Cikal Bakal Perahu Wisata Solo

Lihat perahunya dan latar cahaya lampion di belakangnya. Keren kan?

Lihat perahunya dan latar cahaya lampion di belakangnya. Keren kan?

Pada suatu malam cerah bertabur bintang sekitar 2,5 tahun lalu, saya menikmati momen susur Sungai Thu Bon, di Hoi An Vietnam, dengan menaiki sebuah sampan sederhana. Ada tradisi unik yang lekat dengan atraksi itu. Melepaskan lilin ke aliran sungai, sebuah perlambang harapan. Malam itu saya merapal sepenggal harapan. Semoga suatu saat nanti bisa bersampan di tengah kepungan pendar cahaya lampion di salah satu sungai di Indonesia. Ternyata, keinginan itu terwujud pada 14 Februari lalu. Eh, di Kota Solo pula.

Jadi begini ceritanya. Dalam rangkaian peringatan Tahun Baru Imlek, Pemkot Solo meluncurkan atraksi perahu hias di Kali Pepe, tepatnya di sekitaran Kampung Sudiroprajan, dekat Pasar Gede. Memang baru sebatas uji coba karena hanya berlangsung selama 10 hari, 6-15 Februari 2015. Jika sukses, kemungkinan atraksi ini bakal dipermanenkan. Ah, ide yang menarik.

Mengapa yang dipilih Kali Pepe? Mungkin karena sungai inilah yang melintasi kawasan Kampung Sudiroprajan. Tempat yang selama beberapa tahun terakhir menjadi sentra perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Bengawan, serta menjadi simbol akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa di Kota Solo. Perdebatan tentang perbedaan agama dan budaya sudah jadi hal asing di sana. Jawa dan Tionghoa hidup berdampingan, berinteraksi, tanpa jurang pemisah.
Bermodal rasa penasaran yang besar, saya ditemani Krisna nekat menerobos hujan yang lumayan deras demi menjajal perahu wisata ini. Toh perahu ada atapnya, tak perlu khawatir bakal basah kuyup. Oh iya, perahu ini hanya beroperasi mulai pukul 17.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB.

Saya dan Krisna menuju ke tempat penjualan tiket di dekat Kreteg Gantung Sudiroprajan. Meja penjualan tiket diapit deretan penjual makanan khas Solo, serasa langsung meneror cacing-cacing di perut. Eh di sana malah ketemu Amanda, teman lama yang juga hendak menjajal naik perahu untuk keperluan liputan. Setelah menebus tiket seharga Rp10.000, kami mendapat pinjaman live vest. Syukurlah disediain pelampung, rasanya langsung plong. Maklum saya memang tidak bisa renang, kalau kecebur kan berabe.

Dua perahu sudah bersandar di “dermaga dadakan”, siap mengangkut penumpang. Salah satu perahu sedang diperbaiki. Jadi hanya satu yang beroperasi petang itu. Sekilas saya memandangi kondisi fisik perahu. Sepertinya cukup kukuh. Dua perahu itu didatangkan dari Waduk Gajah Mungkur Wonogiri dan Waduk Cengklik Boyolali. Bedanya perahu itu telah dihias, paduan lampion dan balon-balon cantik berwarna pink serta putih.

Pengemudi perahu meminta kami naik ke perahu satu persatu. Selain kami bertiga, ada penumpang lain yaitu seorang ibu bersama dua anaknya. Saya dan Amanda kebagian duduk di bangku belakang. Jadi kurang leluasa mengambil foto. Tapi tak apalah. Perahu sempat bergoyang-goyang pelan saat hendak melaju. Saya langsung deg-degan, tapi tetap mengumbar senyum. Perlahan perahu meluncur merayapi sungai.

Perjalanan yang akan ditempuh tak terlalu panjang, sekitar 4 kilometer. Hanya berkisar 20 menit. Saking antusiasnya saya malah bingung. Mau menikmati pemandangan di sekitar atau mengambil gambar. Akhirnya harus melakoni keduanya. Perahu meluncur pelan, membelah Sungai Pepe yang sangat sepi. Lampion-lampion yang dipasang melintang di atas sungai memberi efek magis. Sinarnya berpendar di permukaan air, berwarna-warni. Bayangan di air sesekali bergoyang karena terkena baling-baling perahu yang kami tumpangi. Mendekati area Pasar Gede, parade lampion semakin memanjakan mata.

Namun, Kali Pepe bukanlah Venesia, atau Melaka River yang sudah dipoles indah, sehingga nyaman menyambut wisatawan dari berbagai negara. Sampah masih mencemari Kali Pepe. Jumlahnya memang tak sebanyak biasanya karena sebelum uji coba wisata air, Kali Pepe sempat dibersihkan. Saat mengunggah foto perahu wisata itu ke media sosial, beberapa teman langsung megajukan pertanyaan senada. ”Eh, air sungainya bau gak?”, ”Banyak sampahnya gak di sana.” Nada penasaran yang bisa dipahami. Selama ini ”citra” Kali Pepe memang kurang yahud. Pemandangan tumpukan sampah mudah dijumpai di sisi-sisi sungai yang berhulu di Bengawan Solo tersebut.

Pemilihan jam operasional perahu wisata pada malam hari sangat menolong. Setidaknya pandangan kami lebih banyak tersedot ke taburan lampion, bukan usil melirik sampah yang kadang nongol di permukaan air. ”Sebelum dipakai untuk perahu wisata ini, dasar Kali Pepe juga sempat dikeruk, Mbak. Debut Kali Pepe ini mencukupi karena pintu air Demangan ditutup. Kalau tidak ditutup, ya debit airnya tidak cukup untuk dilewati perahu seperti ini,” cerita Mas Rendi, yang jadi pengemudi perahu kami malam itu.

Perahu wisata melintas di Kali Pepe Solo

Perahu wisata melintas di Kali Pepe Solo

Pendar cahaya lampion di permukaan air Kali Pepe Solo

Pendar cahaya lampion di permukaan air Kali Pepe Solo

Susur Kali Pepe yang saya nikmati malam itu bisa dibilang masih cikal bakal wisata perahu di Solo. Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, atau yang biasa disapa Pak Rudy menyampaikan akan mengevaluasi program tersebut. Jika dinilai sukses, kemungkinan wisata perahu di Kali Pepe itu bakal diteruskan, ditandai dengan pembangunan dermaga permanen di Sudiroprajan. Tentu itu saja tak cukup. Kawasan bantaran Kali Pepe bakal dipercantik. Talut sepanjang 500 meter akan dibangun, kemudian dihiasi dengan mural. Pemkot Solo juga berencana membangun taman-taman di bantaran kali. Aliran septic tank yang membuang kotoran manusia sudah dilokalisasi agar tidak langsung dibuang ke sungai. Intinya, Kali Pepe mau tak mau perlu bersolek untuk mewujudkan mimpi wisata air yang nantinya digadang-gadang menjadi salah satu ikon pariwisata Kota Bengawan.

Yang jelas, kunci utama dari semua angan besar itu adalah partisipasi masyarakat. Tak ada gunanya bantaran Kali Pepe dipoles habis-habisan jika tanpa dibarengi kesadaran warga menjaga lingkungan sekitar. Jangan sampai ada tangan-tangan jahil yang membuang sampah sembarangan ke sungai. Nila setitik bisa merusak susu sebelanga. Sekeranjang kecil sampah bisa membuat usaha mempercantik Kali Pepe menjadi sia-sia.

Solo, 14 Februari 2015

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

44 Responses to Cikal Bakal Perahu Wisata Solo

  1. Gara says:

    Semoga atraksi wisata ini jadi permanen sehingga tatkala saya menjejak di Solo, entah kapan, saya bisa ikut menikmatinya :hehe

    Aih, romantisnya. Lampion berpendar, perahu membelah kanal. Serasa kembali ke Jakarta abad 19 ketika kanal-kanal Pasar Baru masih jaya-jayanya :))

    Murah pula, 10 ribu (teteup).

    • yusmei says:

      Romantis sih, asal gak tiba2 ada sampah nongol hihi.
      Berharap ntar diterusin, biar ada alternatif baru buat menjamu kalau ada temen yg datang ke solo dan yg jelas murah meriah itu tadi:D

  2. Pemda Solo itu hebat deh. Agenda pariwisata mereka full depanjang tahun. Ada saja yg mereka jual untuk pariwisata. Mudah2an Ciliwung menyusul Kali Pepe ya, Mbak Yusmei🙂

    • yusmei says:

      Bener banget tante, walaupun sepertinya ada beberapa yg harus dievaluasi karena kurang maksimal. Yang penting harus terus ada terobosan. Kapan2 mampir ke solo ya tante.🙂
      Ciliwung sdh pernah dicoba kalau gak salah, tp katanya terlalu kotor,jd penumpangnya males hehe

  3. nyonyasepatu says:

    Bagus banget ya sebenarnya ide kayak gini, di Medan harusnya dibuat juga secara banyak sungai gitu

  4. Wahhhh program kreatif!!! Semoga terus berlanjut programnya!

  5. wih macem di luar negeri mbak mey.. kalo bener asik tuhh.. heheh *brbtelpon pak walikota”

  6. momtraveler says:

    Iihh.. keren euy idenya..semoga kedepannya bisa sebaik wisata susur sungai di negara lain ya mbak. Dan semoga jd penyemangat juga utk warga Solo lebih menjaga lingkungan ^^
    Jadi pengen ke Solo euy.

  7. dee nicole says:

    jempol buat pemkot. tapi banyak yg harus dievaluasi. banyakkkk…

  8. aning says:

    udah 11-12 sama Hoi An…. smoga bisa memupus kerinduan balik ke sana lagi, … atau malah smakin pingin? hehehehe

  9. Pemkot Solo kreatif ya! Wisata sungai itu ide menarik, menambah daya tarik pariwisata kota Solo. Aku yakin sih, orang Solo (dan rata-rata orang Jawa, mungkin) itu “sembodo”, bisa menjaga kotanya kalau nanti sudah dipercantik.

    Di Bandung aku prihatin, mbak. Walikota udah merapikan banyak taman, udah merenovasi Alun-Alun, eh lha kok terus kotor dalam waktu sekejap😦

  10. Rifqy Faiza Rahman says:

    Waaaah asyik juga ya, berasa naik kanal di Venesia atau di Cina gitu😀

    Setuju banget paragraf terakhirnya, kalau kita sudah sepakat tentang sebuah kesadaran bersama, selanjutnya akan gampang kok🙂

  11. ndop says:

    Aku yo gak iso renang. Untunge dikeki pelampung dadi gak was was nek kecemplung trus glagepan. Haha.

    Kapan2 njajal ah. Koyoke seru yaaa.. Mending sing jam jam bengi wae, ben petenge maksimal. Hahaha..

    Btw, nek pas sore, matahari berada di sebelah mana mbak? Apakah bisa sambil menikmati sun set di depan perahu?

    • yusmei says:

      Tapi yo njajale kosik2 masndob..wingi kui lagi uji coba…mbuh ono meneh kapan hahaha
      Kalau sore matahari di sebelah barat dong, biar bisa nikmati sunset harus duduk di depan

  12. Eh lucu yaaaa … semoga tetep bersih terawat

  13. mysukmana says:

    tapi sekarang masih ada apa nggak ya mbak…pengen banget naik ini perahu tapi blm ada kesempatan dan waktu yang tepat😦

    • yusmei says:

      Itu baru uji coba sih mas. Tp kayaknya bakal diterusin, walaupun entah kapan😀

      • mysukmana says:

        klo di PHP in sama pemkot ogah..tp masyarakat sekitar kali itu harusnya ikut ndukung..cuma sekarang kalinya asat mbak..hehe jadi gak bisa buat perahu

      • yusmei says:

        Justru menurutku yg plg vital masyarakat sekitar mas. Kalau sudah ada ada wisata air tanpa dibarengi kesadaran jaga kebersigan yo bubar jalan hehe. Memang nantinya kalau jd ada wisatanya itu, bakal diterapkan rekayasa air, pengaturan salah satunya dgn pintu air demangan,nek gak pake rekayasa air, mesti asat terus. Yg kemarin itu pintu air demangan ditutup, jd debit aire cukup mas, nek ora ditutup yo wassalam hehe

  14. xaveria says:

    Wah, Solo makin cantik. Di Surabaya juga ada mbak wisata susur sungai gitu. Tapi, sayang hanya sebagian kecil dari ruas Kalimas yang dimanfaatkan untuk wisata air.

  15. wah, kemaren pas mudik kok gak tau yah… hiks
    masih adakah sekarang mbak yus?

  16. bersapedahan says:

    wah solo sudah selangkah di depan dari jakarta ….. meskipun kalinya belum bersih tapi sudah di jadikan tempat wisata

    • yusmei says:

      Tapi itu baru uji coba. Masih dievaluasi apakah akan diteruskan secara permanen atau tidak. Tapi setidaknya sudah dicoba, semoga sih diteruskan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: