Love Timnas Indonesia, Hate Nurdin Halid

Menyaksikan Manchester United bertanding selalu menguras emosi. Maklum, saya adalah fans berat klub berjulukan Setan Merah itu. Emosi akan pecah menjadi kegembiraan menggetarkan saat kemenangan diraih, apalagi di partai-partai prestisius. Saya masih ingat betul memori manis dua tahun lalu. Air mata tiba-tiba menitik tanpa diundang menatap dari layar kaca bagaimana MU menjemput takdir menjuarai Liga Champions lewat adu penalti dramatis kontra Chelsea di bawah guyuran hujan deras di Stadion Luzniki, Moskow.
Sensasi seperti itu sulit dicari tandingannya. Namun dengan satu pengecualian. Emosi serupa, bahkan kadang lebih, menyeruak tanpa permisi kala Timnas Indonesia tampil. Ya, MU mungkin tim kesayangan saya, tapi Indonesia adalah tumpah darah saya!!! Hati memang tidak bisa dibohongi. Seumur-umur, baru sekali saya merasa haru biru menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Anehnya kejadian istimewa itu bukan tertoreh pada momen upacara bendera, yang jadi aktivitas wajib hari Senin bagi setiap anak sekolah di Indonesia. Gelora kebangsaan justru saya dapatkan di stadion sepak bola!! Momen unik tersebut hadir dalam gelaran Piala Asia 2007, tepatnya di laga pertama ketika Indonesia menjinakkan Bahrain dengan skor 2-1, di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Sepanjang laga saya benar-benar terbius dalam euforia fantastis. Ikut teriak, mengumpat dan berjingkrak-jingkrak kegirangan setiap pemain Indonesia mencetak gol. Sensasinya sungguh luar biasa.
Read more of this post