Semanis Gula Aren Belitung Timur

Gula aren khas Belitung Timur

Gula aren khas Belitung Timur

Menjelajahi sudut-sudut Belitung Timur sangat mengasyikkan. Ada saja kejutan yang menanti. Bermodal bentang alam yang tak seeksotis Kabupaten Belitung Barat, pemerintah Belitung Timur serius mengembangkan wisata budaya. Mereka sadar kekayaan budaya Beltim bisa jadi amunisi untuk menjaring wisatawan domestik maupun mancanegara.

Saya merasa beruntung mendapat kesempatan menikmati sebagian kekayaan budaya Beltim. Pagi itu setelah bersantap berego di rumah Bu Asniar, saya dan rombongan Tour de Beltim 2014 dibawa berkunjung ke Dusun Semalar, Kecamatan Dendang. Tempat yang kami tuju bukan destinasi wisata mainstream. Jadi lupakanlah keindahan pantai maupun landscape pegunungan hijau. Alih-alih kami malah diajak melihat proses pembuatan gula aren khas Belitung Timur. Sounds interesting kan?

Seorang pria berusia paruh baya menyambut ramah ketika kami masuk ke halaman salah satu rumah di Dusun Semalar. Pak Junaedi, begitulah pria itu biasa disapa. Mengenakan kaus berwarna ungu dan celana abu-abu, Pak Junaedi langsung menjadi pusat perhatian kami. Beliau salah satu dari sedikit pembuat gula aren di Dusun Semalar. Gula buatannya tersohor di wilayah itu.

Aksi pertama Pak Junaedi yang kami saksikan pagi itu adalah memukul-mukul potongan akar dengan besi. “Ini akar mentubaan. Pengawet alami untuk gula aren yang akan dibuat. Air nira itu cuma tahan tiga jam, jadi perlu pengawet. Caranya akar ini dimasukkan ke jeriken yang berisi air nira.” Begitulah penjelasan singkat Pak Junaedi.

Selain kayu mentubaan, sebuah wajan yang diletakkan di atas susunan kayu bakar juga sudah nangkring di halaman rumah Pak Junaedi. Wajan tersebut berisi nira yang sedang dimasak. Namun, sebelum menyaksikan proses mengolah nira, kami lebih dulu digiring menuju kebun. Pak Junaedi rupanya ingin menunjukkan proses penyadapan nira langsung dari pohonnya.

Usia boleh tua, namun kelincahan Pak Junaedi tak perlu diragukan. Beliau cekatan memanjat pohon aren setinggi kira-kira enam meter yang tumbuh di kebunnya. Ada dua jeriken berwarna putih yang sudah digantung di pohon untuk menampung sadapan nira. Dua jeriken yang sudah penuh tersebut kemudian diturunkan, diganti dengan dua jeriken kosong. Biasanya Pak Junaedi memasang jeriken pada sore hari dan hasil sadapan diambil keesokan paginya. Dalam setiap periode penyadapan, air nira yang dihasilkan sekitar 10 liter.

Seusai menurunkan jeriken berisi nira, Pak Junaedi mengajak kami kembali ke halaman. Air nira dalam jeriken dituangkannya ke wadah-wadah plastik berukuran kecil, dengan lebih dulu disaring. Akar mentubaan sudah dimasukkan supaya gula aren yang dihasilkan awet disimpan dalam tempo cukup lama. “Setelah ini air nira dimasak selama dua jam,” tutur Pak Junaedi.

Beruntung sebelum kami datang Pak Junaedi sudah memasak air nira. Jadi kami tak perlu bengong menunggui proses memasak nira selama dua jam. Paling hanya sekitar 15 menit air nira di wajan sudah mengental dan siap dicetak. Pak Junaedi kemudian mengambil sebuah batok kelapa untuk memindahkan nira yang sudah berwarna cokelat tua ke cetakan dari bambu yang dibentuk menyerupai gelang. Secara perlahan Pak Junaedi menuangkan nira kental ke masing-masing cetakan hingga penuh. Setelah itu tinggal didinginkan dan gula aren pun siap disantap. “Ada yang ingin mencoba mencetak?” tanya salah seorang pemandu rombongan. Teman-teman kompak mendaulat Mbak Tascha untuk unjuk gigi.

Practice makes perfect. Gerakan Mbak Tascha saat mencetak gula aren jelas tak selihai Pak Junaedi yang sehari-hari bergulat dengan rutinitas itu. Mbak Tascha harus menuang dengan super hati-hati supaya nira kental tak meluber kemana-mana. Ternyata cetakannya rapi juga. Selamat Mbak Tascha!. Setelah itu kami mendapat kesempatan mencicipi guru aren yang sudah jadi. Woow..rasanya super lezat. Manisnya pas dan alamiah, sangat berbeda dengan gula aren yang pernah saya cicipi. “Rasanya memang beda, di tempat lain gula arennya dicampur gula pasir, di sini tidak,” cerita salah seorang kerabat Pak Junaedi.

Mencetak gula aren

Mencetak gula aren

Gula aren Pak Junaedi memang tersohor di wilayah itu dan selalu ludes terjual. Pesanan yang datang tiap hari selalu melebihi stok. Dari 10 liter air nira, Pak Junaedi bisa mendapatkan 30 biji gula aren, yang masing-masing dibanderol Rp2.000. Gula aren milik Pak Junaedi juga dikemas dengan bungkus daun, satu turus istilahnya. Satu turus gula aren itu dibanderol Rp20.000. Bukan harga mahal, apalagi jika menilik kualitas dan rasanya.

Mengamati secara langsung proses pembuatan gula aren khas Beltim berhasil menggoreskan kesan mendalam buat saya. Sayangnya, profesi itu semakin jarang dilirik oleh generasi muda Belitung Timur. Pak Junaedi adalah satu-satunya pembuat gula aren di Desa Semalar. Adapun di Kecamayan Dendang, jumlah pengusaha gula aren hanya tersisa 10 orang, itu pun sudah memasuki usia senja. Mayoritas pemuda di Kecamatan Dendang lebih suka mengadu nasib dengan menambang timah. Denting rupiah dari tambang timah memang lebih menggiurkan dan instan, meski sering diwarnai masa paceklik. Lagi-lagi ini masalah mindset.

Puas menimba ilmu berharga dari Pak Junaedi, beberapa teman sengaja memborong gula aren untuk buah tangan. Saya tak ikut membeli karena takut kerepotan membawanya. Keputusan itu belakangan saya sesali. Ibu saya di rumah tentu sangat gembira jika mendapat buah tangan gula aren istimewa dari Beltim. Tapi sudahlah. Setidaknya saya sudah mendapatkan pengalaman manis di Dendang. Semanis cita rasa gula aren khas Belitung Timur itu.

Belitung Timur, 23 September 2014

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

16 Responses to Semanis Gula Aren Belitung Timur

  1. Dian Rustya says:

    Bentuk gula arennya rapih ya mbak?
    Kalau lihat foto yang pertama, sak sretan mirip gethuk pisang. Asli, klo ga inget judul postingan ini soal gula aren, pasti sudah mikir itu foto gethuk pisang, hihihihihihi😆

    Ditunggu cerita selanjutnya yaa mbak Yusmei
    *Pembaca setia, mode :ON*

  2. buzzerbeezz says:

    Semanis apa mbak? Semanis cinta?! #eeaaaa

  3. yofangga says:

    Apanya yang semanis gula aren kak?
    kehidupan penakik nira kah?
    *malah bahas judul😀

  4. Bawa pulang nggak mbak? Icip donk😛

  5. Olive B says:

    manisnya khas, tinggal direbus pakai jahe jadilah minuman penghangat😉

  6. chris13jkt says:

    Seru ya Yus kalau bisa mengikuti proses pembuatan yang masih pakai cara tradisional seperti itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: