Biduk Pengangkut Air

Mengangkut Air di Gili Trawangan

Pengangkut Air di Gili Trawangan Lombok

Gili Trawangan Lombok tersohor berkat keindahan pantai-pantainya yang digilai pejalan dari berbagai  belahan dunia. Sebagian orang bahkan menyebut pulau kecil ini sebagai potongan surga. Namun, di balik kemolekan Gili Trawangan, terserak berbagai kisah kerja keras dan perjuangan. Salah satunya tentang para pengangkut air. Pulau ini memang mengandalkan pasokan air segar dari luar pulau. Para pengangkut air itu bertugas mengangkat galon-galon kosong ke biduk yang bersandar di tepi pantai. Nantinya, kapal tersebut akan kembali ke Gili Trawangan mengangkut galon-galon yang sudah berisi air. Saat itulah para pekerja itu akan kembali bertugas, menurunkan galon-galon tersebut dan membawanya ke daratan.

Foto ini diunggah untuk meramaikan event Turnamen Foto Perjalanan Ronde 59 : Biduk, dengan Danan Wahyu sebagai tuan rumahnya.

Pesan Damai dari Iran

Semburat jingga penanda datangnya senja di ufuk barat entah mengapa tak kunjung muncul. Justru mendung yang datang beriringan menyapu damainya langit biru. Harapan bercengkerama dengan sunset sepertinya harus dilupakan.

Untunglah laut Gili Trawangan Lombok selalu setia menyuguhkan keindahan. Kemanapun memandang, mata dimanjakan kilauan laut biru. Ombak enggan menjadi pengganggu. Mereka datang dan pergi dengan porsi pas. Laut terasa  tenang dan damai.

Gili Trawangan

Gili Trawangan

Berada di tempat seeksotis Gili Trawangan, tak mungkin menyia-nyiakan sore dengan berdiam diri di kamar. Saya dan empat sahabat memutuskan menjemput senja sembari berharap keajaiban datang dan menghalau mendung di langit. Perlahan kami mengayunkan langkah menyusuri pantai. Berjalan ke arah matahari terbenam, mencari bagian pantai tenang, jauh dari hiruk pikuk turis asing.

Read more of this post

Anak-Anak Pantai Mawun

Sebut saja mereka Novi, Chepi, Deguk dan Jani. Dari kejauhan saya melihat kaki-kaki kecil mereka berlari penuh semangat menginjak bulir-bulir pasir putih yang membingkai Pantai Mawun. Ocehan riang dan tawa lepas seolah berbalas nada dengan derap kaki mereka. Antusias dan gembira. Keempat anak Pantai Mawun itu sudah tak sabar menyapa laut mereka. Pantai indah berbalut air biru dan deretan bukit di ujung sana.

Ketika deburan air terasa di kaki, mereka sontak menanggalkan semua pakaian di badan. Tak sehelai kain pun tersisa. Dengan kepolosan itu, mereka bercengkrama dengan laut mereka. Deguk, Chepi, Jani dan Novi tak gentar menantang hentakan air. Maklum, mereka bukan anak-anak biasa yang menimba keahlian berenang di kolam buatan tangan manusia. Mereka berempat dididik oleh alam. Siapa guru yang lebih baik selain alam? Gerakan mereka begitu lincah, tanpa irama beraturan dan tak sedikitpun mirip teori dasar renang di buku panduan. Chepi dan kawan kawan hanya mengikuti naluri.

Bersama aanl-anak Pantai Mawun (Foto by Renjay)

Bersama aanl-anak Pantai Mawun (Foto by Renjay)

Read more of this post

Tanjung Ringgit, Mutiara Lombok Timur

Ada sebuah ungkapan menarik. Semakin sulit perjalanan yang ditempuh ke sebuah destinasi, semakin indah juga pemandangan yang didapati. Ungkapan ini tampaknya  mewakili perjalanan kami berlima, saya dan empat teman dari Solo, ke Tanjung Ringgit, Lombok Timur, awal Maret ini.

Ini dia Tanjung Ringgit

Read more of this post