Warna-Warni Kampung Batik Kauman

Kampung Batik Kauman menyediakan berbagai pilihan tempat untuk disambangi

Kampung Batik Kauman menyediakan berbagai pilihan tempat untuk disambangi

Kota tanpa bangunan bersejarah, ibarat manusia tanpa ingatan (Prof. Eko Budiharjo)

Di tengah kepungan simbol-simbol modernitas seperti pusat perbelanjaan, hotel, dan kantor bank yang ada di sekitarnya, Kampung Batik Kauman Solo mencoba bertahan dengan kekhasannya. Nama Kauman diambil dari kata kaum, yang diartikan sebagai kampung pejabat. Kampung yang dulu dihuni juragan-juragan batik dan abdi dalem keraton itu masih mempertahankan banyak bangunan lawas sarat sejarah.

Rumah berarsitektur Jawa berpadu dengan arsitektur Belanda membuat lorong-lorong kampung di jantung Kota Solo tersebut terasa tak membosankan untuk ditelusuri. Menyambangi Kampung Batik Kauman memang tak harus terpaku untuk memburu batik-batik indah. Warna-warni di tiap sudut kampung tersebut juga sangat menarik untuk dinikmati. Monggo mampir ke Kampung Batik Kauman. Read more of this post

Advertisements

Kopi Lelet Memang Istimewa

IMG_1911

Kadang saya iri dengan para penikmat kopi. Mereka tahu betul bagaimana seni menikmati cita rasa minuman pahit berwarna hitam pekat itu. Bahkan bagi sebagian orang, secangkir kopi bisa mendatangkan inspirasi.

Saya sendiri bukan penikmat kopi, bahkan bisa dibilang menghindarinya. Kopi sepertinya tidak ditakdirkan bersahabat dengan saya. Jika nekat, efeknya adalah perut yang melilit perih atau kepala berat seperti habis dihantam bogem mentah. Meski tahu konsekuensi yang harus ditanggung, kadang saya nekat bercumbu dengan kopi. Tentu harus dengan alasan spesial, salah satunya seperti saat berada di Lasem.
Read more of this post

Pamer Batik dan Manchester United

* Note : Ini tulisan edisi narsis

Sebagai orang Indonesia, wajar dong bila saya agak bangga berlebihan terhadap batik. Apalagi batik Indonesia sudah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Rasanya selalu ingin bercerita kepada semua orang di luar sana (baca: orang luar negeri) tentang keindahan, eksotisme dan filosofi batik Indonesia yang adiluhung.

blog2

Saya dan Trevor

Nah, wajar juga dong jika sebagai fans Manchester United saya selalu bangga menunjukkan kecintaan terhadap klub raksasa Inggris itu. Hasrat pamer identitas semakin menggebu-gebu jika bertemu fans klub lain. Memang hal itu sepertinya sudah menjadi naluri primitif seorang fans sepak bola. Semakin fanatik, semakin ajaib pula tingkah seorang seorang suporter.

Gara-gara kecintaan terhadap batik dan kegilaan terhadap Manchester United itulah, saya jadi punya semacam aturan tidak tertulis yang harus dilakukan ketika punya kesempatan berkunjung ke negeri orang. Traveling ke negara manapun, batik dan baju “berbau” Manchester United harus ada di dalam backpack. Tujuannya membawa dua barang itu cuma satu. Pamer identitas pada orang-orang di luar sana. Narsis banget ya!! Read more of this post

Museum Batik Danar Hadi : Sebuah Refleksi Cinta

Ketika seseorang mencintai sesuatu dengan sepenuh hati, orang lain pasti bisa melihat dan merasakannya. Passion memang tak bisa ditutupi. Gumpalan gairah dan kecintaan mendalam itulah yang saya rasakan ketika mengunjungi Museum Batik Danar Hadi Solo, belum lama ini.

Pegawai Danar Hadi sedang membatik

Pegawai Danar Hadi sedang membatik

Museum ini didirikan oleh H Santosa Doellah, pemilik usaha batik ternama asal Kota Bengawan, Danar Hadi. Sudah hampir 13 tahun museum ini eksis sejak diresmikan oleh Presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri, pada 20 Oktober 2000. Letaknya strategis di jantung Kota Solo, tepatnya di Ndalem Wuryaningratan yang berada di jalan Slamet Riyadi, sederetan dengan Museum Radyapustaka. Tempat ini sangat recomended. Bahkan di situs Trip Advisor, Museum Danar Hadi menduduki ranking pertama tempat wisata di Solo yang paling disarankan. Read more of this post