Pariwisata (Idealnya) Ramah Difabel

difabel

Candi Plaosan belum dilengkapi dengan sarana aksesibilitas, sehingga menyulitkan untuk para difabel

Candi Plaosan memesona seperti biasanya. Perpaduan candi-candi kukuh dan hamparan langit biru cerah bagai duet maut, menggoda para pemburu keindahan. Saya pun takluk. Namun, siang itu perhatian saya terbelah. Saat mengamati relief candi, pandangan mata saya berulang kali teralihkan kepada sesosok gadis kecil berambut pirang dan berbaju pink. Dia sendirian di pelataran candi, dekat pintu gerbang. Duduk di kursi roda. Pandangan matanya fokus ke komputer tablet yang dipegangnya. Entah dengan siapa dia datang.

Saat kami hendak meninggalkan kompleks candi, teka-teki itu terjawab. Seorang wanita cantik berkaus biru muda menghampirinya. Mungkin ibunya atau saudaranya. Wanita itu tadinya terlihat serius mengamati bagian-bagian candi. Mungkin peneliti karena gayanya bukan seperti turis kebanyakan. Bisa juga dia seseorang yang sangat menyukai candi. Entahlah.

Adegan selanjutnya membuat perhatian saya benar-benar tercurah kepada mereka. Wanita berkaus biru muda itu mengangkat si gadis kecil dari kursi rodanya, kemudian digendong melewati pintu gerbang yang berundak. Si gadis kecil sepertinya didudukkan di bangku atau batuan. Saya tak tahu pasti karena adegan itu terhalang gerbang candi. Sekali lagi wanita itu berjalan melewati gerbang. Kali ini untuk mengangkat kursi roda, yang kemudian kembali ditempati si gadis cilik berambut pirang. Mereka kemudian berjalan meninggalkan kompleks candi. Wanita berkaus biru muda itu tanpa tergesa-gesa mendorong kursi roda si gadis kecil sembari memegang payung hitam. Saya yang juga berjalan keluar, terus memandangi mereka dari belakang.

Kursi roda tidak bisa melewati gerbang candi Plaosan, jadi harus digotong

Kursi roda tidak bisa melewati gerbang candi Plaosan, jadi harus digotong

Jujur ini pengalaman pertama saya mengamati dengan seksama keberadaan fasilitas difabel di sebuah objek wisata di Indonesia. Sebelumnya kalau pun pernah ketemu dengan penyandang disabilitas di suatu objek wisata, saya enggak kepikiran memperhatikan secara detail. Paling melihat sambil lalu.

Dari adegan gadis cilik dan kursi rodanya tadi kesimpulannya jelas. Kawasan Candi Plaosan belum ramah difabel alias tak menyediakan sarana yang aksesibilitas. Oh ya, kaum difabel yang dimaksud ini meliputi semuanya. Baik yang kecacatannya seperti gadis kecil tadi, maupun penyandang tunanetra, tunagrahita dan lain-lain. Plaosan belum punya akses untuk penyandang disabilitas. Tak ada jalan berbidang miring menuju candi yang bisa dilewati kursi roda atau jalur khusus bagi penyandang tunanetra. Toilet khusus untuk penyandang difabel? Jelas belum ada juga.

Sebenarnya bukan hanya Plaosan yang kurang ramah difabel. Pak Mulyanto, senior saya di kantor yang seorang penyandang difabilitas, mengamini bahwa sebagian tempat wisata di Indonesia belum ramah difabel. Sebut saja Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Padahal keduanya adalah objek wisata andalan di Tanah Air. Pak Mul pernah punya cerita miris soal fasilitas difabel di Candi Prambanan. Jadi, pihak pengelola sebenarnya sudah menyediakan toilet khusus difabel dengan tanda gambar kursi roda dipasang di pintunya. Tapi toilet itu sama sekali tak berguna karena pengelola tak melengkapinya dengan bidang miring yang bisa diakses penyandang difabel. Entah apakah sekarang sudah dibenahi atau belum.

“Saya juga punya pengalaman tak mengenakkan saat berkunjung ke Monas. Saat itu saya harus dibopong masuk, karena tak ada akses masuk yang bisa dilewati kursi roda. Saya minta kejadian itu difoto, kemudian saya unggah ke Facebook. Banyak yang komentar. Kalau tempat wisata yang ramah difabel di Jakarta, setahu saya salah satunya Dufan (Dunia Fantasi),” kisah Pak Mul.

Solo adalah salah satu kota yang menurut Pak Mul cukup ramah difabel, meskipun masih jauh dari ideal. Sejak dulu Kota Bengawan memang punya sejarah erat dengan disabilitas. Solo punya RS Ortopedi dr. Soeharso yang jadi rujukan nasional. Kantor pusat National Paralympic Commitee  Indonesia (organisasi olahraga untuk atlet difabel) ada di Solo. Kota Bengawan juga sudah punya Peraturan Daerah (Perda) No. 2 tahun 2008 tentang Kesetaraan Difabel. Namun tetap saja penerapannya belum maksimal. Fasilitas publik di Solo belum semuanya ramah difabel, seperti transportasi, akomodasi dan lain-lain. “Objek wisata seperti Keraton Kasunanan itu juga belum ada akses untuk difabel. Jadi ya cuma bisa melihat dari luar saja. Kalau masuk tidak bisa,” beber Pak Mul.

Taman Balekambang Solo

Taman Balekambang Solo cukup ramah untuk kaum difabel

Cerita senada diungkapkan Pak Mardiyanto, seorang difabel yang menjabat sebagai Wakil Ketua Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC) Solo. Beliau menyebut objek wisata di Indonesia yang benar-benar ramah difabel sangat minim. Pilihan kaum difabel untuk berwisata akhirnya sangat terbatas. Mau tidak mau harus berdamai dengan segala keterbatasan itu. “Hanya beberapa objek wisata yang ramah difabel. Kalau di Solo misalnya Taman Balekambang dan Taman Sekartaji. Taman Balekambang pun sebenarnya belum ideal, terutama untuk penyandang tunanetra. Tapi kami anggap saja itu ideal. Jadinya anak-anak difabel ya bisanya berwisata ke tempat-tempat tertentu saja,” kisah Pak Mardiyanto dalam perjumpaan dengan saya tahun lalu.

Untuk menciptakan konsep pariwisata ramah difabel tak cukup hanya membenahi sarana aksebilitas di objek wisatanya. Menurut Pak Mardiyanto juga harus mencakup aspek-aspek lainnya. Sebut saja sarana transportasi yang ramah difabel, fasilitas publik (penginapan, tempat belanja, jalan, tempat makan dan lain-lain) yang juga bisa diakses difabel, serta kemampuan pemerintah untuk mau berpihak kepada kaum difabel. Payung hukum terkait hal ini sudah lengkap, yang ditunggu adalah aplikasinya.

“Negara yang sudah sangat ramah difabel salah satunya Hong Kong, Singapura juga. Negara-negara Barat juga lumayan. Kalau Indonesia masih jauh, bahkan di Jakarta pun belum ramah untuk kaum difabel,” urai Pak Mardiyanto.

Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata saat ini sedang giat-giatnya menggenjot sektor pariwisata. Harapannya makin banyak wisatawan mancanegara berkunjung ke Tanah Air. Imbasnya pemasukan untuk negara juga terdongkrak. Saya berharap gegap gempita ini tak mengabaikan saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Sudah saatnya konsep pariwisata ramah difabel benar-benar diaplikasikan. Pembenahan objek-objek wisata jangan hanya mempertimbangkan kebutuhan “turis normal”. Sarana aksesibilitas juga harus diprioritaskan. Jangan sampai saudara-saudara kita penyandang difabel hanya menjadi penonton dari gegap-gempita pariwisata di negeri ini. Mereka punya hak sama besar untuk menikmati keindahan negeri ini, dengan senyaman mungkin.

Solo, 25 Februari 2015

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

20 Responses to Pariwisata (Idealnya) Ramah Difabel

  1. mawi wijna says:

    Saya jadi membayangkan, gimana caranya air terjun bisa ramah bagi difabel mengingat Medan menuju ke sana kan harus menerabas hutan? Mungkin ada beberapa obyek wisata yang mesti tetap dibiarkan alami seperti adanya dan bagi teman2 difabel yg ingin berkunjung ke sana memang harus didampingi oleh orang non difabel.

    • yusmei says:

      Memang gak harus semua objek wisata sih Mawi, bisa dimulai dulu dari yang umum2 dikunjungi.
      Tetapi kadang yang sulit kita bayangkan bisa lho dilakoni. Pak Mardiyanto itu seorang difabel yang beberapa kali ikut kegiatan diving😀

  2. Senang banget baca postingannya, karena saya juga mengalaminya dan mungkin one day akan saya tulis juga pengalamannya. Jujur, kita masih minim sekali kesadaran akan hal ini di tempat pariwisata…. terima kasih udah berbagi… bagus banget mba….

    • yusmei says:

      Jadi penasaran nunggu ceritanya Mbak. Saya juga baru kali itu mbak memperhatikan sungguh2, sebelumnya jarang “nggagas”…
      Ditunggu ceritanya ya mbak🙂

  3. meidianakusuma says:

    jangankan buat difabel kak, buat elder juga kurang diperhatikan sepertinya yah

    aku juga suka bingung karna sebenarnya banyak banget potensi wisata di negara kita, tapi aku juga kadang mau bawa-bawa elder kasian takut medannya bikin ribet mereka :((

    padahal mereka juga mau jalan-jalan, tapi akunya yang kasian kalo disananya mereka malah cuma cape tapi ga bisa kemana-mana

    • yusmei says:

      Intinya masih banyak banget PR yg harus dibenahi ya Mei. Memang gak bisa sekaligus, harus bertahap. Tapi smg plg tidak ada upaya perbaikan itu, biar semua bisa menikmati kekayaan wisata indonesia dengan nyaman😀

  4. Taman Sekartaji di mana ya mbak? Kok malah rung ngerti *tutup muka*
    Iya ya harusnya candi-candi dibikin trek khusus difabel meski harus muter agak jauh agar tidak merusak atau mengubah pondasi candi. Sebenarnya semua bisa, tapi perintahnya si atasan kadang cuma omong kosong saja dari tahun ke tahun hehehe

    • yusmei says:

      Yang di urban forest itu lho lim? Haha. Sebenernya candi itu hanya contoh Lim, banyak tempat wisata yg “lebih umum” pun belum terssntuh fasilitas untuk difabel. Iyaa..di candi kalaupun dibikin sarana aksesibilitas jgn sampau mengubah tatanan candi, bisa dimodifikasi secermat mungkin. Gak mungkin juga kan misal dibikin bidang miring sampai stupa teratas borobudur misalnya. Secukupnya wae😀

  5. juicytrip says:

    semoga tulisan ini dibaca ma menteri pariwisata biar ga ngurusin pemasaran wisata aja. biar sebelum dipasarkan sebaiknya dipikirkan fasilitas umum, keamanan dan infrastrukturnya. Untuk mencapai tingkat ideal, konsep ramah difabel harus terintegrasi dalam sebuah sistem, dari transport hingga fasiltas umum. Di ostrali, misalnya, orang pakai kursi roda bisa naik bus dan kereta metro, sopir bus pun turun untuk membantu menaikkan penumpang. Nah kalau di Indonesia tampaknya belum ada yang seperti ini. Indonesia memang masih jauh dari ideal, tapi seharusnya pembuat kebijakan dapat memulai membuat sistem itu.
    btw, tulisan yg bagus.

    • yusmei says:

      Nah kadang ini yg luput dari perhatian. Suka sudah buru2 dipasarin padahal belum siap. Memang sih tidak berharap segera semuanya ramah difabel, tp setidaknya ada niat untuk memulai sistemnya. Dibenahi sedikit demi sedikit hingga mendekati ideal. Sayang kan kalau potensi yg ada tidak didukung sistem yg oke.
      Makasih sudah mampir🙂

  6. Boro-boro difabel, yg buat orang normal aja nggak diperhatikan. Trotoar bocel-bocel, misalnya. *eh jadi salah fokus*

    Yg di candi mungkin bisa dibuat trek portabel untuk kursi roda gitu kali ya, yg kayak papan buat sepeda motor di rumah-rumah, jadi nggak merusak candinya juga. Nambah lagi nih PR-nya Menpar😀

  7. Setuju banget, harus nya ada jalan atau jalur buat difabel yaaa

  8. mysukmana says:

    klo kota kita solo sudah sangat memperhatikan para kaum di fabel mbak..mampir kene meneh🙂

    • yusmei says:

      Solo mmg termasuk yg cukup ramah dgn difabel mas, meskipun masih jauh dari ideal jugaaa. Tapi udah mending banget dibanding kota lain😀

  9. ndop says:

    Lha wong masyarakat kita ini juga kadang gak paham kalau ada tangga trus di tengahnya ada jalan halus gak berundak itu khusus difable, eh malah dilewati motor.

    *ngelus dodo*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: