Setiawan Subekti dan Dunia Kopi

–Sekali seduh, kita bersaudara—-

Setiawan Subekti

Setiawan Subekti

Saya memandang gelas kopi di tangan dengan perasaan ragu. Haruskan saya meminum kopi hitam ini? Bagaimana jika berbuntut perut melilit dan kepala pusing? Sudahlah, apa yang akan terjadi mending dipikir belakangan. Akhirnya saya memutuskan menyeruput kopi panas itu. Rasanya pahit dan terasa berat.

“Bagaimana rasanya, enak?” tanya pria di hadapan saya. Pertanyaan itu berbalas dengan sebuah pengakuan. Kopi bukan minuman favorit saya. Alih-alih menggemari, minum kopi 10 gelas dalam setahun saja sudah merupakan prestasi tersendiri bagi saya. Apa enaknya minum kopi jika endingnya kepala pusing dan perut mual.

“Saya akan membuatkan kopi khusus yang tidak menyebabkan perut perih dan pusing,” cetus pria tersebut. Dia kemudian melangkah ke alat pembuat kopi, kali ini untuk meracik secangkir kopi dengan komposisi khusus. Setelah selesai, segelas kopi panas mengepul kembali disodorkan kepada saya. Pelan-pelan minuman panas yang telah saya campuri gula itu meluncur ke tenggorokan. Saya berusaha mengenali teksturnya di bibir dan lidah. Rasanya memang berbeda. Lebih ringan dan tak terlalu pekat. Read more of this post

Museum Sukowidi : Kotak Sejarah Banyuwangi

Melihat-lihat foto

Melihat-lihat foto

Memenuhi janji beberapa waktu lalu, saya ingin berbagi sedikit cerita tentang Museum Sukowidi Banguwangi. Bangunan museum ini boleh sederhana, tapi di mata saya Sukowidi adalah museum istimewa.

Nama museum ini kali pertama saya dengar dari Mas Donna, pemandu selama perjalanan di Banyuwangi akhir Mei lalu. Saya dan empat teman perjalanan (Pesta, Feni, Shava dan Ririn), ditawari Mas Donna mampir ke ke sana untuk mencari informasi yang lebih akurat tentang Watu Dodol.   Apakah itu?  Watu dodol adalah onggokan batu besar di tengah jalan yang merupakan gerbang masuk Banyuwangi dari arah Situbondo.

Rasa penasaran terhadap watu dodol itulah yang membawa kami mengunjungi Museum Sukowidi. Museum ini memang belum begitu dikenal dan belum masuk ke brosur-brosur wisata banyuwangi. Itu bisa dimaklumi karena usianya masih seumur jagung. Sukowidi baru diresmikan pada 18 Mei 2013, bertepatan dengan Hari Museum Internasional. Pemilihan momen yang sangat pas. Read more of this post

Kehangatan Komunitas Sejarah Banyuwangi

Kami ini muncul karena pemerintah absen. Mereka tidak bisa diharapkan.”

Mbak Ira dan Mas Donna

Mbak Ira dan Mas Donna
(Foto by Femi Diah)

Malam mulai pekat ketika Mas Donna, pemandu kami selama perjalanan di Banyuwangi akhir Mei lalu, mengajak mampir ke Museum Sukowidi. Iming-iming tentang koleksi museum yang unik membuat saya dan empat teman seperjalanan (Femi, Pesta, Shava dan Ririn) sulit menolak ajakan Mas Donna. Padahal kalau dipikir-pikir saat itu kami sudah kelelahan dan kelaparan berat setelah seharian menjelajah Banyuwangi dengan destinasi utama Taman Nasional Baluran. Bagaimana bisa berkata tidak? Mas Donna berpromosi di museum tersebut kami bisa memperoleh data-data sejarah Banyuwangi. Too good to be true! Read more of this post