat angkot. Mudah, praktis, dan santai. Udara sejuk Bukittinggi juga membuat acara jalan kaki tak terlalu menguras tenaga. Lagipula destinasi satu dengan yang lain memang berdekatan. Sehari pun Kota Bukittinggi bisa dilahap habis.

Namun, ada satu destinasi happening yang terpaksa kami lewatkan. Janjang Koto Gadang alias Great Wall ala Bukittinggi!. Saat keluar dari Lubang Jepang awalnya kami berencana langsung ke sana. Namun, hujan deras kembali turun dan apesnya kami tidak membawa payung. Enggak mungkin dong hujan-hujanan. Ya sudah skip Great Wall. Kita tak mungkin bisa mendapatkan semua yang kita inginkan kan?

Tertarik traveling yang santai? Silakan menjajal Bukittinggi. Saya sih masih ingin ke sana lagi buat benar-benar bersantai selama tiga hari. Gegoleran cantik di kamar hotel, berburu makanan enak, dan jalan-jalan santai keliling kota.

Bukittinggi, Juni 2013

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

18 Responses to Bersantai di Bukittinggi

  1. Feº A says:

    Yus, itu yang lagi ngelamun rumahnya di pohon belimbing ya?? 🙂

  2. MS says:

    di lembah sesudah lewat rm itiak lado mudo itu ada tempat asyik buat nyantai
    kafe Taruko di Tabiang Takuruang mbak
    enak sekedar nyelupin kaki di aliran air sungai kecil (kalau nggak lagi kering)

  3. buzzerbeezz says:

    Apaaa?? Gak makan itiak lado mudo? Kalau ayam lado mudo mah di rumah kami juga ada nih.. :p

  4. AKU PENGEN KE BUKIT TINGGI! Tapi belum tahu kapan. Banyak banget wishlist-nya, tapi sedikit daya dan hari libur. Bingung memilih yang mana dulu. Duh😦

    Btw, mbak bisa aja menulis cerita yang udah setahun lebih berlalu. Kalau aku sih udah bakal hilang ingatan hahaha. Tulisan yang satu ini lebih kocak dari biasanya: “kasur posesif”😀

    • yusmei says:

      Haha jangan bingung2. Kalau pas ada kesempatan ya berangkat, kalau belum ya jalan2 yg deket2 aja. Menarik juga kan hehe. Kan masih ada catetan perjalanannya, sambil mengingat-ingat lewat foto. Tapi tetep gak bisa detail banget sih, memang bagusnya setelah jalan ditulis, tapi malesnya itu lho😀

  5. Avant Garde says:

    mbak yussss….aku habis dari bukittinggi loh😀
    janjang koto gadang sebenarnya biasa aja menurutku

  6. Rifqy Faiza Rahman says:

    Bukittinggi, tempat pertama kali yang harus saya datangi ketika kelak ada kesempatan berkunjung ke bumi Andalas lagi. Maklum, habis baca biografi Bung Hatta jadi mendidih semangatnya untuk ke sana!🙂

  7. chris13jkt says:

    Nah aku setuju sama commnet-nya Mbak Monda tuh Yus. Kalau kesana lagi, sempatkan nangkring di Kafe Taruko itu. Pemandangannya mantabz abis . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: