Kehangatan Sawahlunto

Masjid Agung Nurul Islam, Sawahlunto. (Usemayjourney)

Hari sudah beranjak sore saat mobil sewaan kami memasuki kawasan Sawahlunto. Lega juga rasanya. Badan sudah berteriak menuntut berbaring di kasur yang nyaman setelah menempuh perjalanan dari Bukittinggi, Istana Pagaruyung dan Nagari Tuo Paringan.

Mengikuti petunjuk dari GPS, sopir kami menyusuri jalan mencari penginapan yang sudah kami pesan. Setelah melewati pusat kota, GPS masih mengarahkan untuk terus. Waduh kok jalannya mulai masuk-masuk kampung…

Saya dan dua sahabat, Azizah dan Farida, agak waswas juga. Ternyata penginapan kami letaknya cukup jauh dari pusat keramaian kota, agak masuk ke jalan yang sepi. Terbayang harus segera mencari motor untuk mengeksplore kota. Tak mungkin berkeliling berjalan kaki dengan jarak sejauh itu. Boro-boro jalan kaki keliling kota, beli makan cuma 1 kilometer saja kadang pakai gofood (eh sebut merek).

Setelah beberapa kali menelepon ke pemilik penginapan dan bertanya ke beberapa warga yang kami temui di jalan, sampailah kami ke tujuan. Penginapan kami letaknya kurang strategis. Bilqis Homestay namanya. Namanya juga homestay, ya beneran bentuknya seperti rumah.

Namun, segala kekhawatiran kami langsung lenyap setelah bersua langsung dengan pemilik penginapan, Bu Ping dan Pak Adi. Kami seperti menemukan “home away from home”. Rasanya seperti sedang mengunjungi keluarga dekat, disambut penuh kehangatan. Berasa pulang ke rumah.

Bu Ping langsung mengajak mengobrol dengan antusias setelah mengetahui kami berasal dari Jawa. Beliau dan Pak Adi juga berasal dari Jawa, tepatnya Yogyakarta.  Warga Sawahlunto memang banyak yang berdarah Jawa. Kebanyakan dulu mereka bekerja di PT Bukit Asam, terutama pada masa-masa jayanya.

Warga Sawahlunto memang banyak yang berdarah Jawa. Kebanyakan dulu mereka bekerja di PT Bukit Asam, terutama pada masa-masa jayanya. 

Bersama Pak Adi dan Bu Ping di Bilqis Homestay, Sawahlunto. (Usemayjourney)

Pak Adi juga menetap di Sawahlunto semenjak diterima bekerja di PT Bukit Asam. Meskipun sudah lama pensiun, Pak Adi dan keluarga tidak kembali ke Jawa. Mereka memilih menetap di salah satu kota indah di Sumatra Barat itu.

Sembari terus mengobrol, Bu Ping mengantar kami ke kamar. Kami juga dijanjikan bisa memakai dua sepeda motor milik beliau untuk berkeliling kota pada sore itu dan besok pagi. Lega rasanya. Masalah transportasi sudah teratasi. Ternyata Bu Ping masih menyiapkan kejutan. Besok kami akan ditemani Pak Adi mengeksplore Sawahlunto. Wah, kami jelas girang bukan kepalang. Tak ada lagi rasa waswas bakal tersesat atau kehabisan ide menjelajah kota tersebut. Tak ada pemandu yang lebih baik selain warga lokal kan?

Setelah melepas lelah sejenak dan mandi, kami bersiap-siap menikmati sore dan malam di pusat kota. Bu Ping tiba-tiba memanggil kami untuk keluar kamar. Tiga gelas teh jahe panas sudah tersedia di meja makan. Rasanya hati saya langsung hangat. Kenikmatan teh jahe tersebut tak perlu diragukan lagi. Namun, kepedulian Bu Ping lah yang membuat hati kami benar-benar hangat. Segelas teh jahe itu sepertinya menjadi pembuka kisah cinta kami dengan Sawahlunto.

Gedung PT Bukit Asam. (Usemayjourney)

Sudah lama saya ingin menyambangi Sawahlunto. Kota tua kaya sejarah dan budaya tersebut bagai magnet yang sulit diabaikan. Ternyata, apa yang sudah lama saya bayangkan tentang Sawahlunto tak berlebihan, bahkan jauh melebihi ekspektasi. Saya dengan mudah jatuh cinta.

Waktu terasa berjalan lamban dan tenang di Sawahlunto. Gedung-gedung tua peninggalan Belanda masih berdiri kukuh di berbagai sudut kota. Di beberapa bagian kota juga terdapat bangunan-bangunan kuno berarsitektur China. Lampu penerangan kota yang tak begitu gemerlap menambah suasana syahdu kota. Sawahlunto terasa menenangkan. Bahkan, alun-alun kotanya terlihat pas, tak terlalu riuh.

Sore  itu kami tak terlalu lama mengeksplore kota, toh masih ada esok hari. Kami tak berani pulang terlalu malam. Selain karena jalanan agak sepi, badan juga kelelahan setelah menempuh perjalanan dari Bukittinggi tadi siang.

Sampai di homestay, lagi-lagi kami disambut hangat. Bu Ping dan Pak Adi rela begadang mengajak kami berbincang. Salah seorang putranya juga ikut bergabung dalam obrolan seru malam itu. Perbincangan mengalir dengan mudah, dengan berbagai topik.

Ada satu topik yang menarik perhatian kami. Kisah Pak Adi dan Bukit Asam. Sebagai salah seorang mantan karyawan di PT Bukit Asam, Pak Adi tak kehabisan cerita tentang masa lalu Sawahlunto. Cerita masa-masa kejayaan Sawahlunto sebagai penghasil batubara terbesar di Indonesia dikisahkan dengan terperinci oleh Pak Adi. Beliau juga bercerita tentang penumpasan PKI di Sawahlunto pada 1966, jejak orang rantai dan perbudakan di sana, sampai potensi pariwisatanya. Cerita Pak Adi sangat runtut dan mendalam. Kami merasa seperti mendapat mendapat durian runtuh. Kalau sudah mendapat cerita mendalam seperti itu, kami jelas tak perlu pemandu wisata kan?

Tanpa terasa jarum jam sudah hampir mendekati tengah malam. Kami terpaksa minta undur diri kepada Pak Adi untuk beristirahat. Maklum kami butuh tenaga besar untuk menjelajahi Sawahlunto dan lanjut balik ke bandara Minangkabau.

Keesokan harinya, Bu Ping lagi-lagi memberikan kejutan. Kali ini Bu Ping sudah menyiapkan nasi goreng plus sambel teri. Rasanya jangan ditanya lagi, jelas dijamin kelezatannya. Kalau perut kenyang dan hati senang gitu gimana enggak betah coba.

Sesuai janjinya, Pak Adi benar-benar menemani kami berkeliling Sawahlunto. Ternyata jalan-jalan bersama Pak Adi sangat menyenangkan dan menguntungkan. Berkat Pak Adi, kami bisa memasuki beberapa museum sebelum jam buka. Status Pak Adi sebagai mantan pegawai PT Bukit Asam mempermudah negosiasi dengan penjaga museum. Bonusnya, beliau punya banyak cerita pendukung yang membuat kunjungan kami ke berbagai museum terasa spesial.

Kami seharian mengunjungi berbagai tempat bersejarah dan penting dalam perjalanan Kota Sawahlunto. Petualangan dimulai dari Museum Goedang Ransoem, Museum Kereta Api Sawahlunto, mengeksplore terowongan Lubang Mbah Soera, hingga menyaksikan pemandangan Sawahlunto dari ketinggian di Puncak Cemara.

Pak Adi juga tak keberatan saat kami beberapa kali minta berhenti di tengah jalan untuk memotret bangunan-bangunan kuno cantik di berbagai sudut Sawahlunto. Beliau benar-benar pemandu super dan istimewa. Bahkan, saat kami ingin mencari kaus khas Sawahlunto untuk kenang-kenangan, Pak Adi langsung mengantar kami ke produsennya. Kurang asyik apa lagi coba?

Langkah kami begitu berat ketika sore itu harus berpamitan ke Bu Ping dan Pak Adi untuk kembali ke rumah masing-masing. Di Sawahlunto saya tak hanya menemukan kepingan-kepingan sejarah yang menarik, tapi juga kehangatan. Cara Bu Ping dan Pak Adi menjamu kami begitu membekas di hati.

Bahkan, kami hanya bisa terharu ketika sebuah pesan pendek masuk ke handphone Azizah setelah kami tiba di rumah masing-masiing. Pesan itu datang dari Bu Ping. Beliau bertanya apakah kami sudah sampai tujuan. Beliau juga bilang sudah kangen sama kami, karena sudah dianggap seperti anak sendiri. Pesan yang singkat, tapi sangat menyentuh. Terima kasih Sawahlunto atas kehangatannya.

Advertisements

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

One Response to Kehangatan Sawahlunto

  1. Avant Garde says:

    kangen kesana lagi,banyak museum baru di sana mba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: