Bumi Bung Karno

Relief di Kompleks Museum Bung Karno Blitar

Relief di Kompleks Museum Bung Karno Blitar

Udara segar menerobos pori-pori kulit ketika saya dan Krisna melangkah keluar dari Stasiun Blitar. Subuh baru saja berlalu. Suasana di depan stasiun cukup lengang. Kami memutuskan mengayun langkah menuju alun-alun. Hanya dalam tempo 15 menit Alun-alun Blitar sudah tertangkap jangkauan mata. Sebenarnya ingin menghangatkan tubuh dengan segelas minuman hangat. Tapi kami akhirnya hanya berjalan mengitari alun-alun yang diapit Balai Kota Blitar dan Kantor Pemkab Blitar itu.

Sekitar pukul 06.00 WIB, saya menghubungi Mbak Retno, rekan dari Solo yang kebetulan juga sedang berlibur ke Blitar bersama suaminya. Mereka menginap di Hotel Tugu Sri Lestari, lokasinya hanya sepelemparan batu dari alun-alun. Melipirlah kami ke sana, buat mandi dan leyeh-leyeh sebentar. Maklum kami baru mau booking kamar menginap nanti siang sekalian muter-muter.

Hotel Tugu Sri Lestari memiliki bangunan utama bergaya kolonial yang dibangun pada 1850. Nah, di bangunan ini ada sebuah kamar spesial, yang dulu jadi favorit Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Konon, Bung Karno selalu bermalam di sini setiap pulang kampung ke Blitar. Memang di Blitar ada rumah milik kakaknya, Soekarmini Wardoyo. Namun untuk alasan kenyamanan, Bung Karno memilih menginap di Hotel Tugu. Kamar spesial itu kini diberi nama Sang Fajar Room.

Sang Fajar Room Hotel Tugu Sri Lestari

Sang Fajar Room Hotel Tugu Sri Lestari

Iseng-iseng kami minta izin mengintip kamar tersebut. Ternyata boleh. Sang Fajar Room sangat luas, terdiri atas dua ruangan, yaitu ruang tidur dan ruang kerja. Tempat tidurnya juga sangat besar, dipannya terbuat dari kayu jati. Ada lambang garuda dipasang di dinding. Sedangkan di ruang kerjanya ada sejumlah buku, kemudian tongkat dan topi milik Bung Karno. Mau tahu tarif untuk kamar ini? Siapkan kocek senilai Rp3 juta untuk menginap semalam.

Selesai mandi dan leyeh-leyeh, saya dan Krisna nyamperin teman untuk mengambil pinjaman sepeda motor. Lumayan juga dapat pinjaman motor karena lebih praktis buat muter-muter kota. Deastinasi yang kami incar tak jauh-jauh dari jejak Sang Proklamator. Pantas saja kota ini dijuluki Bumi Bung Karno. Jejak Sang Putra wajar memang ada di mana-mana. Seolah-olah menjadi jantung dan denyut nadi Blitar.

Tujuan pertama kami adalah menyambangi makam Bung Karno. Makam ini berada di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sanawetan, sekitar 3 kilometer dari pusat kota. Peziarah sudah berjubelan di arena makam saat kami sampai di sana. Mungkin karena akhir pekan. Peziarah datang bergelombang. Ada yang kelompok kecil, namun mayoritas merupakan rombongan besar. Dari orang tua sampai anak kecil ada, komplet. Saking banyaknya peziarah, saya sulit mendekati pusara Bung Karno yang dinaungi bangunan berbentuk joglo. Paling hanya bisa duduk di pinggir sembari memandangi atap joglo yang bermotif indah.

Makam Bung Karno diapit makam kedua orang tuanya. Di sebelah kiri ada makam sang ayahanda, R. Soekeni Sosrodihardjo dan di sebelah kanan ada makam ibundanya, Ida Aju Njoman Rai. Alunan doa tak henti-hentinya mengalun di sana. Begitulah orang baik. Selalu berlimpah doa. Dulu para peziarah tak bisa mendekati nisan Bung Karno apalagi menyentuhnya karena ada penyekat kaca. Dinding kaca itu baru dibongkar di masa Presiden Gus Dur. Tujuannya jelas. Bung Karno pasti selalu ingin ”dekat” dengan rakyatnya.

Yang paling saya sukai dari kompleks Bung Karno adalah banyaknya tukang becak, tukang ojek, hingga para penjual souvenir. Mereka mayoritas tergabung dalam suatu paguyuban, yang teridentifikasi dari kaus seragam yang dipakai. Keberadaan mereka seolah menjadi menjadi pembenar mengapa Blitar dijuluki Bumi Bung Karno. Bahkan lama setelah meninggal, Bung Karno masih mampu ”menggerakkan” roda perekonomian di kota kelahirannya.

Kami melanjutkan langkah ke menuju museum dan perpustakaan yang lokasinya sekompleks dengan makam. Nah, ada sesuatu yang istimewa pada jalanan yang menghubungkan kompleks makam dan museum. Deretan tiang-tiang besar yang dibangun berjajar. Pada masing-masing tiang ditempel semacam poster bertuliskan kalimat pembangkit semangat yang pernah dilontarkan Bung Karno. Menyenangkan sekali membaca satu demi satu kalimat tersebut. Begitu menggelitik rasa nasionalisme.

foto bung karno-bung hatta

Museum Bung Karno menyimpan benda-benda peninggalan Sang Proklamator sejak masa kecil hingga akhir hayatnya. Namun, ada satu koleksi lukisan Bung Karno yang jadi highlight. Konon lukisan yang dibuat oleh IB Said pada 2001 itu seperti hidup, karena tepat di bagian jantungnya bergerak dengan sendirinya. Sedangkan koleksi perpustakaan yang terletak di samping museum cukup lengkap. Buku-buku lama Bung Karno yang sudah langka bisa ditemukan di sini. Tentu saja harus dibaca di tempat, tak boleh dibawa pulang.

Stadion PSBK Blitar

Stadion kandang PSBK Blitar

Keluar dari kompleks makam dan museum, perut saya dan Krisna sudah protes minta diisi. Nah, acara mengisi perut ini sekalian membawa misi mampir ke Stadion Gelora Supriyadi, markas PSBK Blitar. Mampir ke stadion sepak bola memang jadi salah satu ”ritual” saya setiap traveling ke suatu daerah. Tidak harus sih, tapi diusahakan nengok walaupun cuma sebentar. Sebenarnya Blitar juga punya klub PSBI. Namun lokasi stadionnya bukan di jantung kota. Alhasil, saya dan Krisna harus cukup puas mampir di satu stadion saja.

Setelah makan, tujuan selanjutnya adalah memboking penginapan dan menyambangi Ndalem Gebang atau populer dengan sebutan Istana Gebang. Ini rumah bersejarah tempat Bung Karno menghabiskan sebagian masa remajanya. Lokasinya di Jl. Sultan Agung, Kelurahan Bendo Gerit, Kecamatan Sanan Wetan. Sama seperti saat di makam, pengunjung Istana Gebang juga cukup ramai. Maklum saat itu akhir pekan dan bulan Juni pula.

Dulunya rumah seluas 1,4 hektare ini sulit diakses publik. Namun sejak Pemkot Blitar membelinya dari ahli warisnya, yaitu    Soekarmini Wardoyo, pada 2011, publik pun leluasa berkunjung untuk melihat benda-benda bersejarah peninggalan keluarga Bung Karno. Pemkot Blitar harus merogoh koceh senilai Rp35 miliar untuk mendapatkan rumah tersebut. Mahal sih, tapi sepadan lah dengan nilai sejarahnya.

Kami berkeliling rumah ditemani seorang pemandu, sayang saya lupa namanya. Saat memasuki satu persatu ruangan, saya dan Krisna menyimpulkan keluarga Bung Karno memang lumayan berkecukupan. Pada zamannya Istana Gebang adalah bangunan yang menurut saya cukup mewah. Bayangkan saja, meskipun umurnya susah tua, rumah tersebut masih tampak elegan serta luas. Ada satu kamar utama, dua kamar anak (untuk Bung Karno dan kakak perempuannya), juga ada dua kamar tamu. Belum lagi bangunan terpisah di bagian belakang, yang terdiri atas dapur, kamar mandi dan sumur tua, serta ruang penyimpan berbagai perabotan. Ada juga gedung kesenian dan garasi berisi mobil klasik milik keluarga Bung Karno. Mobil tersebut sudah lama tidak dipakai, tapi masih terawat baik.

Kamar Bung Karno di Istana Gebang

Kamar Bung Karno di Istana Gebang

Di rumah utama, kita bisa menjumpai dua set kursi jati elegan, kursi rotan, berbagai lukisan Bung Karno dan keluarganya, mesin ketik kuno, piagam, serta foto-foto yang dipasang di dinding dan lemari. Di salah satu lemari, dipajang foto istri-istri Bung Karno. Yah, kita tahu Bung Karno total punya sembilan istri, yaitu Siti Utari Tjokroaminoto, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manoppo, Naoko Nemoto alias Ratna Sari Dewi, Haryati, Yurike Sanger, dan Heldy Djafar. Sayangnya, tak semua foto istri Bung Karno disimpan di Istana Gebang. Seingat saya hanya empat orang yang fotonya dipajang.

Ciri khas lain Istana Gebang adalah patung besar Bung Karno berwarna putih yang berdiri gagah di halaman depan. Di bagian bawah patung dilengkapi tulisan “Bung Karno lebih mentjintai rakjatnja daripada dirinja.” Yang juga pantang dilewatkan yaitu keberadaan Gong Perdamaian di bagian lain halaman depan. Di gong tersebut tertempel lambang bendera berbagai negara di dunia. Oh ya, jika ingin membeli suvenir, pihak pengelola juga menyediakan. Ada buku, miniatur patung Bung Karno, hingga kartu pos.

Puas menapaki jejak-jejak Sang Putra Fajar nyaris seharian, kami memutuskan menutup petualangan hari itu dengan menikmati kesunyian Candi Penataran. Lokasinya sekitar 12 km dari pusat Kota Blitar, tepatnya di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok. Candi ini diperkirakan dibangun pada masa Raja Srengga dari Kerajaan Kadiri sekitar tahun 1200 Masehi. Duduk-duduk santai sembari menanti sang malam datang sembari memandangi candi yang anggun ternyata sangat menenangkan. Selamat malam Blitar, semoga suatu saat bisa bersua lagi.

Blitar, Juni 2014

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

31 Responses to Bumi Bung Karno

  1. Rifqy Faiza Rahman says:

    Blitar kota Patria, saya setuju mbak, bagaimanapun memang Bung Karno masih terasa “dekat” dengan rakyatnya🙂

    • yusmei says:

      Beliau dulu pasti “tidak suka” saat makamnya dibatasi dinding kaca. Sama sekali tak mencerminkan sosok Bung Karno🙂

      • Rifqy Faiza Rahman says:

        Gus Dur sepertinya mampu “membaca” kondisi yang seperti itu ya🙂

      • yusmei says:

        Bener banget. Dan makam Gus Dur sendiri juga sangat sederhana dan dekat dengan rakyatnya

        Sent from Samsung tabletUsemayjourney wrote:

  2. Baca ini jadi inget hutang nulis Blitar juga huahahaha

  3. rahayuasih says:

    Bung Karno sesosok yang legend di hati masyarakat dan Bangsa Indonesia :3

  4. mawi wijna says:

    Endingnya pas banget, berkunjung ke candi🙂

  5. Gara says:

    Aduh, Blitar! Begitu menyihir, dan begitu berdetak. Selama Indonesia masih bernapas, selama masih ada satu saja jantung insan nusantara yang berdetak, saya yakin jantung di lukisan Bung Karno itu pun akan tetap berdenyut, sebab jantung itu adalah jantung kita, detakan itu adalah degupan kita *mendadak terharu*
    Dan… Palah. Oh, Tuhan. The official temple of Wilwatikta. Dibangun sebagai tempat ibadah tahun 1199 M oleh Raja Srengga, namun dikembangkan sampai situsnya kini di masa Majapahit, menjadi candi negara, yang dipuja-puja dalam Desawarnana sampai Tantu Panggelaran.
    Saya berharap suatu hari nanti, badan candi utama yang terpisah dari dasar candinya itu bisa disatukan… sehingga orang tidak keliru mengira candi angka tahun itu sebagai Candi Penataran :huhu.

  6. capung2 says:

    Sptnya kota Blitar mmg identik dgn Bung Karno.

    Kamarnya bung Karno terkesan magis ya..

  7. Aku ketempat ini zaman dulu SD bareng rombongan study tour hehehe.
    Btw itu kamar ala2 terkesan mistis ngak sech ????

  8. arip says:

    Presiden terganteng, pantesan aja ya bisa jadi playboy.
    Angker lukisannya IB Said.

  9. Afrilla says:

    ke Floresssss Pulau Ende hehehehehe

  10. ndop says:

    Aku berkunjung ke sini kapan yaa.. sik diluk, tak ngecek postingan.. wuih 22 januari 2009. Wuih wis suweeeee.. hahahah..

    kapan2 mrono maneh koyoke asyik..

  11. dee nicole says:

    Ketoke mbiyen aku takok benderane ono piro ning gonge :p

  12. xaveria says:

    Blitar penuh sejarah ya. Oia, di Blitar ada yang namanya es drop loh mbak. Orang-orang kalo beli sampe berdus-dus. Hahaha…

  13. riri says:

    Aku ingin kesna. Aku ingin ke blitar. Jg ke majapahit….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: