Mencicipi Kuliner Indonesia di Manila

Kelemahan terbesar saat berada di negeri orang sebenarnya tak jauh dari urusan lidah. Baru beberapa hari pasti sudah membayangkan kelezatan soto, pecel, sate, gado-gado, pempek, nasi goreng, tak lupa es teh yang segarnya tak ada bandingannya.

Rasa rindu terhadap masakan Indonesia sebenarnya bisa ditahan, apalagi kalau perjalanannya hanya hitungan hari. Saya orangnya juga suka mencicipi masakan-masakan lokal saat traveling ke mana pun. Tapi kalau ada kesempatan melepas kangen dengan masakan Indonesia saat di luar negeri, kenapa tidak? Kata orang, rindu itu obatnya hanya bertemu.

Makanan Indo 3

Warung-Warung. Lapak yang menjual masakan khas Indonesia di Lepazki Sunday Market, Manila. (Usemayjourney)

 

Begitulah rasa rindu menuntun kami bertiga berjalan kaki menyusuri jalanan di tengah gedung-gedung yang menjulang tinggi Kota Makati, pusat bisnisnya Metro Manila.

Read more of this post

Advertisements

Menikmati Perjalanan dan Usia yang Makin Bertambah

Vigan, Filipina. (Usemayjourney)

Vigan, Filipina. (Usemayjourney)

 

Saya menyadari banyak yang berubah seiring bertambahnya umur. Cara memandang hidup (ceile serius bener), skala prioritas, makanan, gaya hidup, selera fashion, buku bacaan, sampai cara menikmati perjalanan alias traveling.

Sudahlah tak usah membahas yang berat-berat, kurang menarik soalnya hahaha. Cuma pengin berbagi cerita soal perubahan cara menikmati perjalanan buat mbak-mbak yang sudah berumur 30 something seperti saya ini (lebih suka dibilang 25 plus…plis). Tidak ekstrem banget, tapi ternyata berubah perlahan seiring menuanya usia dan bertambahnya uban di rambut.

Read more of this post

Marikina dan Sepatu Imelda Marcos

Museum Sepatu Marikina

Koleksi sepatu Imelda Marcos di Museum Sepatu Marikina, Manila. (usemayjourney)

Sebagai mbak-mbak kantoran ala-ala, saya merasa punya enam pasang sepatu sudah lebih dari cukup. Koleksi sepatu saya juga biasa banget, bahkan salah satunya cuma seharga Rp 30 ribu yang dibeli di PGS Solo. Meskipun sudah butut, sepatu itu tetap saya pakai karena ringan, bisa dipakai basah-basahan, dan modelnya simpel. Enggak fashionable banget pokoknya, yang penting nyaman.

Saya juga bukan pemuja quote “give a girl the right shoes, and she can conquer the world”. Meskipun kadang mupeng pas lihat iklan sepatu-sepatu lucu di Instagram. hahaha

Makanya, saya tak habis pikir mengapa seseorang merasa perlu memiliki ribuan pasang sepatu. Tapi, ternyata memang ada. Imelda Marcos orangnya.

Mantan ibu negara Filipina tersebut punya sekitar 3.000 sepatu. Iya, 3.000! Bayangkan, kalau dalam setahun cuma ada 365 hari, maka Imelda bisa memakai sepatu berbeda setiap hari dalam 8 tahun. Tepatnya, 8 tahun 21 hari. Sebanyak 800 pasang sepatu di antaranya saya jumpai saat mengunjungi Museum Sepatu di Marikina, Manila, pada akhir September 2017.
Read more of this post

Saya Pengidap Ailurophobia

Phobia 1.jpg

Photo by: Eva Fedele

Saat masih bocah, kira-kira usia enam atau tujuh tahun, saya mulai mempertanyakan keanehan diri saya. Kenapa cuma saya yang ketakutan, bahkan sampai menangis histeris, kalau melihat kucing? Kenapa teman-teman saya tidak?

Kalau ditanya tepatnya sejak kapan takut kucing, saya tidak ingat. Takutnya gara-gara apa juga tidak tahu. Yang jelas sejak kecil saya anti dekat-dekat dengan kucing. Boro-boro megang, melihat dari jauh saja sudah gemetaran.

Bertahun-tahun kemudian saya baru tahu kalau ketakutan saya itu ada namanya. Istilah medisnya ailurophobia alias phobia kucing. Penjelasan singkatnya, ailurophobia adalah phobia yang ditandai dengan ketakutan yang irasional dan berlebihan terhadap kucing.

Bagaimana rasanya mengidap ailurophobia? Jelas tidak enak banget. Bayangkan, kucing itu ada di mana-mana, di rumah teman, saudara, sampai tempat-tempat makan dan di jalan-jalan umum. Belum lagi kucing liar yang kadang main ke rumah tanpa diundang.

Konon, phobia ini mayoritas penyebabnya gara-gara trauma pada masa kecil karena punya pengalaman tak mengenakkan dengan kucing. Saya sering mencoba memeras ingatan apakah waktu kecil punya pengalaman traumatis dengan kucing. Sejujurnya lupa, cuma samar-samar seperti pernah merasa dicakar kucing. Tapi, kapan dan di mana, lupa juga.

Apa pengalaman tidak enak gara-gara takut kucing?  Buanyaaak.
Read more of this post

Drama Puncak Darma

Pemandangan di Puncak Darma, di kawasan Geopark Ciletuh, Sukabumi.

Pemandangan di Puncak Darma, di kawasan Geopark Ciletuh, Sukabumi.

Belum sampai di tempat parkiran, mobil yang kami kendarai sudah mengerang. Rupanya ada batu besar yang menghambat laju roda. Belum lagi kondisi jalanan yang licin dan berlumpur karena hujan berulang kali turun pada siang itu.

Alhasil saya, Femi, Pesta, Agnes, Mbak Retno, dan Memet turun dari mobil supaya Opik yang menyetir lebih mudah bermanuver menghindari batu dan menuju ke tempat parkiran. Berkat bantuan beberapa penduduk setempat, mobil kami pun sampai di lokasi parkir yang tepat berada di halaman warung makan Pak Ujang.

Begitulah awal petualangan kami menuju Puncak Darma tepat pada libur Natal, 25 Desember 2016. Bagi yang belum mengenal Puncak Darma, jangan berkecil hati. Saya juga baru tahu tempat itu sehari sebelum berangkat kok. Hahaha. Penjelasan singkatnya, Puncak Darma ini bukit berketinggian 230 mdpl terletak di Desa Girimukti, Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, masih berada di kawasan Geopark Ciletuh. Dari Jakarta butuh waktu sekitar enam jam jika ditempuh melalui jalan darat.

Read more of this post

Menyambangi Sedulur Sikep Samin

Dulu…dulu banget, guru SMP saya beberapa kali menyebut-nyebut tentang Wong Samin. Biasanya kata itu terlontar kalau ada muridnya yang agak ngeyel atau bebal.

Saya jadi penasaran. Sebenarnya Wong Samin itu siapa? Tinggalnya di mana? Seperti apa mereka? Saat itu jawaban yang didapat ya begitu-begitu saja. Wong Samin itu tinggalnya di Blora. Sudah begitu saja, titik.

Foto Mbah Lasiyo dan Mbah Wedhok di dinding rumah.

Foto Mbah Lasiyo dan Mbah Wedhok di dinding rumah.

Sahabat saya Azizah juga pernah bercerita tentang uniknya asisten rumah tangga budhenya yang merupakan orang Samin. Jadi, ART itu kerap melakukan sesuatu yang “ajaib” dan bikin geleng-geleng.

Nah, suatu hari, sang ART disuruh berbelanja ke pasar. Berangkatlah dia berbelanja. Tapi, sudah lama sekali mbak ART itu tak kunjung pulang. Diceklah ke pasar. Ternyata, mbak ART itu masih berada di pasar. Saat ditanya kenapa tak segera pulang, jawabannya bikin geregetan. Dia bilang tak pulang karena budhenya Azizah cuma menyuruhnya pergi ke pasar, tapi tidak menyuruh pulang. *tepok jidat, benerin poni.* Aneh kan?
Read more of this post

Roti Go: Kisah Biang, Oven Kuno, dan Perjalanan 117 Tahun

Menyambangi tempat kuliner legendaris selalu lebih menggoda minat saya dibanding menjajal tempat makan kekinian. Ketertarikan ini tak melulu dipicu urusan cita rasa makanan. Lidah saya tak ahli menilai detail makanan. Hanya tiga kategori yang saya pahami, makanan tidak enak, enak, dan enak sekali. Urusan bumbu, komposisi makanan, atau kadar kalori, sama sekali buta. Asalkan makanan terasa enak di lidah, perut kenyang, maka hati pun senang.

Namun, tempat kuliner legendaris menawarkan sesuatu yang istimewa. Ada cerita menarik di balik makanan yang tersaji. Perjuangan, cinta, kesabaran, konsistensi, kenangan, dan kadangkala terselip kisah pengorbanan. Makanya, saya selalu berusaha menyempatkan diri mampir ke tempat makanan legendaris jika sedang melakukan perjalanan.

Seperti saat memutuskan menghabiskan akhir pekan di Purwokerto, Juni lalu. Saya langsung teringat pernah membaca dua lembar artikel tentang kota tersebut di sebuah majalah perjalanan. Benar saja, setelah membongkar-bongkar rak buku ketemu juga artikel yang dimaksud. Majalah tersebut merekomendasikan beberapa tempat yang bisa dikunjungi di Purwokerto.


Read more of this post