Museum Batik Danar Hadi : Sebuah Refleksi Cinta

Ketika seseorang mencintai sesuatu dengan sepenuh hati, orang lain pasti bisa melihat dan merasakannya. Passion memang tak bisa ditutupi. Gumpalan gairah dan kecintaan mendalam itulah yang saya rasakan ketika mengunjungi Museum Batik Danar Hadi Solo, belum lama ini.

Pegawai Danar Hadi sedang membatik

Pegawai Danar Hadi sedang membatik

Museum ini didirikan oleh H Santosa Doellah, pemilik usaha batik ternama asal Kota Bengawan, Danar Hadi. Sudah hampir 13 tahun museum ini eksis sejak diresmikan oleh Presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri, pada 20 Oktober 2000. Letaknya strategis di jantung Kota Solo, tepatnya di Ndalem Wuryaningratan yang berada di jalan Slamet Riyadi, sederetan dengan Museum Radyapustaka. Tempat ini sangat recomended. Bahkan di situs Trip Advisor, Museum Danar Hadi menduduki ranking pertama tempat wisata di Solo yang paling disarankan.

Mengapa saya merasakan sebuah refleksi cinta mendalam saat mengeksplor museum ini? Kita cukup berkeliling dan melihat koleksi-koleksi luar biasa di museum ini untuk menemukan jejak cinta Santosa Doellah terhadap batik. Apa coba motif seseorang mengoleksi hampir 11.000 jenis batik dengan harga selangit, kemudian menatanya dalam sebuah museum? Mengumpulkan koleksi sebanyak dan selangka itu jelas membutuhkan perjuangan gigih, tenaga, waktu dan uang tak sedikit. Mungkin Santosa Doellah harus merogoh kocek puluhan atau bahkan ratusan miliar untuk memuaskan dahaganya terhadap batik. Satu hal yang tak bisa dibantah, beliau jelas sangat mencintai batik. Tak heran, museum ini terasa sangat berkelas dan nyaman karena semuanya dikelola dengan cinta.

Dari kacamata orang awan dan tak terlalu paham sejarah batik seperti saya, koleksi Museum Danar Hadi ini sungguh amazing. Berbagai jenis batik yang mungkin belum pernah kita lihat sebelumnya bisa ditemukan di sini. Total ada sekitar 600 lembar dari 11.000-an koleksi kain batik yang dipamerkan di museum. Setiap tujuh sampai sembilan bulan, pengelola akan mengganti koleksi batik yang di-display.

Setelah membayar tiket masuk senilai Rp25.000, saya dan dua teman disambut seorang guide, Mas Najib namanya. Ini adalah kunjungan ketiga saya ke Museum Danar Hadi. Pertama karena tugas, sedangkan yang kedua menemani seorang teman dari Jakarta. Bang Najib orangnya santai saat memandu. Dia menjelaskan koleksi museum sembari memberi cukup waktu kepada kami untuk mengamati. Koleksi museum dibagi menjadi beberapa bagian, sesuai dengan kategori batiknya.

Menurut Mas Najib, batik koleksi tertua di museum ini adalah kain buatan 1840. Batik yang dipamerkan antara lain Batik Belanda, Batik Hokokai (dipengaruhi budaya Jepang), Batik China, Batik Indonesia, Batik Keraton, Batik Danar Hadi hingga Batik Saudagar.

Koleksi Batik Belanda cukup menarik. Saya jadi tersenyum sendiri membayangkan orang Belanda memakai kain batik. Di dinding terpasang sejumlah foto orang Belanda yang mengenakan kain batik. Menurut Mas Najib mereka mengenakan batik dengan model sarung karena tidak terbiasa menggunakan kain batik, ribet mungkin. Batik Belanda dominan berwarna cerah dan minim filosofis dibandingkan batik keraton. Kain-kain tersebut bukan dibuat di Belanda, tapi bikinan orang Indonesia dengan motif yang dipengaruhi kebudayaan Belanda. Motifnya didominasi gambar hewan dan tumbuhan.

Selanjutnya beranjak ke Batik Keraton. Ada batik dari Kraton Kasunanan, Mangkunegaran, Kasultanan dan Pakualaman. Batik dari empat keraton ini bisa dibilang sama tapi beda. Maklum kraton Solo dan Jogja pada dasarnya memang bersaudara. Supaya berbeda, motif, warna dan pemakainnya dibuat bervariasi, saling bertolak belakang. Mas Najib menguraikan batik Jogja usianya lebih tua daripada Batik Solo. Ini terjadi karena ketika Mataram pecah akibat Perjanjian Giyanti, seluruh koleksi batik yang ada di Solo diangkut ke Jogja. Alhasil, Kraton Solo pun baru mulai mengembangkan batik sendiri. Batik keraton Solo lebih didominasi warna cokelat atau sering disebut sogan, sedangkan Jogja didominasi warna putih. Cara memakai kain batik Jogja dan Solo, termasuk penempatan wiru (lipitan-lipitan) saling berkebalikan. Di sini juga dijelaskan perbedaan cara memakai kain batik untuk orang yang sudah menikah dan belum. Tapi peraturan tersebut sepertinya kini sudah banyak dilanggar.

Ada juga ruangan khusus Batik Indonesia. Ide pembuatan batik ini berasal dari Presiden Soekarno. Beliau ingin menghilangkan dikotomi Batik Kraton dan Batik Pesisiran, yaitu kalangan ningrat dan kalangan masayarakat biasa. Batik Indonesia motifnya perpaduan antara batik keraton dan pesisiran. Selain Batik Indonesia, Batik China juga menarik, warnanya dominan cerah. Coraknya jelas dipengaruhi budaya Negeri Tirai Bambu.

Beberapa kain batik juga berasal dari daerah yang selama ini tak dikenal sebagai produsen utama seperti Kudus, Jambi dan Banyumas. Konon pengrajin batin di daerah-daerah tersebut langka bahkan punah. Sayang sekali jika hal itu benar-benar terjadi. Koleksi lain yang tak kalah menarik adalah batik dari Pekalongan, Lasem, Madura dan Cirebon.

Ada beberapa koleksi unik, salah satunya Batik Tiga Negeri. Dinamai seperti itu karena terdiri atas tiga warna berbeda, merah, biru dan cokelat. Yang menarik pemberian warna biru dilakukan di Pekalongan, warna merah di Lasem dan warna cokelat di Solo. Yang tak kalah unik adalah batik bermotif Perang Diponegoro dan Snow White alias Putri Salju. Sayangnya seluruh koleksi luar biasa itu tidak boleh difoto. Ini peraturan baku yang tidak boleh dilanggar pengunjung. Kamera hanya boleh beraksi di ruang bagian belakang, tempat para pekerja Danar Hadi memproduksi kain batik.

IMG_0979  IMG_0992  IMG_1023

IMG_1002 IMG_1017  IMG_1033

Dalam tur selama hampir 1,5 jam itu kami juga diberi penjelasan mengenai cara pembuatan batik. Benar-benar rumit dan butuh ketelatenan. Itulah sebabnya batik tulis dibanderol sangat tinggi. Proses penggambaran pola, penempelan “malam” di kain hingga perwarnaan bisa memakan waktu bulanan. Itu hanya untuk satu kain. Tak heran, banderol batik tulis bisa mencapai jutaan rumah.

Di akhir kunjungan, kami bertiga berkesempatan melihat langsung proses pembuatan batik, baik tulis maupun cetak. Jumlah pekerja di sana lebih dari 100 orang, berasal dari Solo dan sekitarnya. Ada yang masih muda, namun ada juga yang sudah bekerja di sana puluhan tahun. Salah satunya Bu Sapidah, 72 tahun, asal Bayat, Klaten. Dia mengaku sudah 42 tahun bekerja sebagai pembatik, termasuk di Danar Hadi. Meskipun usianya sudah senja, Bu Sapidah belum kepikiran untuk pensiun. Dia ngaku menikmati hari-harinya saat menggeluti batik, meskipun hasil yang didapatkannya dari profesi tersebut tak seberapa.

“Para pembatik memang rentan menghirup udara yang kurang sehat dari proses membantik. Tapi mereka juga tidak mau saat diminta memakai masker, padahal sudah disediakan gratis. Untuk menetralisir racun yang masuk ke tubuh, setiap pagi para pekerja mendapat segelas susu,” ujar Mas Najib.

IMG_1040    IMG_1035     IMG_1036

Foto by : Krisna Kartika dan Yusmei

Info :

Jadwal Buka Museum

Senin – Minggu pk 09.00 – 16.30 WIB

Harga Tiket

Domestik & Mancanegara: Rp. 25.000

Pelajar dan mahasiswa : Rp. 15.000

Solo, Januari 2013

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

2 Responses to Museum Batik Danar Hadi : Sebuah Refleksi Cinta

  1. Krisna says:

    kereeeen mbakk….aku mau kesana lagii,,

  2. Mariiii berangkat….ada yang kurang ki keterangannya….foto2 by Krisna Kartika Sari🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: