Museum Sukowidi : Kotak Sejarah Banyuwangi

Melihat-lihat foto

Melihat-lihat foto

Memenuhi janji beberapa waktu lalu, saya ingin berbagi sedikit cerita tentang Museum Sukowidi Banguwangi. Bangunan museum ini boleh sederhana, tapi di mata saya Sukowidi adalah museum istimewa.

Nama museum ini kali pertama saya dengar dari Mas Donna, pemandu selama perjalanan di Banyuwangi akhir Mei lalu. Saya dan empat teman perjalanan (Pesta, Feni, Shava dan Ririn), ditawari Mas Donna mampir ke ke sana untuk mencari informasi yang lebih akurat tentang Watu Dodol.   Apakah itu?  Watu dodol adalah onggokan batu besar di tengah jalan yang merupakan gerbang masuk Banyuwangi dari arah Situbondo.

Rasa penasaran terhadap watu dodol itulah yang membawa kami mengunjungi Museum Sukowidi. Museum ini memang belum begitu dikenal dan belum masuk ke brosur-brosur wisata banyuwangi. Itu bisa dimaklumi karena usianya masih seumur jagung. Sukowidi baru diresmikan pada 18 Mei 2013, bertepatan dengan Hari Museum Internasional. Pemilihan momen yang sangat pas. Read more of this post

Advertisements

Bunker Kuno di Laweyan

Entah sudah berapa kali saya menyambangi Kampung Batik Laweyan di Solo ini. Selain berziarah ke makam simbah, agenda lainnya adalah melihat-lihat atau membeli baju batik di beberapa toko di sana. Tapi, boleh dibilang saya belum pernah berusaha mengenal lebih dalam kampung batik tersohor ini.

Bunker

Bunker

Nah, tampaknya saya perlu berterima kasih kepada tiga teman ngetrip dari Semarang, Azizah, Indra dan Ira. Gara-gara mereka, saya akhirnya belajar mengenal Laweyan lebih dalam. Permintaan Azizah untuk blusukan ke Laweyan pada awal Mei lalu memaksa saya mencari-cari informasi yang sekiranya menarik. Daripada bingung, saya bertanya kepada Fendi dari komunitas Blusukan Solo karena kebetulan mereka pernah mblusuk ke Laweyan. Fendi kemudian menyarankan untuk mengajak teman-teman ke Mesjid Laweyan, Ndalem Djimatan dan sebuah rumah yang masih memiliki bunker. Destinasi terakhir itulah yang akan saya ceritakan.

Tak sulit menemukan rumah di Laweyan yang berbunker tersebut, tepatnya di Setono RT 02/RW II, Jalan Tiga Negri, Laweyan. Setelah memarkir kendaraan di dekat jembatan di utara Mesjid Laweyan, kami berlima (plus sahabat saya Krisna) langsung dihampiri seorang lelaki paruh baya. Ketika kami menyebutkan tentang bunker, dia langsung mengerti.  Kami berempat diantar memasuki lorong-lorong sempit di bagian timur jembatan. Sekitar lima menit, sampailah di sebuah bangunan berpintu gerbang berwarna merah mencolok. Di balik pintu merah itulah, berdiri salah satu rumah yang memiliki satu-satunya bunker yang masih tersisa di Laweyan.
Read more of this post

Kopi Lelet Memang Istimewa

IMG_1911

Kadang saya iri dengan para penikmat kopi. Mereka tahu betul bagaimana seni menikmati cita rasa minuman pahit berwarna hitam pekat itu. Bahkan bagi sebagian orang, secangkir kopi bisa mendatangkan inspirasi.

Saya sendiri bukan penikmat kopi, bahkan bisa dibilang menghindarinya. Kopi sepertinya tidak ditakdirkan bersahabat dengan saya. Jika nekat, efeknya adalah perut yang melilit perih atau kepala berat seperti habis dihantam bogem mentah. Meski tahu konsekuensi yang harus ditanggung, kadang saya nekat bercumbu dengan kopi. Tentu harus dengan alasan spesial, salah satunya seperti saat berada di Lasem.
Read more of this post