Dunia Tanpa Sekat

Fans dari Asia di Stadion Donbass Arena, Donetsk

Fans dari Asia di Stadion Donbass Arena, Donetsk. Cukup banyak fans dari Asia yang datang ke Ukraina untuk menyaksikan Euro 2012.

 

Setiap menyaksikan berita kekacauan di Ukraina, saya merana. Dua tahun lalu negeri itu terasa tenang dan damai. Tak ada tanda-tanda bakal muncul konflik hebat. Kegembiraan terasa di setiap sudut kota. Manusia dari berbagai belahan dunia berkumpul dalam suka cita. Merayakan pesta akbar sepak bola, Euro 2012. Dunia terasa tanpa sekat. Warga Rusia dan Ukraina yang kini bertikai, dulu bisa berbaur damai, tanpa embel-embel kekerasan. Ternyata waktu memang bisa mengubah segalanya. Hanya dalam tempo dua tahun, kedamaian di Ukraina terkoyak. Sebagian wilayah Ukraina ternoda oleh konflik. Saya benar-benar merindukan Ukraina yang sempat saya singgahi selama 10 hari, dua tahun lalu. Keriangan di pusat-pusat keramaian, kedamaian di taman-taman kota, dan terutama tingkah konyol dan lucu para fans sepak bola dari berbagai belahan dunia. Semoga kedamaian itu segera kembali. Read more of this post

Advertisements

Kecanduan Metro

Stasiun Metro Zoloti Vorota

Stasiun Metro Zoloti Vorota

Selama 10 hari berada di Ukraina, tepatnya di Kiev dan Donetsk, saya jadi kecanduan memanfaatkan moda transportasi Metro alias kereta bawah tanah. Selain tarifnya miring, Metro bebas macet dan kecepatannya memuaskan. Metro di Ukraina mulai beroperasi sejak 1960 alias sudah setengah abad lebih. Beberapa statiun Metro bangunannya sangat klasik, membuat saya tak bosan menyusurinya berulang kali. Selain Arsenalna, yang merupakan stasiun kereta bawah tanah terdalam di dunia, saya juga punya satu stasiun favorit, Zoloti Vorota. Atap stasiun ini melengkuh megah dan indah, berhias lampu-lampu gantung menarik. Syahdu!

Foto ini untuk meramaikan Turnamen Foto Perjalanan Ronde 38 : Terminal/Stasiun , dengan Kokoh Roca sebagai tuan rumahnya.

Taman Hati

taman

Salah satu taman di Kiev, Ukraina

Berjalan-jalan sore mengelilingi kota Kiev di Ukraina di saat musim panas, menjadi pengalaman batin yang mengesankan. Kiev adalah taman. Di berbagai sudut kota, kita dengan mudah menemukan taman kota yang asri, rindang, sejuk dan nyaman, baik berukuran besar maupun kecil.  Semuanya gratis.

Warga Kiev banyak menghabiskan waktu senggang di taman-taman tersebut. Ada yang sekadar duduk sendirian sembari membaca buku, melamun atau makan.  Ada juga yang berbincang hangat dengan teman, keluarga maupun kekasih tercinta.

Terus terang saya tak mengetahui nama taman-taman tersebut. Paling hanya dua taman besar yang mudah diingat namanya, Boulevard Shevchenco dan Botanical Garden. Saya lebih suka menyebut taman-taman tersebut sebagai Taman Hati. Hati bisa menjadi hangat hanya dengan berbincang dan berkumpul bersama keluarga, keluarga atau kekasih sambil memandang warna-warni bunga dan tanaman hijau. Hati juga bisa menghangat hanya dengan ditemani sebuah buku dan bangku yang bersahabat. Kadangkala membahagiakan hati itu memang sangat sederhana.

Postingan ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan periode 36 bertema Taman dengan tuan rumah Buzzerbeezz

Solo, 12 Februari 2014

Pechersk Lavra

Pengunjung berjalan menuju Pechersk Lavra

Pengunjung berjalan menuju Pechersk Lavra

Menikmati suasana Kiev, Ukraina, bisa dilakukan dengan mudah, apalagi pada musim panas. Suhu di Kiev rata-rata berkisar 21 derajat celcius, cukup sejuk bagi penduduk negeri tropis seperti Indonesia. Berjalan-jalan santai pada sore hari sembari memandangi bangunan-bangunan klasik ala Eropa kuno, duduk santai di taman-taman yang asri atau menjelajahi kota dengan moda transportasi umum yang nyaman, bisa jadi alternatif.

Kiev memiliki sejumlah ikon menarik. Salah satunya Kiev Pechersk Lavra. Ketika kali pertama membaca tentang tempat ini saya langsung kepincut. Namanya terasa sangat eksotis, khas Eropa Timur.   Ini adalah kompleks biara Kristen Ortodoks yang merupakan salah satu bangunan tertua dan terpenting di Kiev. Pada hari terakhir kunjungan ke Kiev, pertengahan 2012 lalu, saya membulatkan tekad mampir walaupun cuma sebentar. Bermodal peta saya pun memantapkan langkah. Setelah sempat agak-agak nyasar, akhirnya saya berhasil juga sampai di depan gerbang bangunan megah tersebut. Read more of this post

Nemu Jersey Shakhtar Rasa Indonesia

IMG_3881

Ini dia jersey shakhtar made in Indonesia

Ukraina bukan negara yang diakrabi orang Indonesia. Begitu pula sebaliknya. Mosok sih? Beberapa bukti ringan bisa jadi jawaban.

Yang pertama, coba cari artikel di internet yang berisi cerita traveling di Ukraina hasil tulisan orang Indonesia. Hasilnya pasti hanya segelintir. Yang kedua, coba cari tahu berapa jumlah orang Indonesia yang saat ini tinggal di Ukraina. Jawabannya juga hanya tak jauh beda. Benar-benar segelintir!

Menurut salah seorang diplomat Indonesia untuk Ukraina, Bu Teresa, warga Indonesia yang tinggal di Ukraina pada tahun 2012 hanya 11 orang! Jumlah itu tentu di luar staf KBRI dan keluarganya. Makanya saya tak terlalu berharap menemukan hal-hal berbau Indonesia di negara pecahan Uni Soviet tersebut. Ketemu orang Ukraina yang tahu Indonesia saja sudah syukur. Yaah, Ukraina memang bukan Singapura, Hong Kong dan Arab Saudi yang sangat familiar dengan turis-turis asal Tanah Air. So, saya benar-benar gembira ketika ketemu sesuatu yang berbau Indonesia di salah satu sudut Donetsk, salah satu kota utama di negeri tersebut.
Read more of this post

Miniatur Liverpool di Sudut Donetsk

Jarak antara Ukraina dan Inggris terbentang lebar. Namun, siapa sangka di negara pecahan Uni Soviet ini bisa dijumpai tempat yang kental beraroma Inggris.

Jika tak percaya silahkan menengok ke sebuah sudut kota Donetsk. Di Jalan Artema 131a, tepatnya di gedung Donbass Equicenter terdapat miniatur kota Liverpool. Konon, sang pemilik tempat ini sangat menyukai salah satu kota di Inggris tersebut. Tak heran, suasana tempat tersebut benar-benar berkiblat penuh ke Liverpool.

Tampak depan

Read more of this post

“Dipalak” Penjaga Stadion

Sebagai seorang penggemar sepak bola, kunjungan ke Kiev rasanya kurang lengkap tanpa menyambangi Stadion Valeriy Lobanovskiy.  Stadion ini adalah markas lawas klub sepak bola Dyamo Kiev. Lokasinya tak jauh dari stasiun Metro Khreshchatyk, sekitar 15 menit dengan berjalan kaki.

Bagian dalam stadion

Selama gelaran Euro 2012 di Ukraina, stadion ini sering tutup karena  dipakai untuk sesi jumpa pers resmi. Nah, pada kunjungan pertama, saya kecele karena stadion itu sedang ditutup untuk umum. Terpaksa saya hanya menghabiskan waktu dengan berbelanja pernik-pernik Dynamo Kiev di fan shop yang terletak di depan stadion. Karena masih penasaran, sehari setelah partai final Euro 2012 saya balik lagi ke sana. Ternyata lagi-lagi stadion masih tutup, entah apa alasannya. Penjaga di gerbang hanya mengatakan stadion baru dibuka dua hari lagi. Saya berusaha merayu masuk, tapi mereka tak terbujuk. Alhasil, saya pun ngeloyor pergi dengan muka kecewa berat.
Read more of this post