Mampir ke Museum Pos Indonesia

Pintu masuk museum

Pintu masuk museum

Sebagai seorang filatelis (abal-abal), kurang afdol rasanya kalau belum menyambangi Museum Pos Indonesia di Bandung. Museum ini (konon) dikenal sebagai surganya pencinta filateli. Koleksi perangkonya banyak banget, mulai zaman Indonesia belum merdeka hingga jenis perangko terbaru.

Pada suatu sore yang mendung di awal Desember 2013 (sudah lama banget ya), saya akhirnya kesampaian juga mampir ke Museum Pos. Lokasinya di Kantor Pusat Pos Indonesia Jl. Cilaki No. 73, Bandung. Cuma sepelemparan batu dari Gedung Sate yang tersohor itu. Saya dan sepupu, Mbak Yiyi, sampai di sana sudah sore. Museum sudah hampir tutup. Kami buru-buru masuk mumpung masih boleh.

Sore itu museum benar-benar sepi. Selain kami, tak ada pengunjung lain. Kami hanya menjumpai petugas di pintu masuk. Sedangkan di dalam sama sekali tak ada orang. Waduh serem juga datang sendiran. Just info, masuk ke museum ini gratis, alias tak dipungut bayaran sepeser pun.

Gedung yang dipakai untuk museum sudah berumur hampir satu abad, tepatnya dibangun pada 1920. Namun baru benar-benar difungsikan sebagai museum pada 1933, dengan nama Museum Pos Telegrap dan Telepon (PTT). Perancang gedungnya adalah J. Berger dan Leutdsgebouwdienst. Pada masa pendudukan Jepang museum ini kurang terurus dan terus berlanjut hingga periode 1970-an. Nah, pada 27 September 1983, museum ini ”lahir kembali” setelah direnovasi. Nama baru pun disandang, yaitu Museum Pos dan Giro. Pada 20 Juni 1995 lagi-lagi ada pergantian nama menjadi Museum Pos Indonesia.

Kesunyian museum berbanding terbalik dengan koleksi di dalamnya. Lengkap dan berharga. Sayangnya saat itu saya tak punya kesempatan untuk mengeksplor mendalam karena berkejaran dengan jam tutup museum. Jelajah museum dilakukan cepat dan ringkas. Membaca keterangan di masing-masing benda koleksi dan mengambil sejumlah foto yang menarik. Sepertinya kapan-kapan saya harus kembali lagi ke sana.

Apa saja koleksi museum tersebut? Highlight-nya jelas perangko dari berbagai penjuru dunia, sekitar 178 negara. Ada dari China, Kanada, Belanda, Inggris, hingga Dominika. Jumlahnya puluhan ribu. Salah satu yang menarik adalah perangko pertama di Indonesia yang terbit tahun 1864 bergambar Raja William III. Kemudian ada perangko zaman Hindia Belanda tahun 1930-1938, perangko emas mengenang satu abad Bung Hatta yang terbit tanggal 12 Agustus 2002, dan perangko satu tahun meninggalnya Bu Tien Soeharto yang terbit pada 16 April 1997. Banyak banget perangko keren lainnya. Saya cuma bisa memandang takjub, sambil berharap dalam hati siapa tahu ada orang yang super baik yang tiba-tiba ngasih perangko kayak gitu. #Halah.

Belum puas mengamati satu persatu perangko yang dipajang, saya terpaksa beralih mencermati koleksi lainnya. Ada peralatan pos, diorama pelayanan pos, foto-foto, dan berbagai visualisasi lainnya. Sebuah replika menarik perhatian saya, kereta api bertuliskan pos kereta api. Langsung saya lahap keterangan di sampingnya.

Pos Kereta Api

Pos Kereta Api

Jadi pada 1871 dibuka jalur kereta api pertama antara Gambir dan Batavia (Jakarta Kota). Angkutan kereta api kemudian dimanfaatkan untuk perhubungan pos. Pada 1978 dibuka jalur Anyer-Batavia, Batavia-Bandung, Yogyakarta-Surabaya. Dengan dibukanya jalur ke kereta api itu, pengiririman surat dari Batavia ke Surabaya hanya butuh waktu 1,5 hari. Di tempat-tempat yang disinggahi kereta api ekspres dipasang alat penangkap yang terdiri atas tiang yang digantungi kantong pos yang dinamakan Vanginrichting. Petugas dapat mengambil kantong-kantong tersebut meskipun keretanya tak berhenti. Sepanjang perjalanan Batavia-Surabaya tak ada kantor pos. Kantor pos kereta api melayani penjualan benda-benda pos, juga pencatatan surat.

 

Pak Pos mengantar surat

Pak Pos mengantar surat

Berlanjut ke koleksi lainnya, mata saya sempat terkunci ke foto klasik, Kantor Pos Pembantu Wonokromo. Foto itu diambil pada tahun 1935. Keren! Ada pula koleksi timbangan paket buatan Inggris yang digunakan pada zaman penjajahan Belanda, peta negara-negara uni pos sedunia, foto Sir Rowland Hill (pencetus gagasan pemakain perangko), the penny black (perangko pertama di dunia), kantong pos udara untuk pengiriman ke luar negeri, sepeda pak pos, mesin ketik, pakaian seragam pos dari tahun ke tahun, mesin otomatis penjual benda pos, beraneka macam bis surat dan masih banyak lagi.  Oh iya, di lorong sebelum pintu masuk ada sebuah patung berukuran setengah badan, yaitu patung Bapak PTT Indonesia, almarhum Mas Soeharto. Patung itu dibuat pada tahun 1983 oleh seniman kondang Ad Pirous.

Sebenarnya sore itu saya belum puas mengubek-ubek museum pos. Apa daya, jam berkunjung sudah habis. Dengan terpaksa saya dan Mbak Yiyi melangkah ke luar. Tak apalah, setidaknya rasa penasaran saya terhadap museum ini sudah terjawab. Sayangnya, museum ini sepertinya kurang dilirik atau jangan-jangan saya datang di saat yang tak tepat pas museumnya sepi? Yuks main ke sana, supaya museumnya tak lagi kesepian.

pos13 (museum pos)

Alamat : Jl. Cilaki No. 73 Bandung, (dekat Gedung Sate)
Telepon : (022) 4206195 ext. 153
Email : museumposindonesia@gmail.com
Jam buka
– Senin-Jumat Pukul 09.00 WIB-16.00 WIB
– Sabtu Pukul 09.00WIB -13.00 WIB
Minggu dan Hari Libur Nasional tutup
Tiket masuk Gratis

Bandung, Desember 2013

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

30 Responses to Mampir ke Museum Pos Indonesia

  1. jadi pengen mampir kalo ke Bandung… kayaknya seru mbak. Dulu saya filatelis tapi krn semua koleksi hilang dicuri jadi males ngumpulinnya

    • yusmei says:

      Iya om, seru. tapi sayang pengunjungnya dikiit, padahal koleksinya lumayan. aku masih punya perangko2 itu om, tapi setengah tak terawat😀

      • Memang tipikal Indonesia, tempat yang harusnya terawat malah tidak terawat. Terakhir saya berkunjung ke museum tekstil, Jakarta juga menurut saya sangat minim perawatannya😐

      • yusmei says:

        Nah bener banget, museum tekstil itu sebenarnya bisa ditata lebih maksimal. Kesannya seram waktu masuk ke ruangan di samping yg berisi alat2 tenun itu mas

  2. nyonyasepatu says:

    Sebenarnya prangko kita bagus2 juga ya

  3. capung2 says:

    Bangunan museumnya klasik ya sesuai dgn jamannya. Agak serem jga rasanya klo masuk museum spt ini hanya sendirian disaat pengunjungnya sepi

  4. buzzerbeezz says:

    Aku pas ke sini pas tutup museumnya! Kzl deh!!

  5. Efenerr says:

    2008-2009 pernah ke sana tapi rasanya tidak sebagus sekarang. Salut.

  6. Kayaknya di jakarta juga ada yaaa yg deket pasar baru itu

  7. Ahh baru tahu nih ada Museum Pos di Bandung… sepertinya kudu ke Bandung lagi khusus jelajah bangunan tua nih. Maklum dulu pas ke Bandung masih abege yang hobby masuk keluar FO aja hahaha

  8. chris13jkt says:

    Kalau masuk ke situ dan lihat-lihat koleksi perangkonya, bawaannya ngiri terus karena koleksiku banyak yang ompong, Yus. Apalagi akhir-akhir ini, makin banyak aja yang bolong 😦

  9. ndop says:

    Aku pernah ke museum Anjuk Ladang (nama asli dari Nganjuk) cuma berdua doang. Dan suasananya serem. Soalnya yg dipajang itu arca arca peninggalan sejarah ratusan (bahkan ribuan) tahun yll. Hahaha..

  10. Gara says:

    Saya masih suka melihat bis surat “Busbrieven” itu di Kantor Pos Ibukota. Heheh.
    Hebatnya Belanda adalah bisa “memindahkan” beberapa pusat perusahaan dari Batavia ke Bandung. Salah satunya pos ini. Ah, jadi kepingin ke Bandung buat menyaksikan langsung.
    Dan William III. Mungkin karena prangko “pertama”, gambarnya juga mesti penguasa Belanda yang “pertama” saat negara itu menjejak Indonesia kali, ya #carialasan. Menarik juga, tahu kalau prangko baru ada di Indonesia tahun 1864 padahal jalur pos sudah dirintis sejak 1808 (Grote Postweg).
    Tapi, setahu saya jalur kereta api pertama di Indonesia itu ada di Jawa Tengah (daerah Semarang Gudang) sekitar 1864? #cmiiw
    Kesimpulannya:
    Banyak Pertanyaan.
    Mesti ke sana langsung.
    Okelah, ayo kita ke Bandung.

    Hihihi.

    • yusmei says:

      Nah aku sebenarnya juga langsung keingat semarang soal yang jalur kereta api itu. Tapi itu kutipan keterangan yang ada di samping foto gambar kereta api tersebut. Harus cari referensi lagi nih, biar bener keterangannya. Makasih koreksinya ya Gara😀

      • Gara says:

        Weleh, informasi yang nggak sinkron dan nggak update memang jadi kelemahan objek wisata di Indonesia kayaknya, Mbak. Huhuhu.
        Oke, sama-sama🙂

  11. Dian Rustya says:

    Aku pernah ke sini, tapi cuma sampe terasnya aja sih, soalnya Museum Posnya lg tutup #Hiks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: