Di Balik Tembok Dalem Kalitan

Ratusan bangunan hancur saat Kota Solo tercabik kerusuhan pada 14-15 Mei 1998. Sebagian hangus terbakar, sedangkan yang lainnya rusak karena dilempari batu oleh massa. Korban jiwa juga berjatuhan. Namun sulit menemukan berapa angka pastinya. Infonya simpang siur.

Salah satu bangunan populer yang selamat dari amuk massa itu adalah Dalem (baca: nDalem) Kalitan. Bangunan anggun yang terletak di Kampung Kalitan, Kelurahan Penumping, Kecamatan Laweyan Solo, ini adalah rumah keluarga Presiden Soeharto dan istrinya, Bu Tien. Setiap pulang ke Solo, mereka selalu menginap di Dalem Kalitan, bukan di hotel mewah dan sejenisnya. Setelah Pak Harto dan Bu Tien meninggal, putra-putrinya pun masih sering mampir, walaupun kadang tak menginap. Read more of this post

Wajah Baru Museum Radya Pustaka

Museum Radya Pustaka

Museum Radya Pustaka Solo

Status Radya Pustaka sebagai museum tertua di Indonesia tak banyak diketahui orang. Nama museum ini justru moncer dengan cara kontroversial. Kasus pencurian dan pemalsuan arca milik Radya Pustaka pada tahun 2007 membuat masyarakat terhenyak. Kini, Museum Radya Pustaka mulai berbenah dan mengisyaratkan ingin mengikis ingatan suram yang mengiringi sejarah mereka.

Suasana museum Radya Pustaka siang itu lumayan lengang. Museum mungkin bukan tempat favorit di masa-masa libur Lebaran. Tak apalah, saya malah jadi lebih leluasa mengeksplor koleksi-koleksi museum tanpa harus berebut ruang dengan pengunjung lainnya. Ini adalah kunjungan pertama saya setelah Radya Pustaka rampung direnovasi pada pertengahan April lalu. Read more of this post

Pasar Gawok, Menyapa Kesederhanaan

Pembuat sabit

Pembuat sabit

Hiruk pikuk modernitas kadang membuat lelah. Pada suatu titik, manusia rindu dengan kesederhanaan yang orisinil. Tradisional. Ketika interaksi antar manusia dilakukan dengan alamiah dan apa adanya.

Mengunjungi pasar tradisional bisa menjadi alternatif saat ingin menepi dari keriuhan kota dengan segala kompleksitasnya. Jika sedang berada di Solo dan sekitarnya, cobalah menengok Pasar Gawok. Sebuah pasar tradisional memesona di Desa Geneng, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo.

Pasar ini letaknya tak terlalu jauh dari pusat Kota Solo. Jarak tempuhnya sekitar 30 menit jika menggunakan kendaraan bermotor. Jika tersesat di jalan, jangan segan untuk bertanya. Pasar ini cukup tersohor di wilayah Soloraya sehingga Anda dijamin bakal dengan mudah mendapatkan petunjuk dari warga-warga yang ditemui di jalan. Read more of this post

Naik Menara Masjid Agung

Tampilan menara Masjid Agung

Tampilan menara Masjid Agung

Seperti ide menyambangi bunker di Kampung Batik Laweyan, keinginan menjajal naik ke menara Masjid Agung diilhami oleh orang yang sama. Sosok yang saya maksud adalah Fendi Fauzi Alfiansyah, koordinator komunitas Blusukan Solo. Dia mengatakan pernah mendapat izin naik ke menara masjid tersebut. Saya pun langsung penasaran ingin merasakan pengalaman serupa.

Beruntung ada jalan keluar untuk menuntaskan rasa penasaran itu. Lewat bantuan teman sekantor, Mas Mufid, izin naik ke menara tersebut keluar juga. Kebetulan ayah Mas Mufid adalah pengurus Masjid Agung. Setelah mencocokkan jadwal dengan beberapa teman yang mau ikut, kami sepakat melaksanakan rencana itu Sabtu, 6 Juli lalu.

Sekitar pukul 10.30 WIB, saya tiba di Masjid Agung bersama sahabat saya Krisna. Mas Mufid dan seorang pengurus masjid, Pak Tarsudi sudah menunggu di pelataran. Kami sebenarnya masih menunggu satu lagi peserta, Halim, seorang teman asal Solo yang selama ini cuma ketemu di dunia maya. Mas Mufid dan Pak Tarsudi langsung mengajak naik ke menara karena hari sudah bertambah siang. Kami harus turun dari menara sebelum azan Dzuhur dikumandangkan jika tidak ingin telinga berdesing gara-gara suara yang keras dan lantang. Read more of this post

Bunker Kuno di Laweyan

Entah sudah berapa kali saya menyambangi Kampung Batik Laweyan di Solo ini. Selain berziarah ke makam simbah, agenda lainnya adalah melihat-lihat atau membeli baju batik di beberapa toko di sana. Tapi, boleh dibilang saya belum pernah berusaha mengenal lebih dalam kampung batik tersohor ini.

Bunker

Bunker

Nah, tampaknya saya perlu berterima kasih kepada tiga teman ngetrip dari Semarang, Azizah, Indra dan Ira. Gara-gara mereka, saya akhirnya belajar mengenal Laweyan lebih dalam. Permintaan Azizah untuk blusukan ke Laweyan pada awal Mei lalu memaksa saya mencari-cari informasi yang sekiranya menarik. Daripada bingung, saya bertanya kepada Fendi dari komunitas Blusukan Solo karena kebetulan mereka pernah mblusuk ke Laweyan. Fendi kemudian menyarankan untuk mengajak teman-teman ke Mesjid Laweyan, Ndalem Djimatan dan sebuah rumah yang masih memiliki bunker. Destinasi terakhir itulah yang akan saya ceritakan.

Tak sulit menemukan rumah di Laweyan yang berbunker tersebut, tepatnya di Setono RT 02/RW II, Jalan Tiga Negri, Laweyan. Setelah memarkir kendaraan di dekat jembatan di utara Mesjid Laweyan, kami berlima (plus sahabat saya Krisna) langsung dihampiri seorang lelaki paruh baya. Ketika kami menyebutkan tentang bunker, dia langsung mengerti.  Kami berempat diantar memasuki lorong-lorong sempit di bagian timur jembatan. Sekitar lima menit, sampailah di sebuah bangunan berpintu gerbang berwarna merah mencolok. Di balik pintu merah itulah, berdiri salah satu rumah yang memiliki satu-satunya bunker yang masih tersisa di Laweyan.
Read more of this post

Jejak Kejayaan Bengawan Solo

Menyeberangi Bengawan Solo

Menyeberangi Bengawan Solo

Seorang teman asal Kalimantan pernah menumpahkan uneg-uneg. Ketika hendak berangkat ke Jawa untuk menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi di Solo, dia mengaku menyimpan fantasi tinggi terhadap sungai Bengawan Solo.

Nama besar Bengawan Solo memang tak hanya menembus sudut-sudut Pulau Jawa. Lagu ciptaan maestro keroncong asal Solo, Gesang, berjudul Bengawan Solo berkontribusi besar sehingga kepopuleran sungai tersebut menerjang garis batas pulau dan negara. Jangankan Kalimantan, Sulawesi atau Sumatra, orang-orang Jepang dibuat terkagum-kagum dengan lagu ciptaan Gesang tersebut dan berujung rasa penasaran untuk melihat Bengawan Solo dengan mata kepala sendiri.
Read more of this post

Serba Antik, Serba Unik

Seterika jadul

Seterika jadul

Tertarik berburu harta karun di jantung Kota Solo? Kalau berminat, silakan melipir ke salah satu destinasi wisata andalan Kota Bengawan, yaitu Pasar Triwindu. Tapi jangan terburu-buru membayangkan gundukan emas dan permata seperti di film-film Hollywood. Harta karun di pasar tersebut adalah barang-barang beraneka rupa yang berstatus antik.

Triwindu terletak di kawasan Ngarsopuro Solo, tepatnya di Jalan Dipenogoro. Pasar tersebut juga hanya sepelemparan batu dari Pura Mangkunegaran. Sejak dipugar beberapa tahun lalu, bangunan Pasar Triwindu, yang terdiri atas puluhan kios, terlihat megah dan rapi, nyaman untuk disusuri. Tempat ini merupakan salah satu obyek favorit turis-turis mancanegara yang berkunjung ke Solo. Namun, tak sedikit pula wisatawan lokal yang rela menghabiskan waktu untuk mengubek-ubek pasar ini.
Read more of this post

Museum Batik Danar Hadi : Sebuah Refleksi Cinta

Ketika seseorang mencintai sesuatu dengan sepenuh hati, orang lain pasti bisa melihat dan merasakannya. Passion memang tak bisa ditutupi. Gumpalan gairah dan kecintaan mendalam itulah yang saya rasakan ketika mengunjungi Museum Batik Danar Hadi Solo, belum lama ini.

Pegawai Danar Hadi sedang membatik

Pegawai Danar Hadi sedang membatik

Museum ini didirikan oleh H Santosa Doellah, pemilik usaha batik ternama asal Kota Bengawan, Danar Hadi. Sudah hampir 13 tahun museum ini eksis sejak diresmikan oleh Presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri, pada 20 Oktober 2000. Letaknya strategis di jantung Kota Solo, tepatnya di Ndalem Wuryaningratan yang berada di jalan Slamet Riyadi, sederetan dengan Museum Radyapustaka. Tempat ini sangat recomended. Bahkan di situs Trip Advisor, Museum Danar Hadi menduduki ranking pertama tempat wisata di Solo yang paling disarankan. Read more of this post