Menikmati Perjalanan dan Usia yang Makin Bertambah

Vigan, Filipina. (Usemayjourney)

Vigan, Filipina. (Usemayjourney)

 

Saya menyadari banyak yang berubah seiring bertambahnya umur. Cara memandang hidup (ceile serius bener), skala prioritas, makanan, gaya hidup, selera fashion, buku bacaan, sampai cara menikmati perjalanan alias traveling.

Sudahlah tak usah membahas yang berat-berat, kurang menarik soalnya hahaha. Cuma pengin berbagi cerita soal perubahan cara menikmati perjalanan buat mbak-mbak yang sudah berumur 30 something seperti saya ini (lebih suka dibilang 25 plus…plis). Tidak ekstrem banget, tapi ternyata berubah perlahan seiring menuanya usia dan bertambahnya uban di rambut.

Perubahan itu cukup terasa ketika saya hendak berangkat traveling ke Filipina bersama sahabat, Azizah, pada akhir September 2017.  Satu di antaranya soal pembahasan perlu mem-booking hotel atau tidak pada hari pertama kami di Filipina.

Kami mendarat di Filipina masih pagi buta karena memilih penerbangan murah meriah tengah malam Jakarta-Manila. Nah, rencananya seharian mengeksplore Manila, kemudian pada jam 10 malam naik bus menuju Vigan. Tujuan utama perjalanan kami ke Filipina ini memang ke Vigan, sedangkan Manila dan Taal hanya partai tambahan.

Duluuuu…saya pasti tak akan kepikiran mem-booking hotel. Ngapain juga, toh malamnya sudah cabut ke Vigan. Saya yang dulu bakal memilih mengunjungi sebanyak mungkin objek wisata di Manila, sembari menunggu jam keberangkatan ke Vigan.

Sekarang?  Membayangkan kurang tidur semalaman, lanjut eksplore kota seharian, kemudian disambung naik bus malam, saya sudah berasa pengin masuk angin. Mana tahan. Bisa-bisa tepar duluan dan ujung-ujungnya perjalanan berantakan. Saya dan Zizah akhirnya sepakat booking hotel. Lumayan, bisa buat memejamkan mata sejenak dari sore sampai sekitar jam 9 malam. Hotel yang kami pilih juga dekat terminal bus, supaya praktis.

Mau tahu bagaimana realita hari pertama kami di Manila?

Setiba di bandara, kami langsung sarapan. Setelah itu naik taksi online ke hotel buat nitip koper di hotel. Setelah cuci muka, kami menuju ke Intramuros. Naik jeepney dong, biar berasa kayak orang lokal. Rencananya muter-muter Intramuros sampai sorean, baru balik ke hotel.

Tapi, sekitar jam 1 siang kepala rasanya keliyengan.  Manila sedang panas banget, belum lagi kami kurang tidur. Badan rasanya drop. Kami memutuskan segera cari tempat makan dan membungkus makanan untuk malam, terus balik ke hotel. Baliknya juga naik taksi online. Dan… sampai di hotel kami molor sampai malam. Hahaha. Hotel yang kami booking ternyata benar-benar berguna.

Sekarang saya juga lebih pilih-pilih soal penginapan, paling tidak mencari yang cukup nyaman. Tidak harus mahal, yang penting nyaman untuk beristirahat. Dulu, hotel kadang cuma dipakai tidur setelah larut malam. Tapi, sekarang siang-siang tiba-tiba ingin balik ke hotel buat bobok satu atau dua jam, kemudian baru lanjut jalan-jalan. Begitulah kejadian di Vigan, atau ketika saya piknik tipis-tipis ke Kudus bareng Azizah juga. Ternyata, tidur siang di hotel itu memang nikmat hahaha.

Vigan, Filipina (usemayjourney)

Piknik santai kayak di pantai. (Usemayjourney)

 

Menyusun itinerary juga bukan hal wajib. Padahal duluuu kadang bikin itinerary detail banget dan lumayan disiplin mengikuti rencana. Apalagi jika perjalanan panjang pindah-pindah kota atau negara. Jam segini bangun pagi, terus berangkat ke sana, pindah ke destinasi itu, dan sebagainya. Kalau meleset dari itinerary kadang kecewa dan agak panik.

Sekarang masih bikin itinerary, tapi umum banget. Eh tapi kadang malah tidak sama sekali. Seperti saat ke Belitung beberapa bulan lalu. Saya pergi bersama enam sahabat, Aning, Krisna, Hanifah, Dian, Rika, dan Heri. Umur kami beda-beda tipis lah. Jadinya, ya gitu. Itenerary kami sangat simpel. Pokoknya hari pertama hoping Island dan hari kedua ke Belitung Timur. Dah gitu aja…hahaha.

Waktu ke Filipina, Azizah yang bikin itinerary. Sudah di-print pula. Tapi, akhirnya kami lebih banyak jalan spontan, menyesuaikan dengan cuaca, kondisi tubuh, dan mood. Saking santainya, dua sore beruntun cuma ngemper di Calle Crisologo. Yang kali kedua, kami banyakan duduk-duduk sambil makan es krim dan melihat-lihat orang yang berlalu lalang. Santai kayak di pantai.

Sekarang saya memang lebih menyukai stay di suatu kota lebih lama, buat mengeksplor sekaligus santai-santai. Beda dengan dulu sekitar tujuh atau delapan tahun silam. Pernah dalam delapan hari melahap rute Ho Chi Minh – Phom Penh – Siam Riep – Phom Penh – Ho Chi Minh. Perjalanan darat pula, ngalah-ngalahin kenek bus antarkota antar provinsi.

Pernah juga menempuh rute darat Kuala Lumpur – Hatyai – Bangkok – Chiang Mai – Chiang Rai – Chiang Mai – Bangkok, setelah itu disambung terbang dari Bangkok ke Kuala Lumpur. Juga dalam delapan hari. Kebayang dong capeknya. Selama tujuh hari saya juga pernah melahap perjalanan darat Medan – Danau Toba – Medan – Banda Aceh – Sabang – Banda Aceh – Medan – Brastagi – Medan lagi. Tepos deh pantat.

Di Commuter Line menuju Rangkasbitung. Eh museum Multatuli ternyata belum dibuka. (Usemayjourney)

Nonton final Liga Champions di warung soto. Abaikan wajah-wajah yang sudah kucel menjelang subuh. (Usemayjourney)

 

Tapi, dulu tak ada masalah dengan perjalanan super melelahkan seperti itu, malah menikmati dengan segala kerempongannya. Istirahat kadang cuma di bus selama perjalanan malam, lanjut muter-muter tempat wisata sambil menggendong tas ransel yang beratnya melebihi beban hidup. Energi masih meluap-luap, berkejaran dengan waktu jadi pemicu adrenalin, menyambar semua kesempatan untuk menjelajah sebanyak mungkin destinasi. Kadang kecewa berat saat gagal mengunjungi destinasi yang diincar. Pokoknya pengin meraup sebanyak mungkin cerita, foto perjalanan, dan pengalaman.

Sekarang saya menyukai ritme perjalanan pelan. Cuma dapat satu atau dua destinasi dalam sehari juga woles saja. Betah duduk-duduk saja sambil kulineran dan ngobrol, atau cuma bengong sambil mengamati hilir mudik manusia dari pinggir jalan. Bahkan, bangun tengah malam demi nonton bareng final Liga Champions di sebuah warung soto di Belitung juga bisa jadi cerita perjalanan yang mengesankan.

Ketika destinasi yang dituju tak buka pun tetap hore, seperti saat piknik tipis-tipis ke Rangkasbitung bersama Nenny, Ari dan Bara demi mengunjungi Museum Multatuli. Eh museumnya ternyata belum kelar ditata, masih tahap finishing. Bete? Enggak dong. Kami tetap menikmati mengeksplore area seputar alun-alun Rangkasbitung. Eh malah nemu rumah batik Lebak, bakso dan mi ayam yang enak, dan jajan gorengan di pinggir jalan.

Di Commuter Line menuju Rangkasbitung. Eh museum Multatuli ternyata belum dibuka. (Usemayjourney)

Di Commuter Line menuju Rangkasbitung. Eh museum Multatuli ternyata belum dibuka. (Usemayjourney)

 

Saya memang sudah sampai titik tidak ngoyo berburu destinasi. Semampunya tubuh dan mengikuti mood saja.  Toh, kalau ada destinasi yang terlewat, jadi punya alasan untuk berkunjung lagi (kalau isi dompet mendukung tentunya hahaha). Rasanya sama nikmatnya kok dengan perjalanan dengan jadwal ketat seperti dulu.

Perubahan cara menikmati perjalanan itu juga berimbas dalam memilih travelmate. Jadi, agak pemilih , disesuaikan dengan tipe perjalanan yang mau dilakoni. Takutnya, kalau dapat yang tidak cocok malah jadi kurang mengenakkan buat semua. Saya pingin jalan-jalan selow, eh yang lainnya ternyata pengin mengeksplor hingga seluruh sudut kota. Yang ada malah rasa tidak enak hati. Jadi, mending diantisipasi dulu daripada endingnya berantem, dengan memilih travelmate yang senada dan seirama, terutama untuk perjalanan panjang. Kalau cuma trip singkat sehari atau dua hari no problem sih. Saya juga masih sanggup kok jadi mbak-mbak strong yang naik bukit dan menuruni lembah, dan lanjut belanja ke pasar. Tetap antusias banget juga jalan dengan orang-orang baru, kan nambah teman dan saudara di mana-mana.

Walaupun cara menikmati perjalanan berubah, saya tipenya gampang disenengin kok. Itu yang sepertinya yang tidak tergerus usia dan uban. Saya jarang dikecewakan destinasi dan drama apapun. Receh banget pokoknya.

Satu lagi yang masih awet. Saya selalu menikmati momen ngobrol atau berinteraksi selama di perjalanan…sudah bawaan orok kali. Rasanya perjalanan menjadi hidup dan punya jiwa. Saat di Banyuwangi, saya dan empat sahabat, Femi, Pesta, Ririn, dan Shava pernah cuma mengunjungi dua destinasi dalam sehari padahal berangkatnya pagi banget dan pulangnya lebih dari jam 9 malam. Apalagi alasannya kalau bukan gara-gara ngobrol. Kebetulan di destinasi yang dituju kami bertemu dengan sosok-sosok menyenangkan dengan bergudang pengalaman dan ilmu baru.

Oh iya ketinggalan dan ini penting banget. Perubahan yang juga cukup terasa sekarang lebih gampang capek dan masuk angin hahaha. Makanya kalau ke mana-mana diusahain selalu bawa tolak angin (ups sebut merek). Mungkin gara-gara kurang olahraga. Jadi minder berat kalau ketemu oma-oma atau opa-opa yang masih tangguh trekking atau jalan kali berkilo-kilo meter. Sebenarnya sudah mulai joging, tapi biasanya joging sekali, terus libur sebulan, trus joging lagi, libur sebulan lagi. Ah…sudahlah.

Jadi, beginilah perubahan cara menikmati perjalanan bagi mbak-mbak 30 something seperti saya. Bagaimana dengan kamu?

Advertisements

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

26 Responses to Menikmati Perjalanan dan Usia yang Makin Bertambah

  1. rahayuasih says:

    Bener cari travelmate yang sama-sama sesuai dengan kita tingkatannya 🙂

  2. Faktor U kadang terasa kurang menyenangkan di awal. Rasane udah nggak bisa jalan-jalan seaktif masa abege, trtrus pikiran-pikiran gampang jatuh sakit yen kekeselen sering menghantui. Kok gejala kita podo yo mbak… padahal ku isih umur 20 plus loh hahaha.

  3. MBAK YUSMEEEIIII, THOSE THINGS HAPPENED TO ME TOO! NGAHAHAHA.

    Aku udah nggak mau ambil kereta malem atau ngemper di bandara kayaknya. Pas ke Yangon, malemnya ngemper dulu di KLIA. Besoknya bobok ganteng di hostel dari siang sampai sore and was not feeling guilty about that, hahaha.
    Pulang Natal ini aja, aku pake kereta siang hari baik pas berangkat atau pas pulang hahaha.

    Dulu kalo cari hostel, aku sort dari yang termurah dan itulah yang bakal aku pesen. Sekarang aku liat skornya dong, rodo larang rapopo sing penting penak hahaha.

    Dulu aku paling anti naik taksi. Eh sejak 2016, naik taksi di KL, Bangkok, sampe Singapura pun tak lakoni. Ah, komentarnya panjang banget, tanda aku harus bikin tulisan sendiri soal ini. Hahahahaha.

  4. Ella says:

    Waaa seru banget yak, semoga senantiasa sehat dan ceria meski usia sudah 25 plus plus plus *eh

  5. Alid Abdul says:

    Soalnya klo sudah uzur duit makin banyak jadi gak susah buat bayar hotel sekian. Kalau dulu kan kudu hemat sehemat-hematnya kwkkw

  6. hahahahhaah gua banget dah ini fisik receh banget . Kalau ada trip dadakan fisik udah drop duluan karena begadang kelarin kerjaan kantor. Lalu pas trip sentrap sentrup pilek

  7. indrijuwono says:

    wooooo udah tua apanya kamu ini? kayaknya masih kurang makan. ayo mangan gek lemuuuu (kayak ibu2 na sehatin anaknya) biar bisa jalan2 lagiii..

  8. Monda says:

    sekarang saatnya menikmati perjalanan santai aja mbak

  9. Binti says:

    Mbak yusmeeii.. ayo badminton ng ragunan hahaaa

  10. betul banget tuh mba.,,, karena faktor usia yg sgt berpengaruh, tidak seperti dlu jadi mgkn sdh saatnya klw lagi liburan hanya mengunjungi bbrpa spot aja tapi lbh memaksimalkan quality time bareng keluarga .. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: