Dawet Telasih Pasar Gede…Maknyus

Suasana di warung dawet telasih Bu Dermi

Suasana di warung dawet telasih Bu Dermi

Kuliner Kota Solo sangat khas. Amati saja sejumlah tempat kuliner yang jadi ikon Kota Bengawan. Sebagian penjualnya tak menempatkan kenyaman pengunjung sebagai prioritas. Pembeli kadang harus makan sambil berdiri atau antre berdesak-desakan untuk menikmati kuliner incaran mereka. Yang menarik, kuliner-kuliner tersebut nyaris tak pernah sepi dari pengunjung. Mungkin antre dan desak-desakan itu sensasinya.

Salah satu contohnya adalah penjual dawet telasih di Pasar Gede, Solo. Minuman ini jadi favorit saya jika cuaca Solo sedang panas menyengat. Apalagi di sekitar penjual dawet itu juga bertebaran jajanan pasar yang menggugah selera. Siapa yang tak tergoda coba? Penjual dawet telasih di pasar berarsitektur indah yang dibangun pada 1930 itu ada beberapa orang. Tapi yang paling legendaris adalah warung milik Bu Dermi. Dawet selasih Bu Dermi sudah berumur tiga generasi. Tak heran, dawetnya yang paling diincar, terutama oleh wisatawan dari luar Solo. Read more of this post

Batik Sang Maestro

batik go tik swan

batik

Bagi para penggemar batik, sosok Go Tik Swan tentu tak asing lagi. Beliau adalah seorang maestro dari Solo pencipta motif Batik Indonesia. Motif ini adalah perpaduan batik khas keraton dengan pesisiran. Meski Go Tik Swan sudah meninggal beberapa tahun silam, karyanya masih lestari.  Karya Go Tik Swan masih dijaga dan dilestarikan oleh ahli warisnya. Selembar batik Indonesia dibuat dalam kurun waktu enam bulan karena prosesnya memang rumit. Harganya pun cukup menguras kantong.Selembar Batik Indonesia dibanderol Rp6,5 juta, itu pun pesannya harus antre.

Artikel ini diikutkan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde ke-41 dengan Tema Wastra dengan tuan rumah Mbak Indah Nuria.

Solo, 23 April 2014

Festival Durian Ngargoyoso

Membeli durian

Membeli durian

Banyak orang menyambut musim durian dengan suka cita. Buah berduri tajam tersebut mudah dijumpai dimana-mana dengan aromanya yang khas. Tapi, saya bukan salah satu yang bersuka cita. Boro-boro mencicipinya, mencium bau durian saja sudah membuat kepala diserang pusing mendadak.

Tapi entah khilaf atau kurang kerjaan, tiba-tiba saya tertarik menyambangi Festival Durian Ngargoyoso 2014, 14 Maret lalu. Apalagi empat teman sekantor juga merencanakan hal yang sama. Akhirnya disepakati kami berlima pergi bersama-sama. Dari lima anggota rombongan, saya lah satu-satunya yang tak doyan durian. Teman-teman lain malah berencana memborong buah beraroma tajam itu.

Poin penting pertama, di manakah Ngargoyoso? Itu adalah nama salah satu kecamatan di Kabupaten Karanganyar. Beberapa objek wisata bisa kita temukan di tempat ini. Sebut saja kebun teh Kemuning, Candi Sukuh maupun Candi Cetho. Yang tak banyak diketahui orang, Ngargoyoso ternyata juga merupakan salah satu sentra penghasil durian di Karanganyar. Selama ini pamor durian Ngargoyoso memang tenggelam  di bawah bayang-bayang durian Matesih yang lebih tersohor. Justru karena  fakta itulah saya tambah tertarik menengok Festival Durian Ngargoyoso yang baru kali pertama ini digelar.
Read more of this post

Kain Lurik: Tentang Menghargai Proses

Menenun lurik

Menenun lurik

“Belajarlah dari pohon, menghargai proses, tidak tumbuh tergesa-gesa.”

(Yus R. Ismail)

Kalimat bijak tersebut saya temukan saat membaca postingan di sebuah blog. Akhirnya saya penasaran mencari tahu sosok Yus R. Ismail. Namanya terasa kurang familier. Ternyata  dia seorang cerpenis dan penulis buku. Kalimat di atas bisa ditemukan dari buku karangannya berjudul Pohon Tidak Tumbuh Tergesa-Gesa. Saya belum pernah melihat secara langsung buku tersebut, apalagi membacanya. Tapi penggalan kalimat itu sangat membekas dalam ingatan.

Poin terpenting dalam kalimat itu adalah tentang menghargai proses. Dengan menghargai proses, kita jadi tahu butuh perjuangan dan kadang pengorbanan untuk menggapai sesuatu. Yang menyenangkan dari suatu keberhasilan kadang bukan pada hasilnya, tapi saat kita menikmati tahapan proses yang harus dilalui. Read more of this post

Pasar Gawok, Menyapa Kesederhanaan

Pembuat sabit

Pembuat sabit

Hiruk pikuk modernitas kadang membuat lelah. Pada suatu titik, manusia rindu dengan kesederhanaan yang orisinil. Tradisional. Ketika interaksi antar manusia dilakukan dengan alamiah dan apa adanya.

Mengunjungi pasar tradisional bisa menjadi alternatif saat ingin menepi dari keriuhan kota dengan segala kompleksitasnya. Jika sedang berada di Solo dan sekitarnya, cobalah menengok Pasar Gawok. Sebuah pasar tradisional memesona di Desa Geneng, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo.

Pasar ini letaknya tak terlalu jauh dari pusat Kota Solo. Jarak tempuhnya sekitar 30 menit jika menggunakan kendaraan bermotor. Jika tersesat di jalan, jangan segan untuk bertanya. Pasar ini cukup tersohor di wilayah Soloraya sehingga Anda dijamin bakal dengan mudah mendapatkan petunjuk dari warga-warga yang ditemui di jalan. Read more of this post

Giveaway The Spirit of Java

solo

Merchandise

Kota Solo memiliki beragam julukan. Sebut saja Kota Budaya, Kota Batik dan Kota Bengawan. Untuk memperkuat branding, sejak beberapa tahun terakhir Solo mantap menggunakan slogan The Spirit of Java. Secara garis besar tagline ini bermakna bahwa Solo merupakan jiwanya budaya Jawa. Slogan tersebut belakangan terbukti lebih seksi dan menjual dibandingkan slogan lawas Solo, yaitu Berseri. Berseri merupakan akronim dari bersih, sehat, rapi dan indah.

Penguatan branding ini bertujuan memperkuat posisi Solo di dunia pariwisata. Harus diakui, dalam urusan wisata, Solo masih tertinggal dari kota tetangga, Yogyakarta. Untungnya, pemerintah Kota Solo tidak tinggal diam. Berbagai upaya untuk mendongkrak pariwisata Solo mulai dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Saat itu Solo masih dipimpin oleh Joko Widodo (Jokowi) yang kini menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta.

Berbagai event bertaraf internasional rutin digelar. Destinasi-destinasi wisata dimaksimalkan, seperti Kampung Batik Kauman dan Kampung Batik Laweyan. Atraksi wisata baru juga diciptakan, contohnya pusat kuliner Gladag Langen Bogan (Galabo) dan Night Market Ngasopuro.

Nah, untuk ikut mendukung pariwisata Kota Solo, saya ingin meminta kesan serta masukan dari para pejalan. Ada sejumlah merchandise menarik khas Kota Solo yang akan saya bagikan. Caranya mudah, cukup jawab dua pertanyaan di bawah ini dan tuliskan jawabannya di kolom komentar di artikel ini.

Pertanyaan :

1. Apa kesan Anda tentang Kota Solo? (baik yang sudah pernah berkunjung atau belum)

2. Langkah apa yang harus dilakukan Solo supaya pariwisata terus berkembang dan namnya semakin moncer di dunia wisata?

Jawaban dari pertanyaan giveaway ini saya tunggu hingga akhir November (sekalian nunggu gajian hehehe). Saya akan memilih tujuh jawaban terbaik dan masing-masing bakal mendapatkan merchandise. Jenis merchandise yang saya bagikan antara lain T-Shirt khas Solo, tas, hiasan topeng, hingga magnet kulkas. Saya tunggu partisipasinya teman-teman.  🙂

Salam budaya.

Wayang Orang Sriwedari dalam Pusaran Masa

Pentas wayang Orang Sriwedari

Pentas wayang Orang Sriwedari

Masa kejayaan pertunjukan Wayang Orang Sriwedari sampai di telinga saya hanya berwujud rangkaian cerita. Ketika pertunjukan itu menjadi primadona pada periode 1960 hingga 1970-an, saya belum  hadir di dunia

Wayang Orang Sriwedari yang saya kenal sangat berjarak dengan kata hingar bingar. Lebih tepat diasosiasikan dengan sepi dan menua. Jangankan menggemari, berusaha menyempatkan waktu untuk menonton pertunjukan pun terasa berat. Sejujurnya, meski bersekolah dan bekerja di Solo, baru dua kali saya menyaksikan pentas Wayang Orang Sriwedari. Menyedihkan bukan?

Persinggungan saya dengan Wayang Orang Sriwedari bertolak belakang dengan Pak Danang Eram Setiawan. Pria murah senyum itu menyimpan memori melimpah. Energi Pak Danang seperti tak ada habisnya saat menumpahkan kenangannya tentang Wayang Orang Sriwedari. Ayahnya, Pak Prajak, seorang pemain legendaris kesenian andalan Solo tersebut. Pak Danang pun pernah bermain, meski tak terlalu lama. Read more of this post

Nyanyian Gelisah Perpustakaan Mangkunegaran

Mentranskrip

Mentranskrip

Sepasang tangan keriput milik Pak Sonto tampak bergerak lincah. Tangan kiri terpaku di atas buku kusam kecoklatan berisi barisan tulisan aksara Jawa. Gerakan lebih gesit diperagakan tangan kanannya yang memegang sebuah pena, mengguratkan kata demi kata ke lembaran kertas folio. Sebuah kaca pembesar melengkapi keriuhan meja sederhana tempat Pak Sonto menjalani aktivitasnya siang itu.

Siapakah Pak sonto? Beliau memang bukan seorang pesohor. Nama lengkapnya KP Sontodipuro. Biasa dipanggil Wa Sonto atau Pak Sonto. Pak Sonto adalah salah satu petugas di Reksa Poestaka atau lebih dikenal sebagai Perpustakaan Mangkunegaran Solo. Usianya sudah menginjak 87 tahun. Di usia sesenja tersebut, normalnya Pak Sonto menghabiskan hari-harinya dengan bersantai di rumah bersama anak cucunya. Tapi beliau memilih jalan yang berbeda. Pak Sonto lebih suka menghabiskan sebagian harinya untuk mengabdi di Reksa Poestaka. Tugasnya adalah mentranskrip tulisan jawa ke latin. Jika tak rampung dikerjakan di kantor, Pak Sonto kadang harus merampungkan naskah transkrip di rumah. “Sekarang banyak anak kecil dan anak muda yang tidak bisa membaca aksara Jawa. Dengan ditranskrip ke tulisan latin, mereka jadi bisa membaca dan memahaminya,” kata Pak Sonto menjelaskan pentingnya tugas yang diembannya. Read more of this post

Belajar Ikhlas dari Mbah Parno

Sabtu pagi saya bangun tidur disambut perasaan gelisah. Ada sesuatu yang mengganjal. Entah mengapa tiba-tiba saya merasa gagal. Kegagalan yang sulit diterjemahkan…absurd. Padahal kalau dipikir-pikir semuanya berjalan lancar-lancar saja.

Perasaan tak enak itu terus menghantui meskipun seharian saya bergulat dengan berbagai aktivitas, mulai berkunjung ke rumah saudara sampai nongkrong bersama para sahabat. Rasanya seperti orang yang kesepian di tengah keramaian.

Damai, iklhlas

Damai, iklhlas

Read more of this post

Bunker Kuno di Laweyan

Entah sudah berapa kali saya menyambangi Kampung Batik Laweyan di Solo ini. Selain berziarah ke makam simbah, agenda lainnya adalah melihat-lihat atau membeli baju batik di beberapa toko di sana. Tapi, boleh dibilang saya belum pernah berusaha mengenal lebih dalam kampung batik tersohor ini.

Bunker

Bunker

Nah, tampaknya saya perlu berterima kasih kepada tiga teman ngetrip dari Semarang, Azizah, Indra dan Ira. Gara-gara mereka, saya akhirnya belajar mengenal Laweyan lebih dalam. Permintaan Azizah untuk blusukan ke Laweyan pada awal Mei lalu memaksa saya mencari-cari informasi yang sekiranya menarik. Daripada bingung, saya bertanya kepada Fendi dari komunitas Blusukan Solo karena kebetulan mereka pernah mblusuk ke Laweyan. Fendi kemudian menyarankan untuk mengajak teman-teman ke Mesjid Laweyan, Ndalem Djimatan dan sebuah rumah yang masih memiliki bunker. Destinasi terakhir itulah yang akan saya ceritakan.

Tak sulit menemukan rumah di Laweyan yang berbunker tersebut, tepatnya di Setono RT 02/RW II, Jalan Tiga Negri, Laweyan. Setelah memarkir kendaraan di dekat jembatan di utara Mesjid Laweyan, kami berlima (plus sahabat saya Krisna) langsung dihampiri seorang lelaki paruh baya. Ketika kami menyebutkan tentang bunker, dia langsung mengerti.  Kami berempat diantar memasuki lorong-lorong sempit di bagian timur jembatan. Sekitar lima menit, sampailah di sebuah bangunan berpintu gerbang berwarna merah mencolok. Di balik pintu merah itulah, berdiri salah satu rumah yang memiliki satu-satunya bunker yang masih tersisa di Laweyan.
Read more of this post