Memori Suram Lubang Jepang

Jika ada nasihat untuk memilih pasangan hidup dengan cermat, saran senada harusnya berlaku dalam memilih guide. Pemandu wisata bisa sangat memengaruhi kualitas sebuah perjalanan, apalagi untuk jenis wisata sejarah, seperti Lobang Jepang di Bukittinggi, Sumatra Barat.

Lorong masuk Lubang Jepang

Lorong masuk Lubang Jepang

Sebut saja siang itu saya sedang apes. Boro-boro mendapat pemandu yang informatif, cerdas, ramah dan sabar meladeni pertanyaan. Saya malah mendapat jatah guide tak sabaran yang buru-buru ingin merampungkan tugasnya. Ujung-ujungnya, saya pun hanya bisa menggerutu tiada henti. Nama guide itu? Saya sudah lupa.

Lubang Jepang atau kadang disebut Lobang Jepang adalah salah satu destinasi wisata utama di Bukittinggi. Lokasinya di kawasan Taman Panorama, tak jauh dari pusat Kota Bukittinggi. Ini adalah tempat untuk mendapatkan pemandangan terbaik ke Ngarai Sianok. Setelah membayar tiket masuk senilai Rp10.000, saya dan sahabat saya Krisna, memutuskan memakai jasa guide untuk menemani masuk ke Lubang Jepang. Sesuai urutan, kami mendapat jatah pemandu yang masih muda, mungkin umurnya belum sampai 30 tahun. Sebenarnya sejak awal saya memang sudah kurang simpatik dengan mas pemandu ini. Ketika kami memilih melihat-lihat dulu pemandangan Ngarai Sianok dari gardu pandang Panorama, si mas pemandu sudah kelihatan tidak sabar.

            jepang5  jepang8

            jepang4  jepang2

Nah, setelah puas mengabadikan gambar Ngarai Sianok, kami memulai petualangan di Lubang Jepang. Siang itu pengunjung cukup ramai. Heran juga padahal saat itu bukan libur akhir pekan. Lubang Jepang merupakan bunker peninggalan jaman penjajahan Jepang di Nusantara. Konon tempat itu dijadikan basis pertahanan Jepang pada saat perang dunia kedua. Jadi, Lubang Jepang didirikan pada periode 1942-1945. Pekerjanya adalah para tahanan pribumi, yang menurut cerita berasal dari luar Sumatra, seperti Jawa dan Sulawesi. Pemilihan tenaga kerja ini bukan tanpa alasan. Jepang sengaja mengambil tenaga dari jauh supaya proyek ini terjaga kerahasiannya. Seiring waktu, bunker pertahanan itu berkembang jadi tempat pengintaian dan juga pembantaian tahanan!

Pintu masuk dari Taman Panorama sebenarnya hanya salah satu jalan menuju Lubang Jepang. Ada dua pintu lainnya yaitu dari Jalan Ngarai Sianok dan di samping istana Bung Hatta. Namun hanya pintu di Taman Panorama yang terbuka untuk umum. Pada saat ditemukan (entah tahun berapa), diameter pintu masuk ke Lubang Jepang hanya 20 cm. Pemerintah kota Bukittinggi kemudian resmi membuka Lubang Jepang sebagai wisata sejarah pada 1984. Setelah dipugar, lebar pintu masuk dan lorongnya menjadi sekitar dua meter, sedangkan tingginya tiga meter, cukup nyaman untuk dilewati.

Sembari berjalan cepat, pemandu membawa kami menuruni Lubang Jepang. Anak tangga yang harus kami turuni sangat banyak, lebih dari 100 buah. Konon jarang yang hitungannya sama. Tapi saat itu memang tak berniat menghitung, jadi ya jalan lempeng saja…hehehe. Puluhan atau seratusan anak tangga itu akan membawa kami sampai di kedalaman 40 meter. Dan yang menyebalkan, mas pemandu kami berjalan terlalu cepat dan meninggalkan kami! Dia baru berhenti dan menunggu kami setelah tiba di lorong utama.

Menurut penjelasan mas pemandu, lorong bawah tanah di Lubang Jepang ini panjangnya 1,47 km. Terdapat 21 lorong-lorong kecil yang memiliki berbagai macam fungsi. Ada bilik serdadu militer, ruang rapat, lorong penyimpanan amunisi, ruang makan romusa, dapur penjara, ruang sidang, ruang penyiksaan, penjara, tempat pengintaian, tempat penyegapan dan pintu pelarian. Masing-masing tempat telah diberi papan nama penjelasan. Kadang pemandu kami mau menjelaskan, tapi lagi-lagi dengan seenak hati. Huh!

Penerangan di dalam lorong cukup memadai, meskipun suasana masih tetap remang-remang. Lampu-lampu neon dipasang di berbagai sudut. Lorong ini mengingatkan saya dengan Chu Chi Tunnel di Vietnam. Namun lorong di Lubang Jepang memang lebih lapang dan tinggi. Menurut mas pemandu, dinding terowongan masih dipertahankan keasliannya. Konon terbuat dari pasir yang akan semakin kuat jika dicampur air. Dinding batunya bersekat-sekat untuk meredam suara agar tidak berjalan keluar.

Inilah bentuk meja dapur untuk pembantaian

Inilah bentuk meja dapur untuk pembantaian

Lubang untuk membuang mayat

Lubang untuk membuang mayat

IMG_2235

me and krisna

Suasana di dalam terowongan awalnya terasa biasa-biasa saja. Apalagi di beberapa bagian, sentuhan modernitas sudah sangat terasa. Namun, di sebuah lorong utama yang bertuliskan “Pintu Pelarian” aura suram mulai terasa. Di belakang pintu tersebut ada cahaya masuk yang berasal dari lubang berpagar. Nah, di sebelah kanan lorong tersebut ada lorong lain yang berujung ke penjara. Itu adalah tempat memenjarakan para pekerja yang membangkang atau tawanan lain. Kemudian di sisi kanan penjara terdapat sebuah ruangan bertuliskan dapur.

Semula saya mengira dapur tersebut bermakna harfiah sebagai tempat untuk memasak. Ternyata saya salah. Pemandu kami menuturkan, dapur tersebut sejatinya adalah tempat pembantaian! Ya, pembantaian itu dilakukan di meja batu yang terletak di pojok ruangan. Saya langsung bergidik ketika memandangi meja tersebut dan membayangkan kejamnya pembantaian yang pernah terjadi di masa lampau. Setelah dibantai korban akan dibuang melalui sebuah lubang kecil di pojok ruangan. Menurut mas pemandu, lubang itu berujung ke Ngarai Sianok sehingga jasad korban akan sulit ditemukan. Mengerikan!

Cerita seram itu masih melekat di benak ketika kami berjalan menuju pintu keluar. Pemandu kami semakin tak berselera untuk bercerita. Saya hanya bisa menatap iri rombongan lain yang mendapat pemandu yang ramah dan tak henti memberi penjelasan menarik. Nyesel juga merogoh kocek sebesar Rp50.000 untuk pemandu asal-asalan seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi?

Sampai di pintu keluar, kami disambut hujan deras. Terpaksa kami berteduh dulu. Sembari menatap rintik hujan, saya mencoba mengenyahkan bayangan seram tentang berbagai peristiwa yang terjadi di Lubang Jepang pada masa lampau. Berbagai cerita mistis tentang Lubang Jepang konon juga terus bermunculan. Cerita masa lalu Lubang Jepang memang suram. Tapi, sejarah tetaplah sejarah. Kita harus bisa menerimanya sebagai bagian tak terpisahkan dari negeri ini. Seperti saya juga harus menerima dengan lapang dada tingkah guide kami yang asal-asalan itu.

Bukittinggi, Juni 2013

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

42 Responses to Memori Suram Lubang Jepang

  1. dee nicole says:

    Pemandune baru sakit perut.harap maklum ^.^
    eh,lubang pembuangan mayatnya kayanya ganti fungsi jadi pembuangan sampah tuh.

  2. ada bayangan2 gak yang muncul hihihih

  3. aku belum sempet nulis gua jepang nih …

  4. Waktu kau masuk kesini, bau nya anyir banget kayak amis gitu. Trus ngak ada wistawan lain, hanya ada rombongan gw aja jadi pingn cepet2 keluar merinding

  5. buzzerbeezz says:

    Untung kami pas ke sana dapet guide senior yg enak (sejak 1989 jadi guide!). Lama nemeninnya. Nyeritain strategi2 perangnya Jepang juga. Padahal kami cuma berdua. Seru deh..😀

  6. DianRuzz says:

    *merinding*
    pas sampe tengah, sempet ngira juga klo dapur itu ruang untuk memasak makanan para tentara & tahanan. Ternyata ………..
    paragraf pembuka dan penutupnya asyik ^_^

  7. nyonyasepatu says:

    aku gak suka loh Yus masuk kedalam ini😦 entah kenapa rasanya gimana gitu huhuhu

  8. chris13jkt says:

    Memangnya itu penentuan guidenya berdasarkan urutan gitu ya? Gak bisa milih? Dulu seingatku aku nyelonong sendiri tanpa guide sih, tinggal ngikutin rombongan orang lain aja.

    • yusmei says:

      Nah itu saya bingung juga pak kris, pokoknya pas minta guide di loket, langsung dikasih mas yang itu. Mungkin kalau saya langsung nyelonong malah bisa dapat guide yang lain hehehe

  9. johanesjonaz says:

    wisata sejarah yah? semcam lawang sewu kalo di Semarang.. keren!

  10. rintadita says:

    iiih aku juga pas kesini juga agak-agak merasa merinding disko gitu dehh, trus langsung ngibrit nyari tempat yang rame. Emang dasar akunya aja yang penakut kali ya😀

  11. itu gak bisa nebeng sama guide orang lain kah? :p
    jadi inget gua jepang yang ada di TAHURA Bandung

  12. bayik says:

    hehehe sama, kemaren dulu waktu ke Lawang Sewu Semarang, dapat guide yang fungsinya gak jelas, gak cerita apa-apa, malah lebih luas pengetahuan saya daripada dia. padahal itu guide resmi loh. yah hitung-hitung beramal.

    • yusmei says:

      waah dulu saya beruntung pas ke lawang sewu, guidenya lumayan luas pengetahuannya. Mungkin harus ada standarisasi guide ya di tempat2 wisata, misalnya harus ada pelatihan terlebih dahulu. Jadi pengunjung puas🙂 . Makasih sudah mampir🙂

  13. meidianakusuma says:

    Bulan Juli kemarin, cuma bisa sampe pintu doangan :((
    Tempat wisatanya sepi banget, dan pas hari2 pertama puasa pula, baru nyium udara2 lembab dari tangga turun aja aku udah ga berani masuk😦

  14. Pingback: Bersantai di Bukittinggi | Usemayjourney

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: