Jelajah Pecinan: Tiongkok Rasa Semarang

Suasana di Pecinan  Semarang

Suasana di Pecinan Semarang

Suasana jalanan ini seperti tak asing. Mirip keriuhan di salah satu distrik di Ho Chi Minh City, Vietnam beberapa tahun silam. Tidak identik, minus hilir mudik turis-turis asing dan keruwetan kabel listrik yang jauh dari konsep keindahan. Mungkin bisa dibilang lebih mirip suasana sore di Tiongkok. Eh, tapi kan saya belum pernah ke Negeri Tirai Bambu itu.

Sore bernuansa deja vu tersebut berlokasi di kawasan Pecinan Semarang, pada pertengahan Ramadan tahun lalu. Rasa penasaraan membawa saya dan Azizah kembali ke sana, tepat dua hari seusai perayaan Tahun Baru Imlek, Februari 2015 lalu. Kami mengabaikan teriknya paparan sinar matahari Semarang yang menyengat. Worth it lah jika alasannya untuk menjelajahi salah satu kantong komunitas Tionghoa terbesar di Tanah Air tersebut Read more of this post

Semarak Festival Lampion Suzhou

Menikmati pendar cahaya lampion

Menikmati pendar cahaya lampion

Memandangi pendar cahaya lampion sungguh menyenangkan. Cahayanya yang temaram membangkitkan romantisme tentang kisah-kisah masa lampau. Lampion atau lentera konon sudah digunakan di Tiongkok sejak zaman Dinasti Han (25-220 Masehi). Pendar cahaya lampion juga menyimpan makna filosofis. Nyala merah lampion menjadi simbol pengharapan tentang rezeki, keberuntungan, dan kebahagiaan. Sedangkan pada jaman Dinasti Tang (618 -907 M) orang membuat dan menyalakan lentera atau lampion sebagai lambang kedamaian, kemakmuran, dan kekuasaan negara. Read more of this post

Bubur India Khas Masjid Pekojan

pekojan1

Penampakan bubur India

Saya menatap tak percaya ke layar handphone. Sudah jam 5 sore? What! Langsung saya membangunkan Azizah yang masih tidur pulas. Kami langsung panik. Rencana keluar penginapan pada pukul 16.30 WIB supaya bisa leluasa mencari takjil berantakan sudah. Embusan udara sejuk dari AC di penginapan benar-benar membius, ditambah badan memang agak lemas karena sedang berpuasa. Suara alarm gagal membuat kami melek kami pada jam 4 sore. Rifqy yang tidur di kamar sebelah juga tak berinisiatif untuk membangunkan kami. Hasilnya adalah kekacauan kecil ini.

Sekitar 15 menit kemudian, kami bertiga berjalan kaki meninggalkan penginapan yang terletak di kawasan Pecinan Semarang. Tujuan utamanya mencari makanan berbuka puasa di Masjid Jami Pekojan. Azizah merekomendasikan menu buka puasa yang menarik. Bubur India khas Masjid Pekojan. Read more of this post