Cikal Bakal Perahu Wisata Solo

Lihat perahunya dan latar cahaya lampion di belakangnya. Keren kan?

Lihat perahunya dan latar cahaya lampion di belakangnya. Keren kan?

Pada suatu malam cerah bertabur bintang sekitar 2,5 tahun lalu, saya menikmati momen susur Sungai Thu Bon, di Hoi An Vietnam, dengan menaiki sebuah sampan sederhana. Ada tradisi unik yang lekat dengan atraksi itu. Melepaskan lilin ke aliran sungai, sebuah perlambang harapan. Malam itu saya merapal sepenggal harapan. Semoga suatu saat nanti bisa bersampan di tengah kepungan pendar cahaya lampion di salah satu sungai di Indonesia. Ternyata, keinginan itu terwujud pada 14 Februari lalu. Eh, di Kota Solo pula.

Jadi begini ceritanya. Dalam rangkaian peringatan Tahun Baru Imlek, Pemkot Solo meluncurkan atraksi perahu hias di Kali Pepe, tepatnya di sekitaran Kampung Sudiroprajan, dekat Pasar Gede. Memang baru sebatas uji coba karena hanya berlangsung selama 10 hari, 6-15 Februari 2015. Jika sukses, kemungkinan atraksi ini bakal dipermanenkan. Ah, ide yang menarik. Read more of this post

Sudut Lain Telaga Warna

Keindahan itu relatif. Filsuf Yunani Aristoteles menjabarkan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan menyenangkan. Ia meyakini tak ada keindahan yang mutlak. Keindahan sebenarnya didasarkan pada persepsi masing-masing individu. Setuju?

Kok jadi berat gini ya pembahasannya. Sebenarnya saya cuma pengin cerita tentang Telaga Warna Dieng. Sudah dua kali saya menyambangi objek wisata tersebut. Kebetulan menikmatinya dari sisi berbeda. Sama-sama indah. Tergantung bagaimana kita mendefinisikan keindahan.

Telaga warna Dieng

Telaga Warna dilihat dari Bukit Sidengkeng

Read more of this post

Kesederhanaan Air Terjun Jumog

Air Terjun Jumog Karanganyar

Air Terjun Jumog Karanganyar

The Lost Paradise. Begitulah warga setempat menjuluki objek wisata di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar ini. Masyarakat umum lebih mengenal tempat tersebut dengan nama Air Terjun Jumog. Sama-sama berlokasi di lereng Gunung Lawu, popularitas Jumog kalah gempita dibanding Grojogan Sewu Tawangmangu. Namun, saya sendiri lebih suka melipir ke Jumog. Indah dengan kesederhanaannya dan tak terlalu riuh. Mengunjungi air terjun setinggi 30 meter ini juga bisa digabungkan dengan kunjungan ke dua candi eksotis, Sukuh dan Cetho. Cocok untuk menghabiskan air pekan yang tenang dan damai.

“Foto ini diunggah untuk meramaikan event Turnamen Foto Perjalanan Ronde 54 : Air Terjun, dengan Rifqy Faiza Rahman sebagai tuan rumahnya.”

Sehari Kulineran di Magelang

Perut lapar, mata super ngantuk. Tubuh rasanya sudah tidak karu-karuan saat mobil kami meninggalkan area Puthuk Setumbu, Magelang. Begini ternyata efek nyaris tak tidur semalaman karena ikutan acara pemecahan rekor di Candi Borobudur. Saya berusaha mencuri-curi tidur selama beberapa menit untuk memulihkan energi.

Setelah mampir sebentar ke penginapan, mobil melaju perlahan menuju ke Pasar Borobudur. Saya, Azizah, Mbak Ratri, Frista dan Halim, sepakat bakal menghabiskan hari Sabtu itu untuk bersantai-santai. Fahmi juga ikutan, tapi cuma sebentar. Mumpung di Magelang, kami berniat kulineran habis-habisan dong. Kolesterol? Dipikir nanti deh 😀

Gorengan di pasar Borobudur

Makan gorengan di Pasar Borobudur

Read more of this post

#GAWisataDaerahmu : Yuk, Kenalkan Wisata Khas Daerahmu

Perjalanan mengajarkan saya banyak hal. Keberagaman, keberanian, membaca karakter orang, bagaimana harus mengambil keputusan dalam kondisi tak ideal, bertoleransi, menghargai orang lain, dan masih banyak lagi. Lewat perjalanan pula saya makin mencintai negeri ini, dengan segala keunikan dan kesemerawutannya.

Baru segelintir tempat di Indonesia yang sudah saya datangi, bagaikan butiran debu di tengah padang pasir. Indonesia benar-benar luas. Mungkin seumur hidup tak bakal tuntas dijelajahi. Setiap daerah punya keunikan dan kekhasan potensi wisata. Jangankan berbeda provinsi atau kabupaten, lain kecamatan saja ada sesuatu yang berbeda, entah budayanya, bahasanya, atau bentang alamnya. Read more of this post

Nampu, Pantai Cantik di Pesisir Wonogiri.

Pantai Nampu Wonogiri

Pantai Nampu Wonogiri yang berpasir putih

Dulu saat demen-demennya nonton serial Korea Full House, saya suka iri sama Han Ji-Eun. Tapi, bukan karena di akhir cerita dia jadian sama Lee Young-Jae yang diperankan Rain. Rumahnya itu lho yang bikin mupeng. Desainnya indah dengan pintu dan jendela kaca super besar yang membuat penghuninya dimanjakan pemandangan indah di luar rumah. Yang membuat rumah itu tambah spesial adalah lokasinya yang terletak di pinggir pantai. Jadi, si Ji-Eun tak perlu jauh-jauh jika ingin berjalan-jalan atau sekadar bengong di pinggir pantai. Bikin iri!
Read more of this post

Kesunyian Pagi Melaka

Melaka, Malaysia

Pendar cahaya di tepi Melaka River

Benar kata seorang teman, Melaka menjelma gempita setiap Sabtu malam. Jongker Street menjadi jantungnya. Menjelang tengah malam, world heritage city itu kembali didekap sepi. Tenang dan indah.

Pada suatu Minggu yang kepagian, saya bersama sahabat-sahabat harus bergegas mengejar bus ke bandara LCCT. Flight ke Da Nang, Vietnam, pada pukul 13.25 sudah menanti. Ketinggalan pesawat bukan skenario indah. Rasa kantuk sisa begadang semalam sekuat tenaga dihalau. Pagi-pagi benar kami sudah bangun. Read more of this post

Pesona Tersembunyi Belitung Timur

Bentang alam Belitung Timur memang kalah aduhai dari kabupaten tetangganya, Belitung Barat. Tapi jangan salah, Beltim juga menyimpan sejuta (banyak banget ya) pesona, terutama wisata budayanya. Nah, pemerintah Beltim sadar betul wisata budaya ini bisa menjadi modal untuk mengembangkan denyut pariwisata di wilayah mereka. Apa saja pesona tersembunyi di kabupaten Laskar Pelangi ini?

Bertualang ke Kebun Lada

Beruntung sekali saya mendapat undangan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Beltim untuk mengikuti program Tour de Beltim 2014, bersama sekitar 25 peserta lain. Salah satu sesi terseru adalah diajak bertualang ke kebun lada! Belitung memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil lada di Indonesia.

Berlindung dari cabikan daun kelapa sawit

Berlindung dari cabikan daun kelapa sawit

Read more of this post

Mampir ke Museum Pos Indonesia

Pintu masuk museum

Pintu masuk museum

Sebagai seorang filatelis (abal-abal), kurang afdol rasanya kalau belum menyambangi Museum Pos Indonesia di Bandung. Museum ini (konon) dikenal sebagai surganya pencinta filateli. Koleksi perangkonya banyak banget, mulai zaman Indonesia belum merdeka hingga jenis perangko terbaru.

Pada suatu sore yang mendung di awal Desember 2013 (sudah lama banget ya), saya akhirnya kesampaian juga mampir ke Museum Pos. Lokasinya di Kantor Pusat Pos Indonesia Jl. Cilaki No. 73, Bandung. Cuma sepelemparan batu dari Gedung Sate yang tersohor itu. Saya dan sepupu, Mbak Yiyi, sampai di sana sudah sore. Museum sudah hampir tutup. Kami buru-buru masuk mumpung masih boleh. Read more of this post

Rambut Gembel, Antara Rezeki dan Cobaan

Nafis duduk di pangkuan ibunya mendengarkan Mbah Naryono yang sedang bercerita

Nafis duduk di pangkuan ibunya mendengarkan Mbah Naryono yang sedang bercerita

Perhatian saya tersedot oleh polah tingkah Nafis. Layaknya seorang bocah, dia sangat lengket dengan ibunya, Mbak Qod. Nafis terus duduk di pangkuan ibunya. Matanya tekun memandang ke layar LCD saat pemutaran film dokumenter tentang ritual cukur rambut gimbal anak-anak Dieng. Sesekali dia merebahkan kepala ke dada sang ibu. Mungkin disergap bosan. Saat Mbak Qod mengambil camilan tempe kemul dan kacang godog yang dihidangkan di meja, Nafis minta disuapi. Read more of this post