Candi Lawang yang Kesepian

Candi lawang

Candi lawang

Ada candi di Boyolali? Itulah reaksi pertama saya ketika diberi tahu tentang keberadaan dua candi di kawasan Boyolali. Informasi tersebut memang benar-benar baru untuk saya. Selama ini yang saya tahu candi-candi terkonsentrasi di kawasan Klaten, Yogyakarta, Magelang atau Karanganyar.

Daripada penasaran, saya memutuskan untuk membuktikan sendiri keberadaan candi tersebut. Sebenarnya di Kota Susu ada dua candi, yaitu Lawang dan Sari. Namun, saya baru kesampaian mengunjungi salah satu saja, Candi Lawang. Mencari Candi Lawang susah-susah gampang. Candi tersebut kurang begitu dikenal, bahkan oleh warga Boyolali sendiri, termasuk saya. Setelah bertanya ke beberapa teman, saya akhirnya menemukan alamat lengkapnya. Candi Lawang ternyata berlokasi di Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo. Read more of this post

Advertisements

Nyasar Mengesankan di Newseum

Bagian depan Newseum Indonesia

Bagian depan Newseum Indonesia

Hujan bertambah deras ketika tukang ojek yang saya sewa memelankan laju sepeda motor. Kami sudah berada di Jl. Veteran Satu, Monas, Jakarta Pusat. “Katanya tokonya di dekat Kedai Es Krim Ragusa bang,” kata saya kepada abang tukang ojek, yang saya carter dari Stasiun Gambir, awal Desember 2013.

Jarum jam sudah melewati pukul 17.00 WIB. Kami mencari sebuah toko buku yang direkomendasikan sahabat saya, Aning. Tokonya terletak tak jauh dari Ragusa. Aning sendiri belum pernah masuk ke toko buku tersebut, baru melihat dari luar saja.

Pandangan mata saya akhirnya menangkap tatanan buku di bagian dalam sebuah bangunan. Nah, ketemu juga yang dicari, tepatnya di Jl. Veteran Satu No. 23. Bangunan tersebut bertuliskan Newseum Indonesia. Tatanan buku-buku di rak terlihat dengan jelas dari luar karena bagian depan bangunan tersebut terbuat dari kaca.

Read more of this post

Relaksasi di Lembah Harau

Melakukan perjalanan tanpa itinerary detail kadang malah asyik karena biasanya berbonus kejutan. Tapi, saya ini memang dasarnya agak malas nyusun-nyusun jadwal dan agenda. Jadi…mencari kejutan itu bisa dibilang hanya kamuflase. Alasan sebenarnya ya malas itu tadi..hehehe

harau9

    harau4   harau6   harau16

Perjalanan saya dan seorang sahabat, Krisna, ke Sumatra Barat, Juni lalu, termasuk kategori tanpa itinerary detail itu. Kami berangkat hanya berbekal artikel hasil browsing dari internet, uang saku seadanya, tas ransel berisi baju secukupnya dan beberapa nomer telfon teman di Padang. Nah diantara destinasi ala kadarnya, kami memasukkkan Lembah Harau. Gara-gara Harau, kami rela melewatkan Danau Maninjau dan Danau Singkarak yang tersohor itu. Yah, seperti hidup, traveling memang soal pilihan (halah), apalagi “jatah” di Sumbar cuma tiga hari plus beberapa jam. So, Maninjau dan Singkarak skip dulu deh. Read more of this post

Museum Sukowidi : Kotak Sejarah Banyuwangi

Melihat-lihat foto

Melihat-lihat foto

Memenuhi janji beberapa waktu lalu, saya ingin berbagi sedikit cerita tentang Museum Sukowidi Banguwangi. Bangunan museum ini boleh sederhana, tapi di mata saya Sukowidi adalah museum istimewa.

Nama museum ini kali pertama saya dengar dari Mas Donna, pemandu selama perjalanan di Banyuwangi akhir Mei lalu. Saya dan empat teman perjalanan (Pesta, Feni, Shava dan Ririn), ditawari Mas Donna mampir ke ke sana untuk mencari informasi yang lebih akurat tentang Watu Dodol.   Apakah itu?  Watu dodol adalah onggokan batu besar di tengah jalan yang merupakan gerbang masuk Banyuwangi dari arah Situbondo.

Rasa penasaran terhadap watu dodol itulah yang membawa kami mengunjungi Museum Sukowidi. Museum ini memang belum begitu dikenal dan belum masuk ke brosur-brosur wisata banyuwangi. Itu bisa dimaklumi karena usianya masih seumur jagung. Sukowidi baru diresmikan pada 18 Mei 2013, bertepatan dengan Hari Museum Internasional. Pemilihan momen yang sangat pas. Read more of this post

Gaya Jalan Fans Sepakbola

Bderfoto di Stadion Diponegoro, Banyuwangi

Narsis di Stadion Diponegoro, Banyuwangi

Malam-malam chatting tentang sepak bola Indonesia? Terdengar kurang kerjaan kan? Tapi itulah yang saya lakukan dengan sahabat saya, Aning, di tengah malam kemarin. Buntutnya, setelah sesi chatting selesai, saya kepikiran menulis sebuah artikel.

Tentu bukan soal kebobrokan sepak bola di Tanah Air yang sangat membosankan dan memprihatinkan itu. Saya hanya ingin berbagi cerita mengenai perjalanan ala penggemar sepak bola. Saya memang menggemari olahraga paling popular sejagat itu, kebetulan sebagian besar teman traveling saya punya hobi yang sama. Read more of this post

Chan Umar Pelestari Ukiran Minang

Masuk-keluar galeri seni di Nagari Pandai Sikek, Tanah Datar, Sumatra Barat, membuat kepala saya mendadak pening. Tentu saja bukan pening dalam arti sebenarnya. Melihat koleksi songket menawan tapi tak bisa memilikinya ternyata lumayan menyiksa. Seperti kasih tak sampai. Itulah yang membuat kepala saya tiba-tiba pening.

Pak Chan

Pak Chan

Harga songket khas Pandai Sikek memang tak bersahabat dengan isi kantong saya yang pas-pasan. Di beberapa toko yang saya datangi, banderol kain songket termurah sekitar Rp800.000. Mahal amat. Apalagi saat mampir ke sana, pertengahan Juni lalu, kartu ATM saya sedang hilang. Uang tunai pun mulai menipis. Alhasil, saya tak bisa berkutik saat melihat songket-songket indah dan menggoda hati itu. Read more of this post

Kehangatan Komunitas Sejarah Banyuwangi

Kami ini muncul karena pemerintah absen. Mereka tidak bisa diharapkan.”

Mbak Ira dan Mas Donna

Mbak Ira dan Mas Donna
(Foto by Femi Diah)

Malam mulai pekat ketika Mas Donna, pemandu kami selama perjalanan di Banyuwangi akhir Mei lalu, mengajak mampir ke Museum Sukowidi. Iming-iming tentang koleksi museum yang unik membuat saya dan empat teman seperjalanan (Femi, Pesta, Shava dan Ririn) sulit menolak ajakan Mas Donna. Padahal kalau dipikir-pikir saat itu kami sudah kelelahan dan kelaparan berat setelah seharian menjelajah Banyuwangi dengan destinasi utama Taman Nasional Baluran. Bagaimana bisa berkata tidak? Mas Donna berpromosi di museum tersebut kami bisa memperoleh data-data sejarah Banyuwangi. Too good to be true! Read more of this post