Di Balik Tembok Dalem Kalitan

Ratusan bangunan hancur saat Kota Solo tercabik kerusuhan pada 14-15 Mei 1998. Sebagian hangus terbakar, sedangkan yang lainnya rusak karena dilempari batu oleh massa. Korban jiwa juga berjatuhan. Namun sulit menemukan berapa angka pastinya. Infonya simpang siur.

Salah satu bangunan populer yang selamat dari amuk massa itu adalah Dalem (baca: nDalem) Kalitan. Bangunan anggun yang terletak di Kampung Kalitan, Kelurahan Penumping, Kecamatan Laweyan Solo, ini adalah rumah keluarga Presiden Soeharto dan istrinya, Bu Tien. Setiap pulang ke Solo, mereka selalu menginap di Dalem Kalitan, bukan di hotel mewah dan sejenisnya. Setelah Pak Harto dan Bu Tien meninggal, putra-putrinya pun masih sering mampir, walaupun kadang tak menginap.

Saat kerusuhan Mei 1998, ada cerita dari mulut ke mulut bahwa sejumlah orang berusaha menyerang Dalem Kalitan. Orang-orang tersebut berusaha membakar rumah bergaya joglo yang dibangun pada 1789 itu. Tapi menurut cerita yang beredar, setiap kali mereka berusaha melemparkan api (entah dengan bambu atau apa), selalu mental alias berbalik. Alhasil, Dalem Kalitan tetap aman dan utuh sampai sekarang.

Tiba-tiba saya teringat cerita tersebut kala berbincang santai dengan tiga pegawai Dalem Kalitan di pos penjagaan rumah tersebut akhir Maret 2015 lalu. Saat kerusuhan Mei 1998, saya masih terlalu culun. Belum tahu apa-apa. ”Cerita niku leres mboten tho Pak [cerita itu benar atau enggak tho Pak]?” tanya saya ingin menuntaskan rasa penasaran. Mereka hanya tertawa kecil. ”Yang jelas di dalam sini aman Mbak,” jawab Pak Ruji, salah seorang pegawai yang usianya sudah sepuh. Beliau kemudian mengurai sebuah kisah. ”Jadi dulu pas peristiwa itu Dalem Kalitan memang dijaga aparat. Banyak demonstran yang datang. Mereka nggleyer-nggleyer sepeda motor, memaksa masuk untuk bertemu keluarga Pak Harto. Padahal tidak ada siapa-siapa di sini.” Para demonstran yang entah dari kalangan apa itu kemudian dipersilakan masuk.

Hal aneh terjadi ketika mereka sampai di pelataran Dalem Kalitan. ”Pas di dalam, mereka yang tadinya marah-marah jadi tenang. Eh malah foto-fotoan. Pas mau masuk ke pendapa, mereka juga melepas sepatu dan sandal. Setelah itu pun mereka pulang dan pamitan baik-baik. Aneh memang, tapi memang itu benar-benar terjadi,” beber Pak Ruji. Setahun setelah kerusuhan dan Pak Harto lengser, Dalem Kalitan kadang masih didatangi pendemo. Barulah pada tahun 2000-an, Dalem Kalitan benar-benar tenang dan kini malah terbuka untuk umum.

Foto Pak Harto dan Bu Tien

Foto Pak Harto dan Bu Tien

Keluarga Bu Tien

Foto Orangtua Bu Tien dan Mangkunegara III di ruang utama Dalem Kalitan

Dulu rasanya mustahil punya kesempatan melongok ”rumah kedua” keluarga Pak Harto ini. Hanya orang-orang tertentu yang punya akses istimewa ke Dalem Kalitan. Gerbangnya (seingat saya) selalu tertutup. Saya kadang iseng menerka-nerka apa yang berada di balik tembok tinggi yang melingkupi area seluas 9.000 meter persegi itu. Rasa penasaran itu akhirnya baru terjawab setelah sekian lama. Kini sudah lebih dari tiga kali saya menyambangi Dalem Kalitan, untuk urusan pekerjaan tau sekadar mampir untuk melihat-lihat.

Menengok ke belakang, Dalem Kalitan ini dibeli Bu Tien pada tahun 1965, tak berselang lama setelah Pak Harto menjadi presiden. Bangunannya mirip istana karena dulunya memang milik Raja Keraton Solo, Paku Buwono X. Rumah indah tersebut kemudian diberikan kepada putri bungsunya, Kanjeng Ratu Alit. Dari situlah nama Dalem Kalitan berasal. Meski akhirnya berpindah ke tangan keluarga Pak Harto, nama itu tetap dipertahankan.

Pohon kepel Dalem Kalitan

Pohon Kepel di Dalem Kalitan

Halaman Kalitan sangat asri, menghijau oleh berbagai macam tumbuhan. Siang hari pun terasa lebih nyaman dibandingkan di luar gerbang karena teriknya sinar matahari teredam oleh teduhnya pepohonan. Setiap pengunjung harus melapor ke pos penjaga dan meninggalkan kartu identitas. Nantinya pengunjung bakal ditemani mengeksplor pendopo dan ruang tengah. Masih ada satu bagian lagi, yaitu pringgitan atau senthong (ruang tidur). Tapi bagian ini tak boleh diakses masyarakat umum.

Yang mencolok dari pendopo Kalitan adalah foto Pak Harto dan Bu Tien yang dipasang di depan pintu masuk. Ada juga foto keluarga lengkap dengan anak dan menantu (sebagian sudah bercerai) yang dipasang di dinding bagian kiri. Pendopo ini juga dilengkapi seperangkat gamelan Jawa, yang tertutup rapi kain berwarna hijau. Konon, saat Pak Harto dan Bu Tien, pulang ke Solo, kadang mereka duduk-duduk santai di pendopo sembari mendengarkan gending gamelan.

Masuk ke ruang tengah, di sudut ada foto orang tua Bu Tien, KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo. Foto orang tua Bu Tien, mengapit foto Mangkunegara III. Ya, mereka memang masih keturunan Mangkunegara III tersebut. “Dulu ruangan ini digunakan untuk menyemayamkan jenazah Bu Tien sebelum dimakamkan di Astana Giribangun. Kalau Pak Harto tidak disemayamkan di sini, langsung ke Astana Giribangun,” urai salah seorang pemandu.

Pendapa Dalem Kalitan

Pendapa Dalem Kalitan

Ruangan utama ini cukup besar. Beberapa bagian bangunan sudah tak asli lagi, termasuk gebyok kayu jati yang sangat indah. Satu-satunya bagian yang masih asli adalah langit-langit ruangan yang berwarna hijau. Ada juga berbagai cenderamata dan penghargaan untuk Bu Tien dan Pak Harto. Yang unik adalah foto-foto Pak Harto yang disertai kalimat-kalimat yang sarat falsafah Jawa.

”Pak pengunjung yang datang ke sini, ada yang suka bertanya-tanya atau mengkritisi Pak Harto?” iseng saya melempar pertanyaan itu kepada salah satu pemandu dalam kunjungan kedua atau ketiga ke Dalem Kalitan. Jawabannya diplomatis. ”Banyak mbak. Tetapi setiap orang memang berhak punya persepsi masing-masing. Yang jelas kami menceritakan apa yang kami ketahui saja. Setiap manusia ada sisi baik dan buruknya.”

Sejak Bu Tien meninggal pada April 1996 dan Pak Harto pada Januari 2008, Dalem Kalitan tak lagi sama seperti dulu. Rumah yang asri tersebut hanya diramaikan aktivitas 20 pegawai. Ada yang menginap dan sebagian pulang ke rumah masing-masing. Putra-putri Pak Harto biasanya mampir jika hendak nyekar ke Astana Giribangun. ”Yang masih sering menginap itu putri-putrinya. Kalau Mas Tommy (Hutomo Mandala Putra) dan Mas Bambang (Bambang Trihatmodjo) pas ke Solo biasanya nginep di Lorin (Hotel Lorin),” kata Pak Ruji.

Ada satu ruangan di Dalem Kalitan yang sampai sekarang membangkitkan rasa penasaran saya. Perpustakaan keluarga Pak Harto. Kata seorang teman yang pernah masuk, perpustakaan itu berisi buku-buku tentang Pak Harto. Sayangnya untuk memasuki ruangan ini harus mendapat izin khusus dari Kepala Rumah Tangga Dalem Kalitan, RM Agus Surindra. Apesnya, saya selalu gagal bertemu beliau meskipun sudah beberapa kali berkunjung ke sana. Tak apalah, toh nanti bisa dicoba lagi. Tapi paling tidak, saya sudah bisa menikmati apa yang berada di balik tembok Kalitan. Sesuatu yang dahulu hanya sebatas angan.

 

Solo, Maret 2015

 

 

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

46 Responses to Di Balik Tembok Dalem Kalitan

  1. Keluarga nya pak harto ini kok semua nya ancur yaaa dalam artian cerai semua. Knp yaaa ????

  2. suka sama gaya arsitek rumah joglo mbak😀

  3. Mbakkk…. nDalem ageng e kok apik men, krobongan e isih terawat meski cuma dikasih foto eyang e aja. Jadi pingin jeprat-jepret ke dalam. Kancani, mbak Yus… Hehehe

    • yusmei says:

      Ayook lim kapan-kapan rana meneh. Aku juga masih penasaran ke perpusnya. Harus pagi sekitar jam 10 kalau mau ketemu pak agus yang ke

    • yusmei says:

      Ayook lim ke sana lagi. Aku masih penasaran sama perpusnya, tp ke sana harus pagi sekitar jam 10 kalau pengen ketemu pak agus yang kepala rumah tangga istananya. Ini fotonya juga jelek-jelek. Stok fotoku yang lama malah hilang entah ke mana

  4. Dian Rustya says:

    hheemmmmm … kok aku jadi pengin ke sini ya?

    Penasaran sama ruasana rumah yang adem banget ini

  5. mawi wijna says:

    kerasa aura mistis nggak mbak Yus di dalam sana? (doyan cerita mistis)

  6. Oo sekarang terbuka untuk umum. Nanti kalau ke Solo, Insya Allah mampir ah…Dalamnya klasik dan artistik ya Mbak Yusmei🙂

    • yusmei says:

      Mangga tante mampir, jam bukanya pukul 08.00 sampai 16.00. Nanti ditemeni deh hehe. Iya tante, terutama gebyoknya itu, dari jepara. Bagian-bagian rumah yang lain juga artistik

  7. mysukmana says:

    Kalitan,tiap pulang kerja biasanya mampir di masjid dpn nya mbk buat asharan.tp seumur2 blm pernah masuk ke dalam nya

    • yusmei says:

      Sekarang masjidnya direnovasi ya mas, katanya target jadi sebelum puasa, tp kok kayaknya progrese lambat, hujan teruss. Masuk aja mas,,.lumayan lihat2 di dalam🙂

  8. Avant Garde says:

    itu fotonya dikasih bunga hidup semua ya mbak …. btw rumah pertama butin dan pak harto dimana mbak?

  9. monda says:

    iih .., aku naksir buah kepelnya.., seumur2 belum pernah ngerasain..
    boleh juga nih dimasukin list buat didatangi

  10. Gara says:

    Mungkin rumah itu punya energi positif yang bisa menenangkan suasana hati, sehingga orang yang bawaannya panas hati dan marah-marah malah tenang dan foto-foto di dalam sana Mbak :hehe.
    Dan memang sih, rumahnya asri dan tenang sekali. Menyejukkan. Terlepas dari semua prasangka tentang Pak Harto, beliau tetap mantan presiden yang wajib kita hormati karena beliau juga punya pencapaian. Kalau kata orang, yang dulu biar berlalu, mari menyambut hari yang baru :)).

    • yusmei says:

      Benar sekali Gara, apapun itu beliau memang tetap harus dihormati. Apalagi tak ada yang namanya mantan presiden kan? Pak Harto tetap presiden kedua Indonesia.😀
      Yaap, mari kita sambut yang baru. Sejarah bisa pelajaran untuk melangkah lebih baik *duh bijak banget ya hehehe*

  11. rahayuasih says:

    Nyimak tulisan kak yusmei yang “rumah dalem kalitan dilempari batu/bambu api mental kembali dan tetap utuh” sepertinya menyimpan sejarah mistis didalamnya. Penasaran jadi pengen lihat sendiri dan merasakan auranya

  12. dee nicole says:

    senenge nyidat lewat kene. sing “tunggu” apik2 kok

  13. bersapedahan says:

    wah aneh banget ya …. yang marah2 pas masuk ke dalem kalitan jadi adem ….
    mungkin pasangan yang lagi ribut di sarankan berkunjung berdua kesana ya …🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: