Jelajah Pecinan: Tiongkok Rasa Semarang

Suasana di Pecinan  Semarang

Suasana di Pecinan Semarang

Suasana jalanan ini seperti tak asing. Mirip keriuhan di salah satu distrik di Ho Chi Minh City, Vietnam beberapa tahun silam. Tidak identik, minus hilir mudik turis-turis asing dan keruwetan kabel listrik yang jauh dari konsep keindahan. Mungkin bisa dibilang lebih mirip suasana sore di Tiongkok. Eh, tapi kan saya belum pernah ke Negeri Tirai Bambu itu.

Sore bernuansa deja vu tersebut berlokasi di kawasan Pecinan Semarang, pada pertengahan Ramadan tahun lalu. Rasa penasaraan membawa saya dan Azizah kembali ke sana, tepat dua hari seusai perayaan Tahun Baru Imlek, Februari 2015 lalu. Kami mengabaikan teriknya paparan sinar matahari Semarang yang menyengat. Worth it lah jika alasannya untuk menjelajahi salah satu kantong komunitas Tionghoa terbesar di Tanah Air tersebut

Jika dirunut ke belakang, terbentuknya kawasan Pecinan ini dipicu pemberontakan orang Tionghoa kepada kompeni Belanda di Batavia pada tahun 1740. Butuh tiga tahun untuk memadamkan gejolak tersebut. Tak heran, Belanda khawatir peristiwa serupa juga meletus di Semarang. Mereka kemudian memindahkan orang-orang Tionghoa di Semarang yang dulunya bermukim di Gedong Batu ke kawasan pecinan yang sekarang. Kawasan itu dipilih karena berdekatan dengan Tangsi Militer Belanda di Jl. K.H. Agus Salim atau yang sekarang menjadi Miramar Restaurant. Tujuannya supaya memudahkan pengawasan.

Abad telah berganti, namun eksistensi etnis Tionghoa di kawasan tersebut masih lestari. Memasuki kawasan Pecinan seperti tersedot ke dimensi lain Kota Semarang. Mulai gang-gang dan kulinernya yang khas, kelenteng-kelenteng yang terselip di tengah-tengah deretan pertokoan, hingga aktivitas warga Tionghoa yang bisa dijumpai di setiap sudut Pecinan. Semuanya menawarkan cerita dan sejarah yang seolah tak ada habisnya dikupas.

Jarum jam sudah meninggalkan pukul 13.00 WIB. Penjelajahan kami dimulai dari Gang Lombok. Target pertama tentu saja kulinernya yang paling tersohor, Lunpia Gang Lombok. Ini adalah salah satu kuliner legendaris di Semarang yang kini dikelola oleh Siem Swie Kiem, yang merupakan generasi ketiga Lunpia Gang Lombok. Saya sudah pernah mencicipinya sekali. Memang enak banget. Sayangnya, siang itu kami tidak berjodoh. Kios lunpia tutup karena masih liburan Imlek. Kecewa sih, tapi mau bagaimana lagi? Tinggal balik lagi kapan-kapan (dan ternyata lagi-lagi tak berjodoh).

Kelenteng Tay Kak Sie

Kelenteng Tay Kak Sie

Sederetan dengan kios lunpia, berdiri anggun Kelenteng Tay Kak Sie, tepatnya di Jl Gang Lombok No. 62 Pecinan. Penandanya berupa atap berwarna biru tosca berhias patung empat naga. Sepasang naga di tengah terlihat sedang memperebutkan matahari. Awalnya kelenteng ini hanya tempat untuk memuji Dewi Welas Asih (Kwan Sie Im Po Sat), tapi kemudian berkembang untuk memuji dewa-dewi Tao lainnya. Saat kami masuk, suasana kelenteng lumayan sepi. Tak ada umat yang berdoa. Nah, kala menyambangi bagian-bagian kelenteng, saya mendapati sebuah ornamen menarik. Ada patung pria tua berbaju biru dan merah sedang memancing di kolam teratai kecil. Entah apa artinya.

Keanggunan kelenteng yang dibangun pada 1771 ini berpadu dengan aura keberanian, ketangguhan, dan kecerdasan yang terpancar dari patung Laksamana Cheng Ho yang berdiri kukuh di halaman kelenteng. Tentu tahu dong siapa Cheng Ho? Seorang pelaut muslim dari Tiongkok yang melakukan penjelajahan samudra pada tahun 1400-an. Dalam penjelajahannya, Cheng Ho singgah di berbagai wilayah, salah satunya Semarang. Dulu di depan Tay Kak Sie ada replika kapal Cheng Ho. Namun, replika itu akhirnya dibongkar pada akhir Oktober 2014 karena keberadaannya di atas Kali Semarang mengganggu sistem drainase dan aliran sungai.

Kami kemudian bergeser ke Rumah Abu Kong Ting Soe, yang berada di sampaing Tay Kak Sie. Entah kenapa, saya merasa sendu saat memasuki bangunan yang didirikan pada tahun 1845 tersebut. Mungkin karena Kong Tik Soe merupakan rumah ibadat untuk memberikan penghormatan kepada para leluhur. Bangunan didominasi warna cokelat suram, serta ada beberapa ornamen berwarna merah dan hijau. Di bangunan utama ada meja dan kursi-kursi seperti untuk perjamuan. Kemudian di bagian altar depan tersimpan abu jasad tokoh-tokoh Tionghoa yang dihormati. Kami tak bisa berlama-lama di sini. Sayang juga tak ada petugas yang bisa diajak ngobrol. Padahal saya penasaran dengan cerita tentang tokoh-tokoh yang abu jasadnya disimpan di sana.

Kelenteng Tong Pek Bio Pecinan Semarang

Kelenteng Tong Pek Bio Pecinan Semarang

Saya dan Azizah kembali menghampiri sepeda motor untuk melanjutkan perjalanan. Sinar matahari belum juga meredup. Badan sudah basah dengan peluh. Tujuan berikutnya Gang Pinggir, bisa dibilang inilah jalan utama di Pecinan Semarang. Ada tiga kelenteng yang bisa disambangi (tapi kami baru mendatangi dua kelenteng). Yang pertama adalah Tong Pek Bio. Tong Pek Bio lebih dikenal dengan sebutan Klenteng Gang Pinggir, rumah bagi Dewa Bumi, Hok Tin Tjing Sin. Hal pertama yang menarik perhatian di kelenteng ini adalah kue-kue keranjang yang digantung di depan pintu. Mungkin sisa-sisa hiasan perayaan Tahun Baru Imlek. Siang itu klenteng sangat sepi, tak ada aktivitas apa pun. Kami hanya menjumpai seorang pria paruh baya. Saya lupa menanyakan namanya. Dia bercerita salah satu yang istimewa dari Tong Pek Bio adalah pintunya yang berlukiskan dewa-dewa. Pintu seperti itu tak ada yang menyamai di Pecinan. Ada yang berusaha membuat replikanya, tapi tak berhasil. Hmmm..menarik.

Nah, sebelum menuju klenteng berikutnya, kami mampir sebentar ke toko Kue Bulan dan Kue Pia Cap Bayi. Lokasinya juga di Gang Pinggir, tak jauh dari Tok Pek Bio. Kue Cap Bayi ini sudah tersohor sejak puluhan tahun lalu dan kini dikelola oleh generasi ketiga keluarga Siauw Tik Djoe. Sebenarnya pengin nanya-nanya tentang sejarah toko tersebut. Tapi penjaga tokonya lebih banyak senyum dan tertawa saja kalau ditanya. Ya sudah. Azizah sempat membeli sekotak kue pia sih. Apesnya saya lupa nyicip!

Kelenteng Ling Hok Bio Pecinan Semarang

Kelenteng Ling Hok Bio Pecinan Semarang

Nah, kelenteng kedua di Gang Pinggir adalah Ling Hok Bio. Kami harus bersabar sebentar sebelum masuk karena sedang banyak yang beribadah. Jangan sampai keberadaan kami mengganggu kekhusyukan mereka. Sembari menunggu, kami berbincang dengan petugas kelenteng, Pak Gunadi Dewantoro atau biasa dipanggil Pak Geyong. Beliau pernah juga mengabdi di Tay Kak Sie. Dari beliau kami mendapatkan kabar duka. Dalang wayang Potehi, Thio Tiong Gie, sudah meninggal dunia. ”Iya mbak, beliau sudah meninggal beberapa bulan lalu. Sekarang sudah tidak ada penerusnya. Putranya juga tidak menggeluti wayang potehi,” cerita Pak Geyong. Kabar ini benar-benar mengagetkan. Awalnya saya dan Azizah berencana ingin mampir ke rumah beliau untuk menggali cerita wayang potehi. Tapi apa daya, suratan takdir berkata lain.

Kelenteng Siu Hok Bio Pecinan Semarang

Kelenteng Siu Hok Bio Pecinan Semarang

Perjelajahan kami berlanjut ke Jl. Wotgandul, tepatnya di depan pasar gang baru. Tujuan kami adalah Siu Hok Bio, kelenteng tertua di kawasan Pecinan Semarang. Dewa utama di kelenteng yang berdiri pada 1753 ini adalah Hok Tek Tjeng Sien. Beberapa sepeda motor terparkir di depan kelenteng saat kami datang. Di dalam ada dua perempuan paruh baya yang sedang beribadah, serta ada seorang penjaga kelenteng yang menyiapkan perlengkapan ibadah di ruangan samping ruang utama. Lagi-lagi kami pilih menunggu. Saya sangat menikmati suasana di sekitar kelenteng ini. Sangat hidup! Jalan Pasar Baru yang tepat di depan kelenteng terlihat tak beraturan, khas suasana pasar. Becak yang mengangkut penumpang kadang lewat, bersaing dengan deru kendaraan bermotor maupun pejalan kaki. Jika tak sadar ada di Semarang, mungkin saya mengira sedang berada di salah satu sudut kota di Tiongkok. Warga Tionghoa, tua maupun muda, tampak hilir mudik melakukan aktivitas masing-masing. Sangat mengesankan.

Pecinan Semarang

Suasana Pecinan Semarang

Hari semakin sore. Saya Azizah mengarahkan sepeda motor ke Gang Sebandaran. Sesuai namanya, kawasan Sebandaran ini dulunya menjadi tempat keluarnya masuknya kapal dagang dari berbagai daerah, termasuk Tiongkok. Meskipun sudah berbekal peta, agak sulit juga menemukan gang ini karena letaknya agak tersembunyi. Ternyata gangnya berada di sebelah barat Kali Semarang.

Klenteng Hwie Wie Kiong

Klenteng Hwie Wie Kiong

Kelenteng pertama yang kami datangi adalah Hwie Wie Kong milik keluarga Tan yang didirikan pada 1814. ”Keluarga Tan datang ke sini dengan berlayar, kemudian menetap. Sekarang ini sudah generasi ke delapan. Yang tinggal di sini tinggal dua keluarga, yang lainnya sudah tersebar di berbagai kota. Kelenteng ini pun juga sudah terbuka untuk umum,” beber Pak Abunadar Ahmad, sang penjaga kelenteng. Ya, sesuai namanya, Pak Abunadar ini seorang muslim. Namun hal itu tak menghalanginya bekerja di kelenteng tersebut. Begitulah indahnya perbedaan. Yang menarik dari Kelenteng Hwie Wie Kong adalah keberadaan kolam hias di bagian depan. Ternyata ini ada filosofinya, simbol bahwa semua masalah ada solusinya. Setuju bangeet.

Kelenteng See Hoo Kiong

Kelenteng See Hoo Kiong

Last but not least, kami mengakhiri jelajang kelenteng di See Hoo Kiong yang juga berlokasi di Gang Sebandaran. Sebenarnya total ada 11 kelenteng di kawasan Pecinan Semarang ini. Tapi ternyata tak cukup sehari untuk menjelajahi semuanya, apalagi kami baru memulai perjalanan pada siang hari. Jadi, sepertinya bakal ada Jelajah Pecinan part 2. See Hoo Kiong ini kelenteng termuda di Pecinan, dibangun pada 1814. Tapi justru bangunannya paling klasik dibanding kelenteng yang lain. Atap dan temboknya kusam, ubinnya juga lawas. Untuk yang satu ini ada penjelasannya. Sejak dibangun See Hoo Kiong memang belum pernah dipugar sekali pun karena dipercaya tak ada “restu” dari Dewi Laut Thian Siang Seng Boo. Adapun dewa utama di kelenteng ini adalah Dewa Pedang. Sore itu suasana di halaman kelenteng sangat semarak, sedang ada latihan barongsai rupanya. Saya dan Azizah menyempatkan duduk sebentar di tangga kelenteng untuk menikmati atraksi tersebut. Tak setiap hari kan bisa nonton latihan barongsai?

Puas mengeksplor kelenteng, kami menuju ke Jl. Gang Warung, atau yang dikenal dengan Pasar Semawis-nya. Tapi tujuannya bukan untuk kulineran. Kami hendak mengunjungi seorang ahli chinese painting dan kaligrafi, Tan Eng Tiong. Eh, sampai di sana kami harus menelan kekecewaan. Rumah beliau tutup. Mungkin masih menikmati libur Tahun Baru Imlek juga. Daripada meratapi kekecewaan, kami memutuskan menutup jelajah Pecinan dengan mencicipi salah satu kuliner khas, Wedang Cap Kwa King. Berbagai minuman tersedia di sini, mulai Wedang Kacang Tanah, Wedang Kacang Ijo, Wedang Sekoteng, hingga Wedang Ronde. Penjualnya sangat ramah. Minumannya pun enak. Cara sempurna mengusir lelah sembari menikmati suasana senja di Pecinan. Yah, bahagia itu (katanya) sederhana.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Blog Competition #TravelNBlog 3 yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID.

Semarang, 21 Februari 2015

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

65 Responses to Jelajah Pecinan: Tiongkok Rasa Semarang

  1. Sebelas klenteng dalam satu kawasan pecinan. Banyak juga ya Mbak Yusmei. Klenteng-klenteng ini ada aliran juga kali ya? Dan suka banget pada foto-fotonya, ngejreng dan tajam. Terutama suka banget sama encim2 yang naik sepeda bawa galon air. Banyak banget cerita di sana🙂

    • yusmei says:

      Iya tante, memang banyak bgt. Kalau jalannya santai, sehari kayaknya gak cukup. Sebagian besar dewa utamanya Dewa Bumi. Memang pecinan ini banyak banget ceritanya tante, pengin nglanjutin lagi eksplornya. Kemarin itu blm banyak berbincang dang menggali informasi. Sama tante, yg encim2 bawa galon itu juga favoritkuu, ada 3 sebenarnya fotonya itu, jadi mulai benerin galon, sampai mengayuh sepeda. Ayo tante kpn2 main ke pecinan bareng :))

  2. Dita says:

    Wedang kacangnya menggodaaaaa!!😀

  3. Yasir Yafiat says:

    Akhir yang menenangkan bisa minum wedang Cap Kwa King. Badan jadi kembali fresh😀
    Kembali lagi mbak biar bisa beli Lumpia di gang lombok.

  4. MS says:

    aku cuma sampai gerbang pecinan aja
    nggak keburu waktu., abisnya ke Semarang sekalian kondangan nggak sempat jalan banyak
    harus balik Semarang lagiii

  5. rahayuasih says:

    Ke Semarang baru sempat ke Sam Poo Kang dan Vihara Budhagayana Watugong (*disitu kadang saya merasa sedih). Coba” ngeramal ciam si gak kak ? Wkwkwk

  6. lost in science says:

    Pernah kesini sekali dan suka banget.. semoga Pemkot Semarang menyadari hal ini dan melakukan banyak perbaikan akses dll…😀

    • yusmei says:

      Banyak banget ya sebenarnya potensi wisata di Semarang. Kota lama dan pecinan ini kalau ditata benar2 bisa jadi atraksi wisata yg aduhai. Smg nanti ada penataan yg komprehensif😀

  7. winnymarch says:

    klentengnya asyik itu kak

  8. Salman Faris says:

    Keren banget tulisannya, memperkaya khasanah wisata di jawa tengah ya🙂

  9. meidianakusuma says:

    kaakk😦
    kamu bikin aku tambah mupeeng :((

    udah lama bgt nih ga ke Semarang huhuhu

  10. Gara says:

    Jawa Tengah memang menyimpan sejuta keindahan! Dulu saya sempat tandang ke Gedong Songo dan kulineran di Temanggung, itu saja sudah membuat saya penasaran datang ke sana lagi :)).

    Kaya ya khazanah Pecinan di Semarang, Mbak. Klenteng anekamazhab yang jumlahnya 11, kuliner termashyur (saya ngidam banget dah dengan itu lunpia (atau lumpia)-nya). Dan ada siobak? Siobak terakhir yang saya temukan ada di pesisir utara Bali, penasaran deh dengan rasanya :hehe.

    Mesti ke Semarang, nih… *corat-coret kalender*.

    • yusmei says:

      Pecinan Semarang ini memang mengejutkan Gara, gak nyangka bakal dapat berbagai khazanah kayak gini. Benar-benar di atas ekspektasi. Sehari belum puas, banyak yang bisa dieksplor hehe. Lunpia ada yang nyebut lumpia, sama saja sih.
      Ceritain deh rasanya siobak, gak mungkin nyoba nih😀

  11. Ini detiiil banget.. Suka suka suka..
    Ayoolah kita ngeteh2 di HIK mbak..😀

  12. Rifqy Faiza Rahman says:

    Lumpia gang Lombok nya tutup soale aku ga melu seh hahaha.

    Masih lestarinya itu loh saya salut, saya juga suka mitologi dewa2 Tiongkok dan India, yang sangat dihormati dan diyakini bagi pengikutnya.

  13. ohandrian says:

    wah banyak Kelentengnya ternyata hehehe
    kalo ditempatku cuma ada 1 -_-

    • yusmei says:

      Yap, ada 11, puas banget buat yang suka mengeksplor kelenteng. Tempatnya di mana mas? Satu mending, daripada gak ada sama sekali kan?😀

  14. Waaaaaa rupanya ada banyak banget!!! Aku cuma tahu Tay Kak Sie aja kemarin. Temenku yg asli Semarang memang bilang ada banyak klenteng di situ yg bersebelah-belahan, tapi dia juga nggak hapal jalannya😀

    Sama banget lah, mbak. Aku ke sana juga nggak kebagian Lunpia Gang Lombok. Kehabisan! Bahkan kulineran di Semawis pun gagal😦

    • yusmei says:

      Iyes banyak banget Gie, kemarin aja cuma dapat 7, udah keburu maghrib aja. Pas jalan itu aku bawa peta pecinan, itu aja masih acara kesasar2 haha. Tapi worth it bangeet. Aku udah 3 kali lho di-php lunpianya hiks

  15. arievrahman says:

    Aku malah belum pernah ke Gang Lombok. Aku hina, mb.

  16. Foto-fotomu di artikel ini berbicara banget, cik Mei… Ahh jadi kepingin telusur kelenteng di sana juga, kapan yok telusur bareng, temeni akuuuu cicik Mei Mei… hahahaha

  17. Agung Gidion says:

    Okee kakak Mei kikil dah jadah bakar ya menunggu saya..
    Tempe bacemnya sekalian donk.. hehhe
    aku follow twitternya ya kak..😀

  18. Avant Garde says:

    banyak banget ya mbak ampe 11, tambah 1 lagi bisa dapet payung cantik #eh… apa mereka saling bersaing gitu yah? apa karena udah padet penduduknya?
    curhat boleh dong, kalo vihara di tempat yang banyak turis lebih welcome yah kalo dimasuki, bahkan boleh foto di depan patung dewa… kalo di ambarawa jangan harap bisa masuk mbak😦

  19. Bahrul.com says:

    Sisi lain dari semarang ya ? aku cuma tau tembalang doang kak -_-

  20. dee nicole says:

    edunn … komene akeh tenan. tak tambahi siji🙂

  21. Che Widya says:

    kapan ya kesana😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: