Sehari Kulineran di Magelang

Perut lapar, mata super ngantuk. Tubuh rasanya sudah tidak karu-karuan saat mobil kami meninggalkan area Puthuk Setumbu, Magelang. Begini ternyata efek nyaris tak tidur semalaman karena ikutan acara pemecahan rekor di Candi Borobudur. Saya berusaha mencuri-curi tidur selama beberapa menit untuk memulihkan energi.

Setelah mampir sebentar ke penginapan, mobil melaju perlahan menuju ke Pasar Borobudur. Saya, Azizah, Mbak Ratri, Frista dan Halim, sepakat bakal menghabiskan hari Sabtu itu untuk bersantai-santai. Fahmi juga ikutan, tapi cuma sebentar. Mumpung di Magelang, kami berniat kulineran habis-habisan dong. Kolesterol? Dipikir nanti deh😀

Gorengan di pasar Borobudur

Makan gorengan di Pasar Borobudur

Sampai di Pasar Borobudur kami langsung berburu penjual makanan. Penginnya cari jananan khas pasar seperti klepon dan lain-lain, ternyata enggak ada. Ya sudah, akhirnya nongkrong di lapak penjual gorengan. Makan gorengan plus minum teh anget pagi-pagi gini nikmatnya tiada tara (nah mulai lebay). Apalagi sambil mengamati aktivitas dan interaksi di pasar tradisional yang hangat khas Indonesia.

Perburuan kuliner berlanjut. Tujuan berikutnya adalah warung sop senerek. Ini yang paling saya tunggu-tunggu. Penasaran banget nyicip makanan ini setelah dengar ceritanya dari Fahmi, Azizah, dan Halim. Seenak apa sih? Sop ini konon makanan peninggalan Belanda. Berasal dari kata “snert soup”, yang artinya sop kacang polong. Sekarang sudah bertransformasi menjadi sop kacang merah. Mungkin karena kacang polong agak susah didapat kali ya.

Salah satu sop senerek yang tersohor di Magelang adalah di warung Bu Atmo. Tapi pagi itu kami memilih warung Pak Parto yang berada di kawasan terminal lama, tepatnya Jl. Ikhlas 12 C Magelang. Warungnya cukup lapang dan bersih. Bau kuah sop membuat perut saya semakin meronta-ronta minta diisi. Sabar dong ah.

Sop senerek magelang

Ini dia penampakan sop senerek yang lezat

Sop pesanan datang juga. Baunya sangat menggoda, tak sabar menyantapnya sampai ludes. Sop senerek berisi irisan daging sapi, wortel, ada bayamnya juga, kentang, dan tentu saja kacang merah. Kaldunya terasa gurih, tidak membuat eneg. Kacang merahnya juga pas karena dimasak tak terlalu lembek. Sekilas rasanya mirip sop buntut, tapi rasa gurihnya lebih ringan dan lebih segar. Enak banget pokoknya. Pas dengan lidah saya. Penyajian supnya bisa langsung dicampur dengan nasi. Tapi bisa juga kita minta disajikan terpisah. Sesuai selera masing-masing lah. Mantap pokoknya.

Selesai makan, saatnya mencari pencuci mulut. Tapi perut memang masih terasa sangat penuh. Frista dan Halim pengin trekking ke Bukit Tidar. Saya sudah tak punya energi. Akhirnya ikutan mbak Ratri mengantar barang ke teman kerjanya. Sejam kemudian, mobil kami meluncur ke Toko Roti Mahkota alias Toko Bie Sing Ho di Jl A. Yani No. 41. Kami ingin mencicipi es krimnya yang legendaris!

Hujan mulai turun ketika kami sampai di Toko Roti Mahkota. Konon ini adalah toko roti yang sudah berdiri sejak 1945. Tak lama kemudian hujannya semakin deras. Udara pun jadi agak dingin. Tapi kami tetep ngebet beli es krimnya. Sudah jauh-jauh sampai sana mosok enggak jadi beli.

Penataan interior toko ini sangat sederhana. Hanya ada ada etalase berisi kue-kue, seperangkat meja kerja, dan kursi di pojok ruangan, meja yang di atasnya bertumpuk kotak-kotak roti, serta tumpukan kardus-kardus di sudut lain ruangan.

Toko Roti Mahkota ini kini dikelola Bu Frida, bersama suaminya Pak Mulyono. Mereka adalah generasi ketiga pemilik toko roti tersebut. Tapi siang itu kami hanya bertemu Bu Frida, itu pun tak bisa ngobrol lama karena beliau sedang sibuk di salonnya yang berada di samping toko roti.

Kami pun langsung memesan es krim batangan, yang dibungkus kertas warna perak, dibanderol Rp6.000 per buah. Ada juga yang berbentuk cup kecil. Rasanya enak, campuran cokelat dan vanila. Tidak terlalu manis, jadi tak cepat eneg. Enak pokoknya, tak kalah dengan es krim lain yang sudah tersohor seperti Ragusa di Jakarta.

Nah, dari Halim saya dapat cerita Bu Frida ini ternyata punya hubungan “saudara” dengan pemilik Toko Roti Orion Solo. Daripada penasaran, saya akhirnya menanyakan itu langsung ke Bu Frida. Ternyata memang benar. Keluarga mereka memang seperti “saudara angkat” dengan pemilik Orion. Tak heran, Mahkota juga menjual roti mandarijn. Nah, Bu Frida pun kemudian menawari saya untuk mencicipi kue mandarijn-nya, gratis..hehe. Rasanya benar-benar maknyus (dari tadi enak melulu ya). Ada kemiripan dengan mandarijn ala Orion, tapi yang ini cita rasanya telurnya lebih pekat. Rotinya juga legit banget.

Kulineran masih berlanjut, meskipun perut sudah mulai penuh. Target berikutnya adalah Depot Es Semanggi, yang katanya juga legendaris. Padahal lokasinya sangat tidak ideal, di pojokan basement Matahari Dep Sore di Alun-alun Timur Magelang. Kalau pergi sendiri pasti saya enggal bakal nemu tempat ini. Warungnya juga sederhana, bersebelahan dengan tukang cukur rambut. Tapi karena terkenal enak, warungnya selalu ramai.

Es Semanggi Magelang

Depot es Semanggi Magelang

Bermacam-macam menu es ditawarkan di warung ini, misalnya es cokelat tape, es cokelat pleret, es awet, es pleret, es kelapa muda, es susu dawet, es susu pleret. Yang khas dari warung ini adalah penampakan sirupnya yang disimpan di botol klasik tanpa merek. Buatan sendiri sepertinya. Sirup-sirup beraneka rasa itu dipasang berjajar sehingga bisa dilihat langsung para pembeli. Keberadaan botol-botol sirup tersebut menambah kesan klasik Depot Es Semanggi tersebut. Soal rasa? Jangan khawatir, segar dan nikmat. Harganya juga miring. Yang termurah es sirup yang dibanderol Rp1.500, sedangkan yang termahal es soda gembira yang harganya Rp6.500. Murah kan?

Eh di Depot Es Semanggi ini, ada satu lagi personel yang bergabung. Traveler nge-hits dari Jakarta (Bekasi tepatnya), Dita. Nah, karena Dita belum makan, kami mengajaknya melipir ke warung kupat tahu. Perut saya sebenarnya sudah kekenyangan, makanya hanya berani makan sepiring berdua. Kalau seporsi sendirian sudah enggak sanggup.

Banyak warung kupat tahu yang cukup terkenal di Magelang, salah satunya warung Pak Pangat. Karena hari sudah beranjak sore dan Fresti harus segera balik ke Jogja, kami mampir di warung kupat tahu yang searah dengan perjalanan ke penginapan. Warung Kupat Tahu Pelopor yang terletak di depan Stasiun Blabak. Kalau informasi di spanduk depan warung bisa dipercaya, warung ini sudah berdiri sejak 1963. Dulu waktu pertama mencicipi kupat tahu Magelang, lidah saya agak kaget. Rasanya ternyata beda dengan tahu kupat khas Solo. Rasanya lebih gurih, tidak semanis tahu kupat Solo. Tapi sama-sama enak kok, apalagi dimakan saat masih panas.

Kupat tahu magelang

Kupat Tahu magelang, di Warung Pelopor, Blabak

Kupat tahu Magelang terdiri atas ketupat, gimbal, tahu putih yang digoreng tak terlalu matang, irisan kubis, daun seledri, bawang goreng, dan taburan taoge. Kuahnya juga maknyus. Kalau suka pedas silakan tambahkan cabai yang banyak!.Kupat tahu Pelopor menjadi akhir petualangan kuliner kami hari itu. Namun kalau butuh kuliner lain Magelang yang recommended, silakan coba melipir ke Warung Makan Sehati yang menjual masakan mangut ikan beong super pedas.

Mangut Beong Borobudur

Mangut Beong Borobudur

Saya pernah menjajal makanan ini saat ke Magelang beberapa waktu sebelumnya. Enak sih, tapi pedasnya enggak nahan. Bagi teman yang hobi makanan pedas, mangut beong ini sangat nagih. Warungnya terletak sekitar 1,5 km dari Candi Borobudur. Tepatnya di pinggir jalan raya Borobudur-Salaman, di Desa Brumen, Kelurahan Kembanglimus. Warungnya sederhana, namun sudah menjadi langganan para pesohor. Foto-foto para pesohor mulai dari menteri, hingga artis saat mampir ke warung itu dipasang dengan rapi di dinding. Rasa memang tak pernah bohong. Kalau enak, pasti bakal menjadi magnet bagi siapa pun.

Butuh akhir pekan yang santai sambil wisata kulineran? Cus aja ke Magelang. Dijamin hati senang, perut kenyang dan kantong tetap relatif aman.😀

 

Magelang, September 2014

 

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

58 Responses to Sehari Kulineran di Magelang

  1. Malam-malam jadi ngiler…hahaha..Dan aku akan pilih Sop Serenek, kayaknya aman buat yg lemaknya sudah tebal…

  2. Gara says:

    Saya belum pernah ke Magelang (selalu hampir pergi terus batal). Mungkin karena belum dapat to-do list kalau berhasil pergi ke sana. Tapi sekarang sudah tahu, yo makan itu paling utama! Thanks, Mbak!

    *brb googling soal mangut karena saya tidak tahu itu apa*

  3. alrisblog says:

    Sop senerek itu kayaknya menyehatkan. Acara di Magelang yang memecahkan rekor itu?

  4. mawi wijna says:

    Kalau khilaf nyepeda mpe Magelang lagi bakal mampir ke depot es semanggi. Kayaknya patut untuk dijajal selagi harganya belum naik, hahaha.

    • yusmei says:

      Hahaha murah meriah ituuu. Kalau pun naik, paling 500…

      • mawi wijna says:

        saya inget pas mampir ke salah satu warung ketupat tahu di deket alun2 magelang itu, si Ibu penjualnya bilang klo harganya naik Rp 500 per tahun😀

      • yusmei says:

        Naik Rp500 sepertinya gak banyak, tp lama2 kerasa juga ya. Tp dimaklumi, harga cabe juga semakin mahal🙂. Eh tp mending itu naiknya cum Rp500, beberapa makanan di solo naiknya kadang biking kita mengerutkan dahi🙂

  5. Ah, aku iri dengan teman-teman di Jawa Tengah. Sering jalan2 bareng. Ini banyak yg sama-sama di Bandung tapi nggak pernah jalan bareng atau sekedar ketemu haha.

    Mangut Beong-nya menggoda, mbak. Maklum penyuka pedas🙂

  6. kompasupdate says:

    Yusmei… info kulinernya mak nyuzzz …. tengkiyu ya, aku sering ke Muntilan, ntar ikutin rutemu ini deh …

    @KicauPenulis

  7. omnduut says:

    Ya ampuuun kangen Magelang. Dulu makan di deket-deket tempat wisata Ki Langgeng (kalo gak salah nama tempat wisatanya). Sempet lirik getuk di pasar hmmm pasar apa ya namanya lupa tapi gak beli hiks *nyesel*

    • yusmei says:

      Namanya Kyai langgeng, yang ada roller coaster mini hahaha. Gethuk trio kayaknya Yan…suka beli buat oleh-oleh tuh. Yuks kapan main ke Magelang lagi😀

      • omnduut says:

        Iyaaa benaar ada roller coaster mini haha walau gitu tetep aja takut naiknya. Takut jatoh karena kok ngerasa roller coasternya sudah tua xixixixi

      • yusmei says:

        Hahaha sama. Ngelihat penampakan roller coasternya udah takut duluan. Takut tiba2 berhenti tanpa sebab gitu, gak meyakinkan

  8. Badai says:

    Kaaaak suapin kaaaaak #mendadaklapar

    Btw pengen banget ke Magelang karena dulu pernah punya sahabat pena dari lembah Tidar, tapi sayangnya belum kesampaian berkunjung sampe sekarang. Sepulang dari Prau nanti bisa mampir sini gak ya?😉

  9. Di Magelang inilah saya pertama menjadi wartawan Yusmei. Sop senerek adalah makan favoritku… wilayahku seain Kabupaten Magelang (Borobudur, Muntilan dan sekitarnya), juga Kota Magelang, Temanggung dan kadang2 ke Wonosobo…setiap hari melanglang wilayah itu…

  10. Dita says:

    aku mau mangut beong huhuhuhu penasaraaaaaan😀

  11. winnymarch says:

    ikut kak ikut hhaha

  12. ndop says:

    Walah mbak, nek kulineran ngejak aku ae, nek gak entek aku siap jadi pembuangan. HAHAHA.. Btw, kok ya pas wetengku kosong, eh moco tulisan tentang panganan. Wuih, mosok aku kudu budal magelang saiki? Waduh piye iki..😦

  13. dansapar says:

    bye….
    ra sido moco
    marai galau ae nambah home sick hahahhahaa
    bye
    ….
    *mutungjaya*
    hahahahaha

  14. rangi ruru says:

    Hai… saya mampir kok ngebahas makan di magelang, udah berkali kali kesana nggak pernah kemana-mana baru tau tentang es semanggi dan es krim klasiknya. Saya masukkan list insha allah kapan mampir magelang lagi capcus ke warunya. Thx for sharing🙂

  15. Ari Azhari says:

    Ha wetengku kencot ndelo Sop Senerek. Hiks. Keliahatannya enak banget dan tipikal ‘clean soup’ yg gak terlalu berminyak. Trus itu KOK BISA DIKASIH MANDARIJN GRATISAN. Lempar sini ke Medan.

    • yusmei says:

      Perasaan gak cuma lihat sop senerek, lihat makanan apapun mesti kamu laper koh.😀
      Heh, itu mandarijn cuma dikasiih, ntar kirim Medan gak sampai2 kayak dulu. Tapi rasanya agak beda, yang ini lebih kayak kue rumahan. Enaaak

  16. noerazhka says:

    Senerek Pak Parto favorit guweeehhh !😀

  17. mysukmana says:

    itu yang di botol kok mirip ager2 cair🙂

  18. xaveria says:

    Penasaran sama es semanggi? Kalau di Surabaya, semanggi dimakan pakai bumbu singkong. kalo di Magelang kayak apa ya?? hmmm…

    • yusmei says:

      Kalau itu semanggi tumbuhan ya? Kalau ini nama warungnya aja semanggi, es yg dijual gak ada hubungannya sama semanggi tanaman ituu hihi

  19. Yasir Yafiat says:

    Nelen ludah (gluk, gluk, gluk) ngeliat postingtannya Mbak Yusmei. Bikin ngilerrrr. Ada yang manis dan gurih. hemmm mauuuuuu

  20. Mahkota BieSH says:

    Terimakasih sudah mampir dan review positif nya mengenai ice cream dan toko kue kami.

  21. Pingback: Berkunjung Ke Magelang? Wajib Coba Kupat Tahu Pojok!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: