Saya Pengidap Ailurophobia

Phobia 1.jpg

Photo by: Eva Fedele

Saat masih bocah, kira-kira usia enam atau tujuh tahun, saya mulai mempertanyakan keanehan diri saya. Kenapa cuma saya yang ketakutan, bahkan sampai menangis histeris, kalau melihat kucing? Kenapa teman-teman saya tidak?

Kalau ditanya tepatnya sejak kapan takut kucing, saya tidak ingat. Takutnya gara-gara apa juga tidak tahu. Yang jelas sejak kecil saya anti dekat-dekat dengan kucing. Boro-boro megang, melihat dari jauh saja sudah gemetaran.

Bertahun-tahun kemudian saya baru tahu kalau ketakutan saya itu ada namanya. Istilah medisnya ailurophobia alias phobia kucing. Penjelasan singkatnya, ailurophobia adalah phobia yang ditandai dengan ketakutan yang irasional dan berlebihan terhadap kucing.

Bagaimana rasanya mengidap ailurophobia? Jelas tidak enak banget. Bayangkan, kucing itu ada di mana-mana, di rumah teman, saudara, sampai tempat-tempat makan dan di jalan-jalan umum. Belum lagi kucing liar yang kadang main ke rumah tanpa diundang.

Konon, phobia ini mayoritas penyebabnya gara-gara trauma pada masa kecil karena punya pengalaman tak mengenakkan dengan kucing. Saya sering mencoba memeras ingatan apakah waktu kecil punya pengalaman traumatis dengan kucing. Sejujurnya lupa, cuma samar-samar seperti pernah merasa dicakar kucing. Tapi, kapan dan di mana, lupa juga.

Apa pengalaman tidak enak gara-gara takut kucing?  Buanyaaak.
Read more of this post

Berjuang Merampungkan PR Besar Dalam Keterbatasan

Hubungan bilateral Indonesia dengan Timor Leste sangat unik. Tidak bisa disamakan dengan hubungan bilateral Indonesia dengan negara mana pun. Saat bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai provinsi ke-27 dengan nama Timor Timur, wilayah tersebut bukan merupakan bekas wilayah Hindia Belanda, seperti provinsi-provinsi yang lain. Awal yang berbeda tersebut kemudian berakhir juga dengan cara tak biasa. Timor Leste merdeka pada 1999 setelah melalui jajak pendapat yang menguras energi lahir dan batin kedua kubu. Banyak keluarga, teman, kolega maupun pasangan kekasih harus berpisah. Saya pun secara tidak langsung merasakan momen emosional tersebut. Om dan Tante serta dua adik sepupu yang sudah bertahun-tahun tinggal di Dili untuk bekerja, terpaksa harus kembali ke Indonesia. Mereka dengan berat hati harus mengucapkan selamat tinggal kepada sahabat, rekan kerja dan semua memori di Dili. Semua itu tercatat lengkap oleh sejarah.

Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tipe B  (Foto diambil dari Panoramio.com)

Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tipe B (Foto diambil dari Panoramio.com)

Jejak keunikan hubungan Timor Leste dan Indonesia masih terlihat sampai sekarang. Tengok saja di daerah perbatasan kedua negara, di Kabupaten Atambua atau lebih tepatnya di Atapupu, Nusa Tenggara Timur. Faktor kekerabatan dan kesamaan adat warga kedua negara membuat karakteristik perbatasan Indonesia-Timor Leste berbeda dengan perbatasan di bagian lain Indonesia. Warga mendapat cukup kemudahan jika ingin melintas perbatasan, terutama untuk menjenguk keluarga yang sakit atau meninggal, saat Natal maupun saat perayaan adat. Warga cukup menitipkan kartu tanda penduduk atau identitas lain di gerbang pemeriksaan. Sangat simpel. Read more of this post

Batik Sang Maestro

batik go tik swan

batik

Bagi para penggemar batik, sosok Go Tik Swan tentu tak asing lagi. Beliau adalah seorang maestro dari Solo pencipta motif Batik Indonesia. Motif ini adalah perpaduan batik khas keraton dengan pesisiran. Meski Go Tik Swan sudah meninggal beberapa tahun silam, karyanya masih lestari.  Karya Go Tik Swan masih dijaga dan dilestarikan oleh ahli warisnya. Selembar batik Indonesia dibuat dalam kurun waktu enam bulan karena prosesnya memang rumit. Harganya pun cukup menguras kantong.Selembar Batik Indonesia dibanderol Rp6,5 juta, itu pun pesannya harus antre.

Artikel ini diikutkan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde ke-41 dengan Tema Wastra dengan tuan rumah Mbak Indah Nuria.

Solo, 23 April 2014

Kecanduan Metro

Stasiun Metro Zoloti Vorota

Stasiun Metro Zoloti Vorota

Selama 10 hari berada di Ukraina, tepatnya di Kiev dan Donetsk, saya jadi kecanduan memanfaatkan moda transportasi Metro alias kereta bawah tanah. Selain tarifnya miring, Metro bebas macet dan kecepatannya memuaskan. Metro di Ukraina mulai beroperasi sejak 1960 alias sudah setengah abad lebih. Beberapa statiun Metro bangunannya sangat klasik, membuat saya tak bosan menyusurinya berulang kali. Selain Arsenalna, yang merupakan stasiun kereta bawah tanah terdalam di dunia, saya juga punya satu stasiun favorit, Zoloti Vorota. Atap stasiun ini melengkuh megah dan indah, berhias lampu-lampu gantung menarik. Syahdu!

Foto ini untuk meramaikan Turnamen Foto Perjalanan Ronde 38 : Terminal/Stasiun , dengan Kokoh Roca sebagai tuan rumahnya.

Dua Sisi

Bangunan modern berpadu dengan wat

Bangunan modern berpadu dengan wat

Bangkok memadukan modernitas dan tradisi dengan indah. Menyusuri Sungai Chao Phraya di sore hari, kita kan disuguhi dua sisi budaya yang indah tersebut. Bangkok terus berpacu dan bersaing di tengah modernisasi dunia, tapi di sisi yang lain mereka juga tetap melestarikan tradisi. Gedung-gedung bertingkat di sisi sungai bersanding dengan wat-wat yang indah. Mungkin inilah yang membuat Bangkok menjadi salah satu destinasi seksi bagi para wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Foto ini untuk meramaikan event Turnamen Foto Perjalanan Ronde 37 : Pencakar Langit , dengan Dede Ruslan sebagai tuan rumahnya.

Taman Hati

taman

Salah satu taman di Kiev, Ukraina

Berjalan-jalan sore mengelilingi kota Kiev di Ukraina di saat musim panas, menjadi pengalaman batin yang mengesankan. Kiev adalah taman. Di berbagai sudut kota, kita dengan mudah menemukan taman kota yang asri, rindang, sejuk dan nyaman, baik berukuran besar maupun kecil.  Semuanya gratis.

Warga Kiev banyak menghabiskan waktu senggang di taman-taman tersebut. Ada yang sekadar duduk sendirian sembari membaca buku, melamun atau makan.  Ada juga yang berbincang hangat dengan teman, keluarga maupun kekasih tercinta.

Terus terang saya tak mengetahui nama taman-taman tersebut. Paling hanya dua taman besar yang mudah diingat namanya, Boulevard Shevchenco dan Botanical Garden. Saya lebih suka menyebut taman-taman tersebut sebagai Taman Hati. Hati bisa menjadi hangat hanya dengan berbincang dan berkumpul bersama keluarga, keluarga atau kekasih sambil memandang warna-warni bunga dan tanaman hijau. Hati juga bisa menghangat hanya dengan ditemani sebuah buku dan bangku yang bersahabat. Kadangkala membahagiakan hati itu memang sangat sederhana.

Postingan ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan periode 36 bertema Taman dengan tuan rumah Buzzerbeezz

Solo, 12 Februari 2014

Bagi Mereka Air Itu Seperti Madu

Menunggu air

Menunggu air

Beberapa tahun lalu saya pernah merasakan masa paceklik air. Sampai-sampai untuk mandi setiap orang hanya dijatah seember kecil air. Mandinya juga tidak bisa sehari dua kali. Cukup sekali, alias pagi dan sore digabung jadi satu.  Pokoknya benar-benar pengiritan.

Pengalaman itu saya rasakan saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Dukuh Jurug, Desa Giriwungu, Kecamatan Panggang, Gunung Kidul. Wilayah Gunung Kidul memang dikenal kering dan tandus pada musim kemarau. Pipa PDAM sudah masuk ke Dukuh Jurug, tapi paling hanya mengalir tiga pekan sekali. Bahkan kadang kala selama berpekan-pekan pipa PDAM hanya diam “membisu”. Read more of this post