Dunia Tanpa Sekat

Fans dari Asia di Stadion Donbass Arena, Donetsk

Fans dari Asia di Stadion Donbass Arena, Donetsk. Cukup banyak fans dari Asia yang datang ke Ukraina untuk menyaksikan Euro 2012.

 

Setiap menyaksikan berita kekacauan di Ukraina, saya merana. Dua tahun lalu negeri itu terasa tenang dan damai. Tak ada tanda-tanda bakal muncul konflik hebat. Kegembiraan terasa di setiap sudut kota. Manusia dari berbagai belahan dunia berkumpul dalam suka cita. Merayakan pesta akbar sepak bola, Euro 2012. Dunia terasa tanpa sekat. Warga Rusia dan Ukraina yang kini bertikai, dulu bisa berbaur damai, tanpa embel-embel kekerasan. Ternyata waktu memang bisa mengubah segalanya. Hanya dalam tempo dua tahun, kedamaian di Ukraina terkoyak. Sebagian wilayah Ukraina ternoda oleh konflik. Saya benar-benar merindukan Ukraina yang sempat saya singgahi selama 10 hari, dua tahun lalu. Keriangan di pusat-pusat keramaian, kedamaian di taman-taman kota, dan terutama tingkah konyol dan lucu para fans sepak bola dari berbagai belahan dunia. Semoga kedamaian itu segera kembali. Read more of this post

Nyasar Mengesankan di Newseum

Bagian depan Newseum Indonesia

Bagian depan Newseum Indonesia

Hujan bertambah deras ketika tukang ojek yang saya sewa memelankan laju sepeda motor. Kami sudah berada di Jl. Veteran Satu, Monas, Jakarta Pusat. “Katanya tokonya di dekat Kedai Es Krim Ragusa bang,” kata saya kepada abang tukang ojek, yang saya carter dari Stasiun Gambir, awal Desember 2013.

Jarum jam sudah melewati pukul 17.00 WIB. Kami mencari sebuah toko buku yang direkomendasikan sahabat saya, Aning. Tokonya terletak tak jauh dari Ragusa. Aning sendiri belum pernah masuk ke toko buku tersebut, baru melihat dari luar saja.

Pandangan mata saya akhirnya menangkap tatanan buku di bagian dalam sebuah bangunan. Nah, ketemu juga yang dicari, tepatnya di Jl. Veteran Satu No. 23. Bangunan tersebut bertuliskan Newseum Indonesia. Tatanan buku-buku di rak terlihat dengan jelas dari luar karena bagian depan bangunan tersebut terbuat dari kaca.

Read more of this post

Pechersk Lavra

Pengunjung berjalan menuju Pechersk Lavra

Pengunjung berjalan menuju Pechersk Lavra

Menikmati suasana Kiev, Ukraina, bisa dilakukan dengan mudah, apalagi pada musim panas. Suhu di Kiev rata-rata berkisar 21 derajat celcius, cukup sejuk bagi penduduk negeri tropis seperti Indonesia. Berjalan-jalan santai pada sore hari sembari memandangi bangunan-bangunan klasik ala Eropa kuno, duduk santai di taman-taman yang asri atau menjelajahi kota dengan moda transportasi umum yang nyaman, bisa jadi alternatif.

Kiev memiliki sejumlah ikon menarik. Salah satunya Kiev Pechersk Lavra. Ketika kali pertama membaca tentang tempat ini saya langsung kepincut. Namanya terasa sangat eksotis, khas Eropa Timur.   Ini adalah kompleks biara Kristen Ortodoks yang merupakan salah satu bangunan tertua dan terpenting di Kiev. Pada hari terakhir kunjungan ke Kiev, pertengahan 2012 lalu, saya membulatkan tekad mampir walaupun cuma sebentar. Bermodal peta saya pun memantapkan langkah. Setelah sempat agak-agak nyasar, akhirnya saya berhasil juga sampai di depan gerbang bangunan megah tersebut. Read more of this post

Sunyaragi’s Future is Sunyaragi’s Past

10-gua

Salah satu sudut Gua Sunyaragi

Belakangan ini saya sering jadi pejalan “manutan”. Maksudnya ketika traveling ke suatu tempat dan ada teman yang tinggal di kota tempat tersebut, ujung-ujungnya saya malas membuat itinerary. Manut saja mau diajak kemana (bilang saja males mikir). Saya percaya sebagai orang lokal, mereka tahu seluk beluk daerahnya.

Gaya pejalan manutan ini saya praktikkan ketika melipir ke Cirebon bersama sahabat saya, Azizah. Kebetulan juga saya punya sahabat yang lahir dan kini menetap di Cirebon, Lutfiyah. Beruntungnya lagi, kami berdua mendapat kenalan baru, teman-teman dari komunitas Cirebon Backpaker. Anne dan Ucie, juga Rene dari Backpaker Cirebon sudah menyusunkan itenerary buat kami. Asyik kan?

Referensi saya tentang wisata di Cirebon terus terang sangat terbatas. Paling hanya seputar Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Batik Trusmi, nasi jamblang dan empal gentong. Komentar lain yang sering mampir di telinga adalah soal cuaca Cirebon yang panas menyengat.  Selebihnya nihil. Read more of this post

Giveaway The Spirit of Java

solo

Merchandise

Kota Solo memiliki beragam julukan. Sebut saja Kota Budaya, Kota Batik dan Kota Bengawan. Untuk memperkuat branding, sejak beberapa tahun terakhir Solo mantap menggunakan slogan The Spirit of Java. Secara garis besar tagline ini bermakna bahwa Solo merupakan jiwanya budaya Jawa. Slogan tersebut belakangan terbukti lebih seksi dan menjual dibandingkan slogan lawas Solo, yaitu Berseri. Berseri merupakan akronim dari bersih, sehat, rapi dan indah.

Penguatan branding ini bertujuan memperkuat posisi Solo di dunia pariwisata. Harus diakui, dalam urusan wisata, Solo masih tertinggal dari kota tetangga, Yogyakarta. Untungnya, pemerintah Kota Solo tidak tinggal diam. Berbagai upaya untuk mendongkrak pariwisata Solo mulai dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Saat itu Solo masih dipimpin oleh Joko Widodo (Jokowi) yang kini menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta.

Berbagai event bertaraf internasional rutin digelar. Destinasi-destinasi wisata dimaksimalkan, seperti Kampung Batik Kauman dan Kampung Batik Laweyan. Atraksi wisata baru juga diciptakan, contohnya pusat kuliner Gladag Langen Bogan (Galabo) dan Night Market Ngasopuro.

Nah, untuk ikut mendukung pariwisata Kota Solo, saya ingin meminta kesan serta masukan dari para pejalan. Ada sejumlah merchandise menarik khas Kota Solo yang akan saya bagikan. Caranya mudah, cukup jawab dua pertanyaan di bawah ini dan tuliskan jawabannya di kolom komentar di artikel ini.

Pertanyaan :

1. Apa kesan Anda tentang Kota Solo? (baik yang sudah pernah berkunjung atau belum)

2. Langkah apa yang harus dilakukan Solo supaya pariwisata terus berkembang dan namnya semakin moncer di dunia wisata?

Jawaban dari pertanyaan giveaway ini saya tunggu hingga akhir November (sekalian nunggu gajian hehehe). Saya akan memilih tujuh jawaban terbaik dan masing-masing bakal mendapatkan merchandise. Jenis merchandise yang saya bagikan antara lain T-Shirt khas Solo, tas, hiasan topeng, hingga magnet kulkas. Saya tunggu partisipasinya teman-teman.  🙂

Salam budaya.

Wayang Orang Sriwedari dalam Pusaran Masa

Pentas wayang Orang Sriwedari

Pentas wayang Orang Sriwedari

Masa kejayaan pertunjukan Wayang Orang Sriwedari sampai di telinga saya hanya berwujud rangkaian cerita. Ketika pertunjukan itu menjadi primadona pada periode 1960 hingga 1970-an, saya belum  hadir di dunia

Wayang Orang Sriwedari yang saya kenal sangat berjarak dengan kata hingar bingar. Lebih tepat diasosiasikan dengan sepi dan menua. Jangankan menggemari, berusaha menyempatkan waktu untuk menonton pertunjukan pun terasa berat. Sejujurnya, meski bersekolah dan bekerja di Solo, baru dua kali saya menyaksikan pentas Wayang Orang Sriwedari. Menyedihkan bukan?

Persinggungan saya dengan Wayang Orang Sriwedari bertolak belakang dengan Pak Danang Eram Setiawan. Pria murah senyum itu menyimpan memori melimpah. Energi Pak Danang seperti tak ada habisnya saat menumpahkan kenangannya tentang Wayang Orang Sriwedari. Ayahnya, Pak Prajak, seorang pemain legendaris kesenian andalan Solo tersebut. Pak Danang pun pernah bermain, meski tak terlalu lama. Read more of this post

Museum Sukowidi : Kotak Sejarah Banyuwangi

Melihat-lihat foto

Melihat-lihat foto

Memenuhi janji beberapa waktu lalu, saya ingin berbagi sedikit cerita tentang Museum Sukowidi Banguwangi. Bangunan museum ini boleh sederhana, tapi di mata saya Sukowidi adalah museum istimewa.

Nama museum ini kali pertama saya dengar dari Mas Donna, pemandu selama perjalanan di Banyuwangi akhir Mei lalu. Saya dan empat teman perjalanan (Pesta, Feni, Shava dan Ririn), ditawari Mas Donna mampir ke ke sana untuk mencari informasi yang lebih akurat tentang Watu Dodol.   Apakah itu?  Watu dodol adalah onggokan batu besar di tengah jalan yang merupakan gerbang masuk Banyuwangi dari arah Situbondo.

Rasa penasaran terhadap watu dodol itulah yang membawa kami mengunjungi Museum Sukowidi. Museum ini memang belum begitu dikenal dan belum masuk ke brosur-brosur wisata banyuwangi. Itu bisa dimaklumi karena usianya masih seumur jagung. Sukowidi baru diresmikan pada 18 Mei 2013, bertepatan dengan Hari Museum Internasional. Pemilihan momen yang sangat pas. Read more of this post