Sekelumit Kisah Pintu Air Demangan

Pintu air Demangan

Pintu air Demangan

Banjir dan Kota Solo sebenarnya tak memiliki hubungan yang bisa dibilang mesra. Kisah Solo dan banjir bagaikan hubungan tanpa status, kadang mesra, kadang menjauh. Kata banjir rasanya lebih pas jika diasosiasikan dengan Jakarta atau Semarang. Tapi bukan berarti Solo sepenuhnya bebas dari gangguan air bah.

Setiap musim penghujan tiba, Solo hampir selalu dihampiri banjir, meskipun kadang skalanya sangat kecil. Sejarah mencatat banjir besar pernah melanda Kota Bengawan itu pada 1966. Konon, dampaknya sungguh luar biasa. Kota Solo lumpuh oleh air bah. Sungai Bengawan Solo yang bisanya menjadi berkah, menampilkan wujudnya yang lain. Ya, memang dari sungai termasyur itulah asal mula air yang menggenangi Kota Solo.

Berdarkan informasi dari berbagai sumber, banjir Solo pada 1966 mengakibatkan kerusakan besar, bahkan efeknya terasa hingga Ngawi, Bojonegoro dan Lamongan. Sekitar 142.000 hektare lahan pertanian yang tersebar di 93 kecamatan tergenang air, serta sekitar 182.000 rumah rusak.

Kisah tentang Solo, Sungai Bengawan Solo dan banjir sangat menarik untuk dikupas. Alhasil, saya merasa beruntung ketika memutuskan ambil bagian dalam acara yang diadakan komunitas Blusukan Solo, 21 April lalu. Agenda blusukan kali ini diberi tajuk “Mengayuh Nostalgia Bengawan”. Baru membaca temanya saja, saya langsung tertarik. Dan tebakan saya memang terbukti. Tak sia-sia rasanya hari itu saya bangun pagi dan bercucuran peluh karena mengayuh sepeda dari pagi hingga siang. Pengalaman dan cerita yang saya dapatkan membuat rasa lelah menjadi tak berarti.

Salah satu destinasi yang kami datangi adalah pintu air Demangan, di Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon. Setelah memarkir sepeda, saya dan puluhan peserta blusukan lainnya diperkenalkan dengan penjaga pintu air Demangan, Pak Sri Waluyo. Semula beliau masih malu-malu ketika kami todong untuk bercerita mengenai hikayat pintu air tersebut. Namun, beberapa saat kemudian pria payuh baya itu akhirnya bersedia berbagi cerita. Pak Waluyo juga dengan ramah menemani kami melihat langsung pompa-pompa air yang ada di sana.

Pompa besar

Pompa besar

                           IMG_2483     IMG_2484     IMG_2476

Pompa air kecil

Pompa air kecil

Pak Waluyo (kanan)

Pak Waluyo (kanan)

Pintu air Demangan didukung oleh enam pompa air, yang jenisnya berbeda-beda. Tiga pompa berukuran kecil dengan daya sedot mencapai 1 meter kubik air/detik, sedangkan yang besar mampu menyedot 3 meter kubik air/detik. Menurut Pak Waluyo, tiga pompa air yang kecil adalah sumbangan dari Ir Sutami pada 1976. Sedangkan tiga pompa air yang besar baru dioperasikan pada tahun 2000. Fungsi pompa dan pintu air adalah mengamankan kota Solo dari ancaman bajir.

Setelah puas melihat-lihat pompa air, kami beranjak keluar untuk melihat pintu air Demangan. Pintu Air ini melintang di atas Sungai Pepe yang mengalir menuju Bengawan Solo. Fungsinya ganda, karena bagian atasnya kini menjelma menjadi jembatan yang bisa dilalui kendaraan, baik sepeda maupun kendaraan bermotor. Pak Waluyo menuturkan pintu air Demangan ini dibangun pada 1918 atas perintah Pakubuwono X. Tujuan pembangunannya tidak lain untuk menahan luapan banjir Sungai Bengawan Solo. Yang unik, pintu air Demangan tersebut terbuat dari bahan kayu jati. “Sejak pertama kali dibuat, kayunya baru diganti sekali, sekitar dua tahun lalu,” tutur Pak Waluyo.

Kapan pintu air harus dibuka atau ditutup? Semuanya tergantung ketinggian permukaan air Sungai Bengawan Solo. Jika permukaan air Bengawan Solo lebih tinggi dari Sungai Pepe, pintu air harus ditutup. Air dari kota dipompa, baru kemudian dibuang ke bagian luar pintu air yang mengarah ke Bengawan Solo. Namun ada kalanya pintu air Demangan pun tak bisa mencegah banjir jika air bah terlalu besar.

Pemasangan pompa air di dekat pintu air Demangan ternyata tak terlepas dari tragedi banjir besar pada 1966. Sepuluh tahun setelah peristiwa itu, Ir Sutami datang menyumbang tiga pompa air. Respons yang rasanya cukup terlambat karena harus menunggu selama 10 tahun. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Seiring berjalannya waktu, tiga pompa sumbangan Ir Sutami tersebut ternyata tak lagi memadai. Alhasil pada 1999 kembali dibangun tiga pompa baru dan setahun berselang sudah bisa dioperasikan.

Kali Pepe

Kali Pepe

Tumpukan sampah

Tumpukan sampah

Teman-teman peserta Blusukan Solo

Teman-teman peserta Blusukan Solo

Puas mengamati ketangguhan pintu air Demangan dari bagian luar, saya melangkahkan kaki. Tujuan saya adalah bagian atas pintu air yang berfungsi sebagai jembatan. Sampai di jembatan saya melepaskan pandang ke arah barat. Langit biru terhampar indah membingkai Kota Solo. Ketika pandangan diturunkan agak ke bawah, rumah-rumah sederhana tampak berjubelan mengapit Sungai Pepe. Akhirnya pandangan mata turun tepat ke bagian bawah jembatan. Apa yang saya lihat benar-benar membuat miris. Tumpukan sampah berjubelan di permukaan sungai, merusak teori keindahan. Setangguh apa pun pintu air Demangan, banjir bakal sulit dicegah jika sungai masih menjadi tempat sampah raksasa. “Saya sering turun untuk membersihkan sampah-sampah itu, tapi terlalu banyak. Ya beginilah wong Solo,” tutur Pak Waluyo ketika saya bertanya tentang tumpukan sampah yang sangat mengganggu tersebut.

Sejak dulu sungai dikenal sebagai air susu ibu peradaban. Jika air susu tersebut tercemar, siapa yang akan merasakan akibatnya? Siapa lagi kalau bukan anak dari peradaban, tak lain adalah kita semua. Tak mungkin kita selamanya menyandarkan nasib pada sebuah pintu air demangan atau pintu-pintu air yang lain. Semua harus ikut bergerak menjaga bumi ini, dimulai dari lingkungan masing-masing. Jika tidak, kita semua yang akan menderita. Sentilan ini terutama ditujukan kepada saya sendiri yang selama ini masih sering lalai mengotori Bumi Pertiwi tanpa rasa tanggung jawab.

Solo, 21 April 2013

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

22 Responses to Sekelumit Kisah Pintu Air Demangan

  1. Kerennnnn mbak Mei… .Jadi paham cerita ttg pompa air yg nggak pernah diketahui betapa pentingnya benda tsb. Kata nyokap, thn 1966 Pasar Gedhe banjir sampe 3-4 meter, yg selamet cuma daerah Mesen sampe Mojosongo… Ngeri ya… Amit-amit jgn sampe keulang lagi hehe…

  2. nyonyasepatu says:

    Sampahnyaaaaaa huhu

  3. Avant Garde says:

    mau ikutan dong, grup ini ada di FB nggak mbak ?

  4. DianRuzz says:

    Aku suka tajuk blusukannya => “Mengayuh Nostalgia Bengawan”😀

    Waaahh ternyata begitu ya cara kerja pintu air, baru tahu kalau ada pompanya juga dan fungsinya apa.
    Lalu, tajuk blusukan kita nanti apa? *uuhhuuxxx*

    • yusmei says:

      tajuk blusukannya syahdu ya mbaaak🙂🙂 Aku juga baru ngeh bener soal pintu air pas itu. tajuk blusukan kita harus lebih syahdu iniiii *berpikir keras🙂

  5. Rahmat Hidayat says:

    PERAHU NOSTALGIA BENGAWAN SOLO

    Sungai bengawan yang mengalir indah, dan kayuhan perahu yang melaju dengan tenang serasa menenggelamkan lamunan ini dalam sejarah masa silam. Berabad sudah berlalu, Bengawan Solo telah mengukir sejarah panjang dari peradaban manusia di Bumi Jawa.
    Satu hal yang mungkin tidak semua orang khususnya warga Solo tahu. Bahwa tepi Bengawan Solo, tepatnya di Kampung Beton ternyata menyimpan eksotisme menarik dari sungai terpanjang di Jawa itu. Bengawan Solo dulunya merupakan bandar pelabuhan perdagangan yang ramai. Dalam catatan sejarah disebutkan, Bengawan Solo ternyata sudah ada sejak Kerajaan Majapahit, dan berlangsung hingga Kerajaan-kerajaan sesudahnya, sampai Kerajaan Besar Surakarta Hadiningrat sebagai penerus generasi Kerajaan Mataram Islam di Kota Gedhe. Namun sisa-sisa kejayaan tepian Bengawan Solo sedikit saja yang bisa kita jumpai.
    Menelusuri sejarah Bengawan Solo tentunya belum lengkap rasanya, jika belum merasakan sendiri bagaimana leluhur kita dulu berlabuh dan berlayar di Sungai Bengawan Solo, hanya dengan menggunakan perahu. Pengalaman yang unik dan mengasyikkan akan kita rasakan jika ingin mencoba berlayar untuk menyeberang atau sekedar melintas di Sungai Bengawan Solo. Cuma sekedar refreshing, why not??
    Hanya dengan membayar seribu rupiah, kita sudah bisa menikmati bagaimana sensasi menggunakan transportasi air tersebut. Cukup murah bukan?. Satu hal yang sudah jarang kita jumpai di Kota Besar seperti Solo, yang seiring perkembangan jaman, moda transportasi air tradisional semacam perahu sudah mulai ditinggalkan, dan berganti dengan transportasi bermesin. Tapi Bengawan Solo masih tetap setia pada orang yang masih mencari nafkah diatasnya. Nah, jika beruntung, kita bisa berlayar bareng dengan warga sekitar yang juga hendak menyeberang, atau bahkan anak-anak sekolah di pagi hari yang hendak mencari ilmu ke “seberang pulau”.hehe…
    Perahu Bengawan Solo biasanya dikemudikan oleh seorang atau dua orang “nakhoda” perahu, yang setiap hari siap membantu kita menyeberang. Bisa dipastikan para “nakhoda” perahu bengawan itu telah berpengalaman berpuluh tahun, dan sudah akrab dengan sahabat setianya, yakni perahu dan pastinya Sungai Bengawan Solo. Dermaga atau Bandar Bengawan Solo beroperasi sampai malam lho, biasanya sampai jam 10, bahkan sampai jam 11 malam. Namun tak jarang, petugas jaga dermaga tetap setia menunggu para penumpang hingga larut malam.
    Setelah sampai seberang, kita bisa lanjutkan kembali perjalanan kita menuju Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Desa Gadingan merupakan sentral pembuatan karak, camilan pelengkap makan dari olahn beras yang diberi bumbu, dipotong dan dikeringkan, lantas digoreng. Dari sentral pembuatan karak itulah, para pedagangnya mengarungi Sungai Bengawan Solo untuk menjual ke para penikmatnya.
    Kembali, Sungai Bengawan Solo menjadi pengantar setia bagi mereka yang masih membutuhkannya. Kenangan sejarah akan keramaian Tepi Bengawan Solo sebagai bandar atau pelabuhan memang sudah tak tersisa, namun kehidupan dan masyarakatnya masih menyisakan sedikit Nostalgia dari Bandar Besar Bengawan Solo.
    Pantas saja, Almarhum Gesang menggambarkan begitu indah Sungai Bengawan Solo lengkap dengan perahunya, lewat lagu berjudul “Bengawan Solo”, hingga membawa Gesang, Solo, dan Indonesia dikenal diseluruh dunia. Berbeda dengan Almarhum Gesang, seniman campursari, Almarhum Manthous juga mengabadikan Sungai Bengawan Solo lewat tembang Jawa berjudul “Bengawan Sore”. Walaupun dengan konteks berbeda, tapi Bengawan Solo tetap akan menjadi sebuah kenangan terindah bagi kita yang ingin blusukan Kota Solo dan bernostalgia dengan Sungai bernama Bengawan Solo..

    Selamat mencoba..
    Rahmat Hidayat for Blusukan Solo

    -maaf blog belum tersedia :)-

    • yusmei says:

      Keren tulisannya mas…langsung dibuatkan blog saja biar kita bisa menyimak dengan enak dan tahu mau nyari kemana kalau pengen baca tulisannya mas rahmat🙂

      • Rahmat Hidayat says:

        thank you Mbak Yusmei, dapet pencerahan dan semangat buat nulis nii ..🙂. Oke InsAllah sgra dibuat deh blog-nya.

  6. sri mujiati says:

    Pintu air demangan terletak di kel Sangkrah, kecamatan Pasar Kiwon, bukan Jebres.

    Kalau kel Kampung Sewu yang membawahi putat, pamrih, beton terlmasuk kec Jebres.

    Kali pepe merupakan batas kecamatan. Sebelah utara kali pepe masuk kecamatan Jebres, sedangkan sebelah selatan kali pepe termasuk kec Pasar Kliwon.

    Kalau kali bengawan merupakan batas kota surakarta dengan kabupaten sukoharjo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: