Saya Pengidap Ailurophobia

Phobia 1.jpg

Photo by: Eva Fedele

Saat masih bocah, kira-kira usia enam atau tujuh tahun, saya mulai mempertanyakan keanehan diri saya. Kenapa cuma saya yang ketakutan, bahkan sampai menangis histeris, kalau melihat kucing? Kenapa teman-teman saya tidak?

Kalau ditanya tepatnya sejak kapan takut kucing, saya tidak ingat. Takutnya gara-gara apa juga tidak tahu. Yang jelas sejak kecil saya anti dekat-dekat dengan kucing. Boro-boro megang, melihat dari jauh saja sudah gemetaran.

Bertahun-tahun kemudian saya baru tahu kalau ketakutan saya itu ada namanya. Istilah medisnya ailurophobia alias phobia kucing. Penjelasan singkatnya, ailurophobia adalah phobia yang ditandai dengan ketakutan yang irasional dan berlebihan terhadap kucing.

Bagaimana rasanya mengidap ailurophobia? Jelas tidak enak banget. Bayangkan, kucing itu ada di mana-mana, di rumah teman, saudara, sampai tempat-tempat makan dan di jalan-jalan umum. Belum lagi kucing liar yang kadang main ke rumah tanpa diundang.

Konon, phobia ini mayoritas penyebabnya gara-gara trauma pada masa kecil karena punya pengalaman tak mengenakkan dengan kucing. Saya sering mencoba memeras ingatan apakah waktu kecil punya pengalaman traumatis dengan kucing. Sejujurnya lupa, cuma samar-samar seperti pernah merasa dicakar kucing. Tapi, kapan dan di mana, lupa juga.

Apa pengalaman tidak enak gara-gara takut kucing?  Buanyaaak.

Dulu banget, saya yang mungkin masih duduk di bangku TK diajak orangtua mengunjungi saudara di Jakarta. Saat taksi berhenti di rumah saudara dan kami turun, saya langsung menangis kencang. Penyebabnya apalagi kalau bukan kucing. Jadi, saat itu ada kucing yang berdiri mungkin sekitar 25 meter dari taksi. Ya…cukup jauh, tapi saya sudah takut setengah mati.

Pengalaman paling menyebalkan adalah mimpi seram soal kucing. Dulu saya sering bermimpi terkunci di ruangan tertutup bersama kucing atau dikejar kucing sehingga cuma berlari ketakutan sambil menangis. Walaupun hanya mimpi, rasanya sangat melelahkan. Untunglah mimpi seperti itu sekarang hampir tak pernah datang lagi.

Kenangan mengesalkan lainnya, ketika saya ikut darma wisata perpisahan SMP ke Bali. Waktu itu perut sudah keroncongan karena perjalanan jauh dan senang bukan main saat diberi tahu kami akan berhenti makan, sebelum menyeberang ke Pulau Dewata. Langsung deh membayangkan enaknya menyantap makan malam, apalagi pas perut lapar-laparnya. Tapi…selera makan saya langsung lenyap setelah melihat banyak kucing yang berseliweran di rumah makan yang kami singgahi. Saya langsung balik kanan kembali ke bus dan pilih menahan lapar hingga sampai di Bali.

Gara-gara kucing pula saya pernah hampir dua tahun tak berkunjung ke rumah bulik dan oom. Biasanya saya kerap mampir, bahkan menginap, di rumah mereka, karena memang lumayan dekat dari kantor. Tapi, sejak ada kucing, saya tak pernah berkunjung. Ponakan macam apa saya ini.

Pengalaman yang memalukan juga ada, salah satunya naik meja sambil menangis pas melihat ada kucing. Kalau tidak salah kejadiannya saat kelas 3 SMP di sekolah.

Eh ada lagi yang lebih memalukan. Ceritanya saya sedang liputan ke rumah dinas Pak Jokowi yang saat itu masih menjabat Walikota Solo. Beliau sedang menerima pebalap motocross asal Solo, Denny Orlando. Nah, tiba-tiba di tengah perbincangan seru, ada kucing anggora atau persia nyelonong masuk. Langsung deh saya mengangkat kaki ke kursi dan berteriak-teriak gak jelas. Pak Jokowi cuma tertawa melihat tingkah ajaib saya. “Oalah Mbak, karo kucing wae kok wedi. Neng omah kucingku akeh lho (rumah pribadi di Sumber Solo),” kata Pok Jokowi sambil terkekeh. Malu benar saya.

Kucing juga bisa mengganggu mood traveling. Ada dua destinasi yang pernah saya kunjungi yang entah kenapa banyak kucing, Aceh (Sabang dan Banda Aceh) dan Gili Trawangan (Lombok). Hampir di setiap tempat makan, kecuali di restoran besar, biasanya ada kucing. Wisata kuliner akhirnya jadi terganggu. Nafsu makan saya pun kurang terpuaskan. Kalau gini siapa yang salah coba? Saya atau kucingnya? (Halah)

Yang menyebalkan, phobia kucing ini juga sering membuat repot orang-orang di sekitar saya. Saya sering merasa tidak enak hati saat makan bareng teman-teman, kemudian tiba-tiba panik dan menjerit gara-gara ada kucing mendekat. Benar-benar bikin malu. Teman-teman pun jadi ikut repot menghalau kucing-kucing agar tidak mendekat ke meja kami. Maafkan saya ya teman-teman.

Belum lagi kalau ada acara main ke rumah teman. Saya punya pertanyaan wajib: di rumahmu ada kucing gak? Kalau ada biasanya saya urung berkunjung. Kalaupun nekat, pesan dulu supaya kucingnya diungsikan entah ke mana atau dikunci di ruangan tertentu. Kalau kecolongan tiba-tiba kucing lepas, paling saya menjerit-jerit atau berlari keluar dari rumah. Menyusahkan kan?

Kucing bukan hanya memicu rasa takut dan cemas, tapi dulu pernah membuat saya merasa minder dan tak normal. Saya juga dibayangi kecemasan tentang apa yang akan terjadi jika phobia kucing tersebut tak kunjung hilang. Mosok selamanya harus menerima kenyataan menjadi orang yang tak normal. Apakah di dunia ada orang lain yang punya penyakit seperti ini?

Saya mulai lega saat kali pertama mengetahui ada orang lain yang juga mengidap phobia serupa. Dia kakak kelas saya di SMA, laki-laki pula. Kami pernah serombongan menengok teman yang sedang sakit. Eh…pas sampai ternyata di rumahnya banyak kucing. Kalau tidak salah ingat jumlahnya 14 ekor. Langsung deh, kami tak jadi ikut teman-teman masuk ke rumah. Saya dan kakak kelas itu memilih kembali ke mobil.

Belakangan saya juga nemu beberapa teman lain yang juga punya phobia kucing, eh kebanyakan malah cowok. Wajahnya sangar-sangar pula hahaha. Jadi, semakin merasa lega karena bukan hanya saya yang karena takut sama hewan yang katanya lucu itu.

Bosan dan Capek

Tapi, bosan dan capek juga punya phobia kucing gini. Saya pengin sembuh supaya bisa seperti orang lain yang santai-santai mengelus kucing atau makan tenang di warung yang banyak kucingnya. Saya juga ingin bebas bermain ke rumah saudara atau teman tanpa perlu bertanya dulu mereka memelihara kucing atau tidak.

Level phobia saya terhadap kucing sebenarnya sudah jauh menurun jika dibandingkan dulu. Dulu, saya tak mungkin makan di warung atau restoran yang ada kucingnya. Sekarang, saya punya cukup punya nyali untuk melakukannya, meskipun dengan pose wajib: kaki diangkat ke kursi, setelah itu mata waspada memandang ke setiap sudut dan sigap meminta teman menghalau jika ada kucing mendekat. Saya juga sudah tak lagi menangis jika melihat kucing yang berdiri dengan jarak sekitar 20 meter atau lebih. Paling hanya mengawasi dengan waspada kalau tiba-tiba kucingnya mendekat.

Beberapa teman menyarankan supaya saya banyak-banyak menonton video atau melihat foto-foto kucing guna menghilangkan phobia ini. Kalau cuma foto dan video kucing tak ada masalah. Level phobia saya tak separah itu. Tapi, kalau disuruh megang kucing…amit-amit jabang bayi. No way! Ada teman lain yang menyarankan saya ikut hypnoteraphy, supaya bisa menghilangkan ketakutan pada kucing. Tapi, entah kenapa rasanya belum sreg mencoba metode ini.

Beberapa kali saya juga berselancar di Internet untuk mencari tips-tips menghilangkan ailuropobhia ini. Tapi, selalu menyerah ketika ada saran untuk mencoba berinteraksi yang berujung memegang kucing pada akhir terapi. Big no banget. Membayangkan saja sudah bikin badan bergidik.

Untuk urusan berusaha sembuh dari ailurophobia ini saya memang sangat pengecut. Mencoba pun tidak berani. Bahkan, saya sampai berpikir mungkin memang harus berdamai dengan phobia ini seumur hidup. Jadi…kucing jauh-jauh dari saya ya 😀

Advertisements

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

16 Responses to Saya Pengidap Ailurophobia

  1. Mungkin perlu ikut sesi hynotherapy biar phobia-mu hilang, mbak Yus. Kucing kan lucu, imut, bulunya enak dielus-elus, apalagi diuyel-uyel lehernya, si kucing bakal seneng. 😛 Atau perlu dikirim boneka kucing ke kost biar kaget terus phobia langsung lenyap? #emangcegukan #laludijotakmbakYus Hahahaha.

  2. Evi says:

    Phobia manusia terhadap hewan emang macam-macam ya, Mbak. Ini pertama kali saya membaca ada phobia terhadap kucing. Gak terbayang gimana rasanya mengidap ini karena kucing itu hewan rumahan, yang ada di mana-mana 🙂

    • yusmei says:

      Iya tante, ada teman yang takut cicak, ular, anjing, dan lain-lain. Yang takut kucing ternyata lumayan banyak heheh. Makanya tante, repot banget rasanya, soalnya kucing ada di mana-mana. Tapi mau bagaimana lagi…

  3. nyonyasepatu says:

    Huaa kamu gak bs main ke rumah aku dong 😰

  4. Avant Garde says:

    satu kata mbak, waduh ….. 😦
    aku dan keluarhaku semuanya pecinta kucing

  5. monda says:

    tetanggaku dulu juga ada yang phobia kucing, persis seperti dirimu mbak..

    anakku sempat phobia kupu2, gara2 sama mbaknya dulu, ditakutin supaya mau makan..
    sekarang mulai hilang, nggak histeris kayak dulu lagi.. aku sering ajak liat kupu2 dan bilang dia pun takut sama kita

    semoga semakin berkurang dabn akhirya sembuh ya mbak

    • yusmei says:

      Nakut-nakutin gitu bisa bikin trauma yang ternyata Mbak, syukurlah kalau si kecil sudah mulai hilang phobianya.
      Iya mbak amiien, smg phobia kucing ini hilang, atau paling gak berkurang banyak hehehe

  6. @nurulrahma says:

    olalaaa 🙂 Berarti ngga boleh ke kafe kucing ya mba hihi

  7. angkisland says:

    padahal kucing itu imut mbak,.,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: