Semarak Festival Lampion Suzhou

Menikmati pendar cahaya lampion

Menikmati pendar cahaya lampion

Memandangi pendar cahaya lampion sungguh menyenangkan. Cahayanya yang temaram membangkitkan romantisme tentang kisah-kisah masa lampau. Lampion atau lentera konon sudah digunakan di Tiongkok sejak zaman Dinasti Han (25-220 Masehi). Pendar cahaya lampion juga menyimpan makna filosofis. Nyala merah lampion menjadi simbol pengharapan tentang rezeki, keberuntungan, dan kebahagiaan. Sedangkan pada jaman Dinasti Tang (618 -907 M) orang membuat dan menyalakan lentera atau lampion sebagai lambang kedamaian, kemakmuran, dan kekuasaan negara. Read more of this post

Bubur India Khas Masjid Pekojan

pekojan1

Penampakan bubur India

Saya menatap tak percaya ke layar handphone. Sudah jam 5 sore? What! Langsung saya membangunkan Azizah yang masih tidur pulas. Kami langsung panik. Rencana keluar penginapan pada pukul 16.30 WIB supaya bisa leluasa mencari takjil berantakan sudah. Embusan udara sejuk dari AC di penginapan benar-benar membius, ditambah badan memang agak lemas karena sedang berpuasa. Suara alarm gagal membuat kami melek kami pada jam 4 sore. Rifqy yang tidur di kamar sebelah juga tak berinisiatif untuk membangunkan kami. Hasilnya adalah kekacauan kecil ini.

Sekitar 15 menit kemudian, kami bertiga berjalan kaki meninggalkan penginapan yang terletak di kawasan Pecinan Semarang. Tujuan utamanya mencari makanan berbuka puasa di Masjid Jami Pekojan. Azizah merekomendasikan menu buka puasa yang menarik. Bubur India khas Masjid Pekojan. Read more of this post

(Gagal) Meramal Nasib di Sam Poo Kong

Jika sedang berada di Semarang dan butuh ide mengunjungi tempat wisata yang eksotis, cobalah mampir di Klenteng Sam Poo Kong alias klenteng Gedong Batu. Klenteng ini letaknya di Simongan, tak terlalu jauh dari Simpang Lima. Cukup dengan membayar uang masuk sebesar Rp 3.000, kita akan disuguhi pemandangan indah, unik dan kaya akan sejarah. Tempat ini dijamin tidak bakal mengecewakan…buat sekadar foto-foto maupun menelusuri sejarah masa lampau,,,

Klenteng yang katanya tersohor hingga daratan Tiongkok ini, sangat lekat dengan seorang pelaut termasyur, Laksamana Cheng Ho. Ketika berlayar mengarungi lautan dan mengunjungi negara-negara lain untuk misi politik dan dagang mulai tahun 1400-an, ia dikabarkan sempat singgah di Nusantara, salah satunya di Semarang. Ia terpaksa berhenti di Semarang karena salah satu anak buahnya sakit keras dan butuh pengobatan.   Gua di Simongan tempat Cheng Ho beristirahat, kini menjadi bangunan utama klenteng Sam Po Kong. Pada tahun 2002, tempat ini mengalami pemugaran besar-besaran dan akhirnya menjadi indah seperti sekarang. Sepertinya pengembangan masih akan terus berlanjut.

Apa sih yang unik dari klenteng ini sehingga layak untuk dikunjungi? Yang jelas, meski menjadi tempat ibadah pemeluk kepercayaan Kong Hu Chu, klenteng ini juga menarik dikunjungi umat Muslim. Hal itu tak lepas dari sosok Cheng Ho, yang konon merupakan seorang muslim. Sebenarnya niat saya melihat klenteng ini sudah terpendam lama. Alhasil, ketika punya waktu ke Semarang, tempat inipun menjadi destinasi utama saya..
Read more of this post