Setiawan Subekti dan Dunia Kopi

–Sekali seduh, kita bersaudara—-

Setiawan Subekti

Setiawan Subekti

Saya memandang gelas kopi di tangan dengan perasaan ragu. Haruskan saya meminum kopi hitam ini? Bagaimana jika berbuntut perut melilit dan kepala pusing? Sudahlah, apa yang akan terjadi mending dipikir belakangan. Akhirnya saya memutuskan menyeruput kopi panas itu. Rasanya pahit dan terasa berat.

“Bagaimana rasanya, enak?” tanya pria di hadapan saya. Pertanyaan itu berbalas dengan sebuah pengakuan. Kopi bukan minuman favorit saya. Alih-alih menggemari, minum kopi 10 gelas dalam setahun saja sudah merupakan prestasi tersendiri bagi saya. Apa enaknya minum kopi jika endingnya kepala pusing dan perut mual.

“Saya akan membuatkan kopi khusus yang tidak menyebabkan perut perih dan pusing,” cetus pria tersebut. Dia kemudian melangkah ke alat pembuat kopi, kali ini untuk meracik secangkir kopi dengan komposisi khusus. Setelah selesai, segelas kopi panas mengepul kembali disodorkan kepada saya. Pelan-pelan minuman panas yang telah saya campuri gula itu meluncur ke tenggorokan. Saya berusaha mengenali teksturnya di bibir dan lidah. Rasanya memang berbeda. Lebih ringan dan tak terlalu pekat. Read more of this post