Kesunyian Pagi Melaka

Melaka, Malaysia

Pendar cahaya di tepi Melaka River

Benar kata seorang teman, Melaka menjelma gempita setiap Sabtu malam. Jongker Street menjadi jantungnya. Menjelang tengah malam, world heritage city itu kembali didekap sepi. Tenang dan indah.

Pada suatu Minggu yang kepagian, saya bersama sahabat-sahabat harus bergegas mengejar bus ke bandara LCCT. Flight ke Da Nang, Vietnam, pada pukul 13.25 sudah menanti. Ketinggalan pesawat bukan skenario indah. Rasa kantuk sisa begadang semalam sekuat tenaga dihalau. Pagi-pagi benar kami sudah bangun.

Jarum jam merapat ke pukul 05.00. Kami menengok keluar penginapan. Ternyata masih gelap gulita. Matahari belum menggeliat dari peraduannya. Penjaga penginapan, Pak No, mengajak ngopi terlebih dahulu. Kami mengiyakan. Sembari ngopi, pria asal Pacitan itu memberikan petunjuk jalan pintas menuju halte bus jurusan ke Melaka Sentral. Tak jauh katanya. Kami hanya perlu berjalan menyusuri Melaka River yang membelah kota tua nan eksotis tersebut.

Jalanan masih lengang saat kami melangkah meninggalkan penginapan dan mengucap salam perpisahan dengan Pak No. Penghuni dan tamu-tamu Melaka mungkin masih terlelap didekap kehangatan selimut. Hanya cahaya lampu yang menemani langkah kami.

Melaka, Malaysia

Bangunan di Melaka

Sesampai di tepian Melaka River, langkah kami melambat. Refleksi bangunan yang berpendar cahaya di permukaan Melaka River mustahil diabaikan. Sangat memanjakan mata. Naluri untuk berfoto dengan latar belakangan pemandangan menawan muncul begitu saja. Lebih baik dituruti daripada menyesal. Kami cukup lama berdiam diri di seberang bangunan tua berhias lampu yang bayangannya memantul di sungai. Langit yang semula gelap perlahan semakin terang. Langit berubah biru cerah seiring bangkitnya sang surya dari sarangnya.

melaka4Cerita pagi di tepian Melaka River makin berwarna berkat mural-mural unik yang menghiasi dinding-dinding rumah. Tiap rumah seolah berlomba-lomba bersolek untuk menjadi yang tercantik. Mata pun terperangkap, sulit berpaling. Kreatif sekali penduduk kota tua ini.

Bagunan di Melaka, Malaysia melaka6Pandangan mata kemudian terpaku pada sebaris kalimat di sebuah rumah. Your Home Away From Home. Selalu ada rumah dalam setiap perjalanan. Mungkin begitu maksudnya. Saya berlalu sembari tersenyum.

Penginapan di Melaka Malaysia

Kejutan Melaka River belum berakhir. Godaan memperlambat langkah kembali datang saat mendekati jembatan. Arsitektur jembatan ini sebenarnya tak terlalu istimewa. Lagi-lagi permainan lampu yang membuat bangunan sederhana itu menjadi spesial. Lampu berwarna-warni yang dipasang di bagian bawah jembatan bercermin di permukaan air. Hasilnya adalah refleksi yang menawan.

Jembatan Melaka River

Jalan raya Melaka akhirnya terpampang di depan mata. Tak terlalu ramai. Kalah riuh dari jalanan Ibukota yang tak pernah sepi dibanjiri deru mobil maupun sepeda motor. Kelengangan ini mungkin hanya gambaran pagi hari, sebelum serombongan manusia tumpah ruah menjalani aktivitas mereka.  Tapi mungkin juga pemandangan serupa tersaji sepanjang hari. Saya tak bisa memastikannya.

jalan raya Melaka

Ritual menikmati kesunyian pagi Melaka hampir mencapai ujung saat halte bus yang kami tuju sudah terlihat. Penghentian Hang Tuah Mall, begitu nama halte tersebut. Kami pun duduk, sesekali berdiri. Menunggu bus yang akan membawa kami ke Melaka Sentral, sekaligus ucapan selamat tinggal untuk kota yang indah ini. Semoga suatu saat bisa berkunjung kembali.

Halte bus MelakaMelaka, Oktober 2012

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

62 Responses to Kesunyian Pagi Melaka

  1. Gara says:

    Jam-jam menjelang fajar memang apik sekali kalau dipakai fotografi :))
    Gambarnya keren-keren. Saya suka cerminan rumah itu, sempurna sekali🙂

  2. Woooogh…. Kota satu ini selalu aja dilompatin padahal udah dicatet dengan tinta emas hahahaha… Bener2 harus diluangin waktunya deh… anyway, bagus banget foto-fotonya… makin kepengen…. makasih sudah berbagi ya mba dan sudah membuatku makin kepengen kesana😀

    • yusmei says:

      Berangkaat mbak. Kalau pengin ramai sabtu plg pas, tp kalau pengin sepi pas hari biasa mbaak..ditunggu tulisannya kalau dah jadi main ke sana😀

  3. Dita says:

    aaahh dulu kesini cuma bentar gara2 perginya bareng temen yang passion-nya cuma belanja T_T nyeseeeeel

  4. nyonyasepatu says:

    wah kalau malam sungainya sepiii dan tenang banget ya. Siang2 kan rame tuh ama sampan hilir mudik

  5. your home away from home…

    quotenya asik

  6. Badai says:

    Selalu suka sama suasana early morning, gak dimanapun pasti rasanya damai dan tersirat harapan hangat dari ufuk timur, dan sarapan hangat dari tukang bubur ayam
    *abaikan kalimat terakhir*

  7. dansapar says:

    berkunjungnya dengan siapa, sebutin sekalian biar doanya dikabulin
    *eeaaa

  8. ndop says:

    Asline ceritone iki cuma “mulih” tapi iso dadi postingan yg menarik. hahahaha.. 2012 pula! Kok jik iling ya mbak ceritone? Hahahhaa…

  9. Pas scroll bagian gambar Melaka River njuk mbayangke Kali Pepe bisa transformasi kayak gitu.. trus ada gethek yang bawa sinden keliling nyanyi langgam Jawa.🙂

    • yusmei says:

      sebenernya bisaaa lim, asal punya niat bhuat menatanya. Konsepe sederhana asline. Trus di pinggir kali ada yang jualan wedang ronde ya *tetep bahas makanan*😀

  10. dee nicole says:

    Q: kok lungguhe adoh2an?
    A: 1. Sing siji rung adus
    2. Loro-lorone rung adus
    3. Ono sing buang gas terus ethok2 mlipir

  11. Eh iyak. Permainan cahayanya apik. Lihat mural-mural dan jalan-jalan kecilnya, kok agak-agak mirip dengan Jogja😀

    Foto terakhir kayak lagi musuhan, mbak.

  12. yofangga says:

    Salut liet mural-muralnya mbak
    kira-kira inisiatif yang punya rumah atau gimana ya?
    atau artis mural emang mendapat wadah yang disetujui pemerintah?
    disini sembarangan gambar-gambar gitu bisa ditangkep😀

    • yusmei says:

      Kayaknya ada campur tangan pemerintah ya Yo, masuk konsep penataan kota. Sepertinya mural2 itu dilegalkan atau malah disarankan, tentunya gak sembarangan ya muralnya. Di sini potensi mural belum diaksimalkan, yg bikin mural kadang juga asal milih tempatnya, yowis jadinya seling surup🙂

      • yofangga says:

        Benar, padahal potensi artis mural di Indonesia besar sekali. Namun sayang masih belum dapat apresiasi. Alhasil seniman mural juga berkreasi kucing2an, nggambar malam hari, untung-untung dapat persetujuan sama pemilik dinding.

      • yusmei says:

        Mungkin potensinya jauh lebih besar daripada malaysia, wong untuk urusan seni biasanya mereka berkiblat ke kita. Tapinya itu tadi ini soal bagaimana memanage potensi dan kita kalah *trus bikin surat ke pak menteri*🙂

  13. chris13jkt says:

    Gak sia-sia bangun pagi ya Yus, bisa dapat suasana Melaka yang masih sepi dan bagus banget buat di foto gitu

  14. noerazhka says:

    Melaka memang cantik. Kangen pengin menikmati atmosfer hangatnya lagi ..🙂

  15. winnymarch says:

    rajin bgt kak bangun pagi

  16. Suasana pagi itu syahdu banget Mbak Yusmei. Terutama sungai dan jembatannya itu…cantik banget

  17. Sayang ga ada angkringan di Melaka! :p

  18. indrijuwono says:

    ah, kamu. aku jadi kangen melaka dan menyusuri sungai nya lagi. pengen berjalan hingga laut lepas dan melihat di mana kumpeni mulai mendaratkan kapalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: