Bunker Kuno di Laweyan

Entah sudah berapa kali saya menyambangi Kampung Batik Laweyan di Solo ini. Selain berziarah ke makam simbah, agenda lainnya adalah melihat-lihat atau membeli baju batik di beberapa toko di sana. Tapi, boleh dibilang saya belum pernah berusaha mengenal lebih dalam kampung batik tersohor ini.

Bunker

Bunker

Nah, tampaknya saya perlu berterima kasih kepada tiga teman ngetrip dari Semarang, Azizah, Indra dan Ira. Gara-gara mereka, saya akhirnya belajar mengenal Laweyan lebih dalam. Permintaan Azizah untuk blusukan ke Laweyan pada awal Mei lalu memaksa saya mencari-cari informasi yang sekiranya menarik. Daripada bingung, saya bertanya kepada Fendi dari komunitas Blusukan Solo karena kebetulan mereka pernah mblusuk ke Laweyan. Fendi kemudian menyarankan untuk mengajak teman-teman ke Mesjid Laweyan, Ndalem Djimatan dan sebuah rumah yang masih memiliki bunker. Destinasi terakhir itulah yang akan saya ceritakan.

Tak sulit menemukan rumah di Laweyan yang berbunker tersebut, tepatnya di Setono RT 02/RW II, Jalan Tiga Negri, Laweyan. Setelah memarkir kendaraan di dekat jembatan di utara Mesjid Laweyan, kami berlima (plus sahabat saya Krisna) langsung dihampiri seorang lelaki paruh baya. Ketika kami menyebutkan tentang bunker, dia langsung mengerti.  Kami berempat diantar memasuki lorong-lorong sempit di bagian timur jembatan. Sekitar lima menit, sampailah di sebuah bangunan berpintu gerbang berwarna merah mencolok. Di balik pintu merah itulah, berdiri salah satu rumah yang memiliki satu-satunya bunker yang masih tersisa di Laweyan.
Read more of this post