Nyanyian Gelisah Perpustakaan Mangkunegaran

Mentranskrip

Mentranskrip

Sepasang tangan keriput milik Pak Sonto tampak bergerak lincah. Tangan kiri terpaku di atas buku kusam kecoklatan berisi barisan tulisan aksara Jawa. Gerakan lebih gesit diperagakan tangan kanannya yang memegang sebuah pena, mengguratkan kata demi kata ke lembaran kertas folio. Sebuah kaca pembesar melengkapi keriuhan meja sederhana tempat Pak Sonto menjalani aktivitasnya siang itu.

Siapakah Pak sonto? Beliau memang bukan seorang pesohor. Nama lengkapnya KP Sontodipuro. Biasa dipanggil Wa Sonto atau Pak Sonto. Pak Sonto adalah salah satu petugas di Reksa Poestaka atau lebih dikenal sebagai Perpustakaan Mangkunegaran Solo. Usianya sudah menginjak 87 tahun. Di usia sesenja tersebut, normalnya Pak Sonto menghabiskan hari-harinya dengan bersantai di rumah bersama anak cucunya. Tapi beliau memilih jalan yang berbeda. Pak Sonto lebih suka menghabiskan sebagian harinya untuk mengabdi di Reksa Poestaka. Tugasnya adalah mentranskrip tulisan jawa ke latin. Jika tak rampung dikerjakan di kantor, Pak Sonto kadang harus merampungkan naskah transkrip di rumah. “Sekarang banyak anak kecil dan anak muda yang tidak bisa membaca aksara Jawa. Dengan ditranskrip ke tulisan latin, mereka jadi bisa membaca dan memahaminya,” kata Pak Sonto menjelaskan pentingnya tugas yang diembannya. Read more of this post