Sudut Lain Telaga Warna

Keindahan itu relatif. Filsuf Yunani Aristoteles menjabarkan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan menyenangkan. Ia meyakini tak ada keindahan yang mutlak. Keindahan sebenarnya didasarkan pada persepsi masing-masing individu. Setuju?

Kok jadi berat gini ya pembahasannya. Sebenarnya saya cuma pengin cerita tentang Telaga Warna Dieng. Sudah dua kali saya menyambangi objek wisata tersebut. Kebetulan menikmatinya dari sisi berbeda. Sama-sama indah. Tergantung bagaimana kita mendefinisikan keindahan.

Telaga warna Dieng

Telaga Warna dilihat dari Bukit Sidengkeng

Saat kali pertama mengunjungi Telaga Warna, saya menyapanya dari dekat. Menyentuh airnya, mencelupkan kaki ke telaga, dan duduk di batang pohon kering di pinggir telaga. Tak lupa merekam memori dengan berfoto bersama para sahabat berlatar Telaga Warna yang misterius. Tenang tapi terasa agak ”dingin” auranya. Kami juga sempat trekking sedikit ke atas. Ada jalanan setapak di sisi telaga. Memandang Telaga Warna dari posisi cukup tinggi menarik juga. Kenangan tersebut masih nyaman bercokol di benak.

Nah, pada awal Desember 2014 lalu, saya berkesempatan mencumbui sisi lain Telaga Warna. Memandang dari jauh, memaknai keindahan dengan sudut berbeda. Terima kasih kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jateng yang memberikan pengalaman ini lewat acara Famtrip Travel Blogger. Meskipun harus sedikit berpeluh keringat, saya benar-benar menikmatinya.

Kami diajak memandang Telaga Warna dari Bukit Sidengkeng. Konon ini disebut sebagai lokasi paling sempurna untuk memotret eksotisme Telaga Warna. Untuk mencapai Bukit Sidengkeng, kami harus trekking selama kurang lebih 15 menit. Petualangan itu dimulai dari pintu masuk gerbang Wana Wisata Petak 9 Dieng.

Trekking di jalan setapak

Trekking di jalan setapak

Kalau mendengar kata ”trekking” sebenarnya nyali saya jadi menciut. Pengalaman trekking di Bukit Sikunir Dieng maupun di Badui jadi alasannya. Endurence saya buruk sekali, maklum jarang berolahraga. Napas ngos-ngosan seperti orang mau pingsan.

Beruntung sore itu cuaca cukup bersahabat, sejuk tepatnya. Jalur trekkingnya juga asyik. Kami berjalan mendaki melewati jalan setapak yang diapit pepohonan di kanan dan kiri. Ada akasia, serta wajah cantik bunga terompet dan bunga hortensia. Pemandu kami, Pak A’ak terus bercerita sepanjang pendakian. Tapi konsentrasi saya sudah tersedot ke hal lain. Napas yang mulai ngos-ngosan dan pemandangan aneka rupa di sekitar. Beberapa kali terpaksa berhenti untuk mengatur napas. Maaf ya Pak A’ak😀

Setelah beberapa menit mendaki, Telaga Warna mulai nongol di sisi kanan kami. Semakin ke atas view-nya bertambah utuh. Godaan untuk berhenti sejenak untuk memotret, sekalian mengatur napas, sulit diabaikan. Tak apalah jika perjalanan ke puncak agak tersendat. Toh belum tentu dalam waktu dekat bisa ke sana lagi.

Sesampai di puncak bukit, kelelahan menguap. Mata kami berpesta. Telaga Warna dan Telaga Pengilon utuh tertangkap mata. Latarnya Gunung Sindoro dan Gunung Prau yang menjulang anggun. Telaga Warna menggoda dengan gradasi airnya. Air berwarna hijau lumut di sebelah kiri, sedangkan bagian kanan berwarna tosca. Bayangan pohon-pohon hijau jatuh di permukaan air. Suasana mistik semakin lengkap saat kabut bergerak perlahan mendekap Gunung Sindoro.

telaga warna11

Sayang, kami tak bisa berlama-lama berpesta pora dengan pemandangan itu. Senja semakin menua. Tiba saatnya meninggalkan Bukit Sidengkeng. Tapi kini setidaknya kini saya punya dua versi kenangan tentang Telaga Warna. Lebih berwarna tentu saja.

Wonosobo, 5 Desember 2014

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

35 Responses to Sudut Lain Telaga Warna

  1. Telaga itu selalu terasa misterius yah🙂

    ***
    5 Destinasi Romantis di Eropa Timur

  2. Gara says:

    Kata orang, dalam perjalanan itu perjuangan sebanding dengan apa yang didapat.
    Indeed, I see that as a truth and you’ve proved it. Memang cantik benar dipandang dari atas :hihi
    Saya sampai googling apa itu hortensia :hihi. Kalau di tempat saya itu namanya “kembang gompyong” (kalau tidak salah), yang warna bunganya tergantung tingkat keasaman tanah tempatnya tumbuh :hehe.
    Bagus memang, foto beramai-ramai dengan sahabat, di depan lukisan alam mahaindah. It’s difficult to forget :haha.

    • yusmei says:

      Perjuangannya gak terlali berat sih Gars, gak seberat kalau naik rinjani atau semeru gitu hihi. Dasar akunya aja males olahraga, ya gini deh. Iyak tp memang baguuus, pas buat latar foto2. Oooh aku baru tahu kalau bunga itu biasa disebut bunhs grompyong juga😀

  3. Dita says:

    tiba-tiba jadi inget pak AA dengan kata2 bahas inggris ajaibnya😀

  4. saya warga jawa tengah yang belum pernah kesana.. hahahahaha

  5. mawi wijna says:

    Hmmm… besok2 lagi kalau pas ke Dieng lagi mampir sini lah. Kan kemarin udah latihan medan ke Sikarim, hahaha.😀

  6. Sugih says:

    Sebelum saya membaca artikel ini, saya mengira postingan ini menceritakan Telaga Tujuh Warna di daerah kelahiran saya, Bogor. Ternyata lain.

    Pemandangan di Dieng memang bagaikan surga yang jatuh ke bumi ya Mbak. Lain kali jangan lupa ajak saya ya ke sana 🙂

    • yusmei says:

      Oooh di bogor ada telaga tujuh warna ya mas, baru tauuu. Siap mas nanti diajak, tp saya juga mau diajak ke telaga tujuh warna itu dong😀

      • Sugih says:

        Boleh Mbak, kebetulan awal bulan depan saya mau pulang ke Bogor. Sebenarnya telaga ini cuma satu, tapi ajaibnya air telaga akan terlihat berbeda warna seiring kita mengelilinginya.

      • yusmei says:

        Waduh kayaknya baru Mei bisa ke Bogor mas. Tapi makasih buat referensinya😀

      • Sugih says:

        Mei ke Palangka Raya saja Mbak. Di sana kan ada festival budaya yang sangat seru lho 🙂

        Saya siap jadi guide deh

      • yusmei says:

        Waaah boleh. Rencana sih juli mau ke kalimantan, tp tanjung puting. Belum tau juga jadi apa enggak. Jadi tertarik ke palangkaraya sekalian kalo gini hehe

      • Sugih says:

        Wah, Tanjung Puting di Teluk Kumai. Dari Pangkalan Bun naik kelotok cukup lama tapi menyenangkan. Dari tempat tinggal saya lumayan dekat Mbak. Ini recomended banget nih.

  7. ndop says:

    mbak, bukan November ya, tapi Desember 2014. HAHAHAHAHAH… Lali ye?

    Btw, aku pas mendaki khan berada di belakangmu. Dan koyoknya sudha saya foto dari belakang ya. Haha.

    Nunggu undangan dari dinas pariwisata maneh iki. Entah jawatengah, atau provinsi lain ayuk ajah hahaha.

  8. noerazhka says:

    Kangen sama Dieng & Telaga Warna, terakhir kesana awal tahun 2014. Heuuu ..😀

  9. Rivanlee says:

    ah, nyesel kemarin gak naik ke atas buat liat telaga warna dari atas.. gatau😦

  10. Ceritaeka says:

    Aku bakal treking ke dieng juga akhir Feb. semoga cuaca baguuus

  11. meidianakusuma says:

    ih kece kakk🙂 aku belum pernah ke Dieng, kalo saran kak yusmei, better lewat pendakian ini atau yang langsung ke Telaganya yah? dari atas bagusnya langsung nyebur yah kak *lalu ditendang guide*

  12. wisata dieng says:

    sekarang dah ada rumah pohonnya sama spot view. mbak yusmei kapan ke dieng lagi hehe

    salam kenal

    • yusmei says:

      wah tambah maksimal lihat view-nya kalau dari rumah pohon. Ini teman-teman kantor di Jakarta ngajakin lagi ke sana..semoga bisa dalam waktu dekat main ke Dieng lagi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: